Sejarah Hari Ini: 29 Januari 661, Ali bin Abi Thalib Meninggal Dunia

Kaligrafi huruf hijaiah berbunyi Ali Radhiallahu'anhu. (Wikimedia.org)
29 Januari 2019 00:20 WIB Ginanjar Saputra Internasional Share :

Solopos.com, SOLO — Ali bin Abi Thalib meninggal dunia setelah dirinya diserang Abdurrahman bin Muljam saat sedang salat di Masjid Agung Kufah di Kufa, Irak, 29 Januari 661, berdasarkan sistem kalender Gregorian. Ali adalah sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad. Ia merupakan khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin yang memimpin sejak 656.

Selain itu, masih banyak peristiwa bersejarah lainnya yang terjadi pada 29 Januari setiap tahunnya. Dihimpun dari Thepeoplehistory.com dan Wikipedia.org, berikut Solopos.com menyajikan sejumlah peristiwa bersejarah pada 29 Januari yang dirangkum dalam Sejarah Hari Ini:

661
Ali bin Abi Thalib meninggal dunia setelah dirinya diserang Abdurrahman bin Muljam saat sedang salat di Masjid Agung Kufah di Kufa, Irak. Dia mengalami sayatan pedang yang diracuni Abdurrahman bin Muljam saat sedang bersujud ketika salat subuh. Berdasarkan sistem Kalender Hijriah, Ali meninggal dunia pada 21 Ramadan 40 Hijriah. Ali adalah sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad. Ia merupakan khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin yang memimpin sejak 656.

1258
Pasukan Dai Viet mengalahkan pasukan Mongol dalam pertempuran Dong Bo Dau dan memaksa pasukan Mongol mundur dari negeri wilayah Dai Viet. Peristiwa itu terjadi di masa Invasi I Mongol ke Dai Viet. Wilayah Dai Viet kini dikenal sebagai Vietnam.

1676
Feodor III Alekseyevic ditetapkan sebagai tsar Rusia kala umurnya baru menginjak 15 tahun. Feodor III dikenal sebagai bangsawan yang cerdas dan menguasai bahasa Latin dan Polandia. Namun demikian, Feodor mengalami cacat tubuh sejak lahir dan mengalami kelumpuhan di separuh tubuhnya. Feodor memimpin Rusia hingga dirinya meninggal dunia di usia 20 tahun, pada 7 Mei 1682.

1814
Pasukan Prancis pimpinan Napoleon Bonaparte mengalahkan pasukan Rusia dan Prusia yang dipimpin Gebhard von Blucher di Brienne-le-Chateau, Prancis. Kemenangan itu diraih setelah pasukan Prancis melakukan pengepungan di malam sebelumnya dan berhasil menangkap Gebhard von Blucher.

1856
Ratu Inggris, Victoria, mengeluarkan surat perintah yang menetapkan penganugerahan bintang jasa Victoria Cross bagi prajurit Inggris yang terlibat Perang Krimea. Perang Krimea adalah perang antara Inggris, Prancis, Ottoman, dan Sardinia melawan Rusia dan Bulgaria. Perang tersebut berlangsung kurang lebih tiga tahujn dan berakhir dengan kemenangan Inggris dan sekutunya.Tak kurang dari 200.000 orang tewas dalam perang tersebut.

1863
Pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) yang dipimpin Kolonel Patrick Edward Connor menyerang suku Indian Shoshone di Sungai Beruang, Washington Territory atau kini Idaho. Serangan itu menewaskan ratusan orang Indian Shoshone, termasuk perempuan dan anak-anak. Peristiwa tragis itu kini dikenang dengan sebutan Pembantaian Sungai Beruang.

Gambar contoh bentuk zeppelin. (Wikimedia.org)
1916
Jerman untuk kali pertama menggunakan zeppelin—balon udara berbentuk cerutu raksasa yang dapat terbang terarah karena mempunyai mesin dan kemudi—untuk menyerang Prancis. Salah satu serangan Jerman di masa Perang Dunia I itu menyasar ibu kota Prancis, Paris.

1933
Presiden Jerman Paul von Hindenburg melantik Adolf Hitler sebagai Kanselir Jerman. Hitler kemudian bukan hanya menjadi kanselir, namun sekaligus memangku tanggung jawab sebagai presiden pada 1933 sampai 1945 dengan gelar Furher. Hitler kerap dianggap sebagai tokoh utama Jerman Nazi, Perang Dunia II di Eropa, serta Holokaus.

1943
Pertempuran antara pasukan Sekutu dan pasukan Jepang meletus di Pulau Rennell, Kepulauan Solomon. Pertempuran itu berlangsung selama dua hari dan berakhir dengan kemenangan Jepang. Sekutu harus kehilangan satu kapal penjelajah yang tenggelam serta 85 prajurit yang tewas. Sedangkan Jepang yang berhasil mengalahkan Sekutu harus rela kehilangan 12 pesawat terbangnya yang hancur.

Panglima besar pertama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Soedirman. (Wikimedia.org)
1950
Panglima besar pertama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Soedirman, meninggal dunia pada usia 34 tahun di Magelang, Jawa Tengah (Jateng). Menjelang meninggal, Soedirman diketahui menderita Tuberculosis. Sebelum menjadi panglima TKR, Soedirman pernah bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (Peta) yang disponsori Jepang pada 1944 dan menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.