Lisus Impian Perubahan di PSSI

Abu Nadhif - Dokumen Solopos
30 Januari 2019 10:00 WIB Abu Nadhif Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (28/1/2019). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Dua jurnalis Washington Post, Bob Woodward dan Carl Berstein, pada 1972 mengungkap skandal Watergate yang mengakibatkan Presiden Amerika Serikat Ricard Nixon mundur.

Kerja keras dua jurnalis yang sebenarnya tidak akur secara pribadi itu sukses membongkar borok Nixon selaku calon presiden petahana yang ingin menjegal lawan politiknya. Dari kisah menggegerkan ini lahirlah film All the President’s Men yang legendaris.

Pada 2002, tim Spotlight Harian The Boston Globe membongkar skandal pelecehan seksual yang dilakukan puluhan pastur di Boston, Amerika Serikat. Terbongkarnya aksi bejat yang berlangsung puluhan tahun itu mengakibatkan Uskup Agung Boston, Kardinal Bernard Law, mundur dari jabatannya.

Kisah ini difilmkan pada 2015 dengan judul Spotlight yang diambil dari nama tim investigasi The Boston Globe. Sebenarnya banyak kisah wartawan membongkar kebobrokan melalui kerja jurnalistik investigasi mereka. Dua kisah ini menurut saya paling fenomenal.

Sebagai jurnalis sekaligus penggemar sepak bola, saya mendukung penuh Najwa Shihab dan timnya mengobok-obok Perserikatan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Aroma busuk di tubuh federasi sepak bola Indonesia tercium sejak dua dekade lalu.

Selama itu pula prestasi sulit diraih meski ratusan talenta hebat bergantian datang dan pergi. Di balik tiga kali acara gelar wicara PSSI Bisa Apa, Nana--panggilan Najwa Shibab--melakukan langkah-langkah investigasi untuk mendapatkan data kebobrokan PSSI.

Sebelum Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti-Mafia Bola, Nana sudah menemui sang jenderal dengan segepok data. Data itu ia peroleh seusai menemui banyak orang-- di lingkar dalam PSSI maupun di luar federasi--yang punya semangat memerangi mafia sepak bola.

Menangkap 11 Tersangka

Dari banyak orang itulah dokumen-dokumen yang selama ini terbilang langka berhasil diperoleh. Berbekal data-data tersebut Satgas Anti-Mafia Bola menangkap 11 tersangka pengatur skor pertandingan di Liga 2 dan Liga 3.

Sebulan bekerja, satgas menangani empat kasus dengan tiga perkara di antaranya melibatkan orang dalam federasi. Petinggi PSSI yang ditangkap yakni Johar Lin Eng (anggota Komite Eksekutif), Dwi Irianto (anggota Komisi Disiplin), dan Mansyur Lestaluhu (anggota staf Departemen Wasit). Beberapa orang lain dalam bidikan.

Kerja jurnalistik Najwa Shihab layak diapresiasi. Ia berhasil membuka pintu pengusutan kebobrokan PSSI. Selama ini sangat sulit membongkar kebobrokan PSSI.

Sulitnya menyentuh PSSI karena para pengurusnya selalu berlindung di balik statuta FIFA. Komplotan di PSSI mampu membungkam para pemilik suara sehingga hanya sedikit yang berani buka suara.

Simak saja kongres tahunan PSSI di Bali pekan lalu. Meski menjadi isu nasional, kasus pengaturan skor sama sekali tidak dibahas. Agenda yang muncul justru ”kudeta” terhadap sang ketua umum, Edy Rahmayadi.

Sebelum mundur, Edy mendukung pengusutan mafia sepak bola oleh Satgas Anti-Mafia Bola. Tepuk tangan yang mengiringi pernyataan mundur Edy terdengar seperti kor kemenangan mereka yang selama ini mencari hidup dari mempermainkan sepak bola.

Edy mundur hanya sehari setelah ia menegaskan tak akan pernah meninggalkan PSSI. Para pemilik suara tertunduk lesu di bawah kuasa besar petinggi PSSI. Mereka seperti kompak bersama-sama menutupi kebusukan federasi.

Seolah-olah ada yang tidak boleh disentuh orang luar, termasuk jutaan orang penggila sepak bola yang rindu prestasi. Publik akhirnya menyaksikan yang terjadi di tubuh PSSI hanyalah rotasi, bukan revolusi.

Jangan Hanya Permukaan

Edy menyerahkan jabatan kepada Djoko Driyono, orang lama di PSSI. Lelaki asal Ngawi, Jawa Timur, tersebut sudah dua dekade di PSSI, sejak era kepemimpinan Azwar Anas.

Kehadiran Satgas Anti-Mafia Bola jangan hanya jadi sejarah pembersih permukaan kolam kotor PSSI. Satgas harus didukung agar bisa masuk ke dalam kolam dan membersihkan ikan-ikan kotor di dalamnya.

Gelombang perubahan sepak bola Indonesia yang diawali kerja jurnalistik Najwa Shibab adalah angin segar menuju prestasi dunia. Prestasi baru bisa diraih jika ada manajemen yang baik di federasi.

Manajemen yang baik hanya bisa dibentuk kalau orang-orang di PSSI punya integritas. Satgas harus didukung penuh. Orang-orang dalam PSSI yang masih punya integritas wajib memberikan data kebusukan orang-orang yang selama ini bersekongkol dengan mafia bola.

Kolam kotor PSSI harus dibersihkan total. Setelah kolamnya bersih, barulah dimasukkan ikan-ikan yang bersih. Pembersihan PSSI oleh satgas bisa menjadi awal yang baik untuk mengelola federasi sepak bola Indonesia.

Jika satgas mampu memenjarakan semua yang terlibat dalam mafia sepak bola pasti ada efek positif pada masa mendatang. Para mafia bola takkan berani mendekat. Para pengatur pertandingan bakal tiarap.

Jika itu terjadi, sepak bola benar-benar menjadi football family tanpa direcoki permainan tak jujur. Tidak salah publik sepak bola berharap pada kerja jurnalistik Najwa Shibab dan langkah hukum polisi.

Daya Ledak

Pengurus PSSI sama sekali tidak bisa diharapkan untuk membersihkan keborokan di internal mereka. Penyakit di tubuh PSSI benar-benar akut. Kita yang berada di luar federasi selama ini hanya bisa berteriak tanpa bisa mengubah apa pun.

Perubahan di PSSI menjadi hak para pemilik suara yang terdiri atas pemilik klub dan pengurus PSSI daerah. Sekencang apa pun suara di luar tidak akan berarti apa-apa jika pemilik suara itu masih dikendalikan mafia.

Para suporter dan penggemar sepak bola bisa menjadi daya ledak. Kita bisa menjadi kelompok penekan yang membuat pemilik suara PSSI yang masih punya nurani untuk berteriak di dalam federasi.

Termasuk dalam kelompok penekan ini adalah media dan wartawan. Lisus perubahan berembus kencang. Ini momentum langka. Jangan sampai meredup lagi dan hilang.