Pesimisme Merebak, Provinsi-Provinsi Tiongkok Kurangi Target Pertumbuhan Ekonomi

Seorang warga bersepeda di dekat proyek pembangunan properti di kawasan pusat bisnis di Beijing, Tiongkok. Foto diambil pada 18 Januari 2019 lalu. - JIBI/Solopos/Reuters
30 Januari 2019 07:40 WIB R Bambang Aris Sasangka Internasional Share :

Solopos.com, BEIJING – Makin banyak provinsi di Tiongkok yang mengurangi target pertumbuhan ekonomi mereka pada 2019 ini dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dinilai sebagai wujud makin merebaknya pesimisme di kalangan pemerintah daerah akibat melemahnya permintaan domestik dan kondisi perang dagang Tiongkok-AS yang berkepanjangan.

Pemotongan target pertumbuhan ini seperti dilaporkan pada Selasa (29/1/2019) juga memperkuat prakiraan soal terus menurunnya kondisi perekonomian di negara berperekonomian terbesar kedua di dunia itu pada 2019 ini. Sebelumnya pada 2018, produk domestik bruto Tiongkok tumbuh pada tingkat yang paling rendah dalam waktu tiga dekade terakhir.

Dari 31 provinsi, wilayah, dan kota di Tiongkok, setidaknya 23 menurunkan target pertumbuhan ekonomi mereka tahun ini seperti terlihat dalam pernyataan-pernyataan yang disampaikan pemerintah provinsi-provinsi itu pada Januari ini. Pada 2018, ada 17 provinsi yang menurunkan target mereka.

Shandong, provinsi terkaya ketiga Tiongkok, hingga kini masih belum mempublikasikan target perekonomian 2019 mereka. Hanya lima provinsi yaitu Sichuan, Hebei, Guizhou, Gansu, dan Hainan yang tidak mengubah target mereka yang sama dengan target tahun lalu. Padahal pada 2018 silam ada 12 provinsi yang mempertahankan target pertumbuhan ekonomi mereka.

Satu-satunya provinsi yang menaikkan target hanya Hubei. Keberanian menaikkan target ini dipicu pertumbuhan sektor manufaktur teknologi tinggi.

“Target pertumbuhan yang dipatok provinsi-provinsi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi Tiongkok. Wilayah-wilayah pesisir yang mengandalkan sektor ekspor kini menghadapi risiko pertumbuhan yang lebih rendah akibat ketidakpastian dari perang dagang AS-Tiongkok,” kata Tommy Xie, ekonom pengamat Tiongkok di Bank OCBC Singapura. “ “Tiongkok wilayah barat akan terus menjadi sumber pertumbuhan inti karena masih meningkatnya konsumsi dan jasa,” imbuh Xie.

Revisi target pertumbuhan di tingkat daerah ini, lanjut Xie, juga bakal berdampak pada penetapan target pertumbuhan ekonomi nasional Tiongkok. Tiongkok diperkirakan bakal mematok target pertumbuhan lebih rendah tahun ini, kemungkinan pada kisaran 6 persen hingga 6,5 persen.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai 6,6 persen tahun lalu, yang menjadi tingkat pertumbuhan terendah sejak 1990-an. Upaya pemerintah selama bertahun-tahun untuk mengendalikan praktik pemberian kredit yang berisiko tinggi berdampak pada penyempitan akses bagi pembiayaan korporat, khususnya bagi perusahaan swasta. Upaya jangka panjang pengendalian polusi dan industri bernilai rendah juga mempengaruhi hasil produksi. Sektor jasa di Tiongkok juga menurun kinerjanya karena para konsumen makin berhati-hati melakukan pembelanjaan dan berdampak pada nilai penjualan ritel yang merosot.

Perang dagang dengan AS juga menghantam para eksportir Tiongkok. Provinsi-provinsi yang mengandalkan ekspor seperti Guangdong, Jiangsu, dan Fujian sama-sama gagal memenuhi traget pertumbuhan mereka pada 2018. Wartawan kantor berita Reuters yang belum lama ini mengunjungi tiga kota pusat perekonomian di wilayah Dongguan, Provinsi Guangdong, melihat adanya bukti-bukti perlambatan ekonomi seperti banyaknya toko dan restoran yang tutup, pabrik yang tak beraktivitas, dan banyak bangunan tempat usaha yang disewakan.

Sumber : Reuters