Solo Kuburan Seni Rupa?

Fadjar Sutardi - Dokumen Solopos
28 Januari 2019 20:56 WIB Fadjar Sutardi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (26/1/2019). Esai ini karya Fadjar Sutardi, pengajar seni di Rumah Langit Kebun Bumi di Kabupaten Sragen. Alamat e-mail penulis adalah fajarredisutta_bumipranata@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Ada anggapan di kalangan masyarakat seni luar Solo, dengan serius atau guyonan, bahwa Solo bukan kota seni rupa. Solo sekarang menjadi kuburan seni rupa. Solo kota yang sunyi, sepi, dan menyeramkan bagi seni rupa.

Berbagai pameran sebenarnya sering dan terus digelar. Usaha pelelangan lukisan mulai digelar, tetapi belum bergaung sampai luar kota. Solo seakan-akan tak punya mimpi bagi tumbuh dan hidupnya seni rupa.

Para pencinta seni rupa belum mau tahu atau belum peduli dengan dinamika kesenirupaan di Solo yang kosong, mati, dan tak bergeliat, walau mereka berasal dan besar di Kota Solo. Mereka terkadang malah sepakat dengan ejekan Solo menjadi kuburan seni rupa.

Berbeda dengan era 1980-an sampai 1990-an. Kala itu Solo menjadi tempat singgah bagi siapa pun yang respek kepada kesenirupaaan. Solo kini tampak tak bergerak, tak gelisah, tak bernapas, tak berapi. Kalangan seniman banyak yang tak betah ngendon di Solo.

Lembaga resmi kesenirupaan juga belum atau tidak menjadi pusat gerakan dan kreativitas. Para perupa sepuh banyak yang berpulang, yang muda tak juga mau dan mampu menghidupkan Solo yang konon sebagai kota kesenian, kota kebudayaan, sebagai simbol peradaban modern.

Mengapa sampai sedemikian angker dan ngeri: Solo sebagai kuburan seni rupa? Berbagai diskusi tentang Solo dan seni rupa bak ditelan bumi, menghilang tak berbekas. Apakah perupa putus asa dan berserah kepada keadaan? Benarkah Solo menjadi kuburan seni rupa?

Putut W. Pramono saat saya temui di sela-sela pameran tunggal dengan tajuk Anomali Hitam Putih di lobi Galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah di Solo atau Taman Budaya Surakarta (TBS) beberapa hari lalu mengatakan pamerannya sebagai media zikir dan tafakur perjalanan pribadinya.

Mengagetkan

Ia juga ingin menepis kesan Solo sebagai kuburan seni rupa. Anggapan Solo kuburan seni rupa tidaklah benar. Putut sebagai perupa gaek di Solo telah melanglang buana di seantero belahan bumi. Ketika saya melihat dan menikmati karya-karya yang digelar di dua galeri TBS, sungguh mengagetkan.

Karya-karya dua dimensi ukuran besar dan instalasi cukup menunjukkan apa yang menjadi niat Putut. Pameran perjalanan 40 tahun Putut ini ternyata tak hanya pameran kekaryaan biasa, tak hanya pameran menjelang pensiun, tak hanya pameran gagah-gagahan agar karya-karya dia diapresiasi publik umum atau para kolektor.

Pameran Anomali Hitam Putih, menurut Putut, sebagai pertanyaan dan pernyataan sekaligus perlawanan atas matinya Solo sebagai pusat kebudayaan. Tentu perlawanan yang dia gagas tak seperti perlawanan politik praktis.

Ia membangun perlawanan batin. Perlawanan dengan karya yang berisi, yang bermakna, dan tentu karya yang berdaya kejut bagi siapa pun yang menonton yang saat ini sedang dipamerkan di TBS sampai 30 Jauari 2019.

Putut adalah perupa asal Sragen. Ia dikenal sebagai orang yang keras, pribadi yang tak puas terhadap keadaan, memiliki jiwa bebas tetapi tetap bisa menghargai sesama perupa. Perjalanan 40 tahun bukan waktu yang sekejap. Perjalanan panjang yang menghasilkan nilai-nilai.

Nilai-nilai yang dicari dan ditempuh tak sekadar menghabiskan umur. Nilai-nilai yang dicari ialah kesenian yang berbasis kesadaran, kemanusiaan, kebenaran, dan penghormatan terhadap titik tolak hidup berkesenian, yakni nilai keluhuran yang  bersumber lokalitas budaya yang melatarbelakangi hidup dan kehidupan, yakni Solo.

Sepengetahuan saya, Putut memang termasuk manusia yang tak kenal lelah, tak kenal kompromi ruang dan waktu, tak kompromi dengan apa dan siapa pun, tak juga terjatuh pada kubangan juragan-juragan kesenian.

Putut tak katut pada jalan tol kesenian yang ujungnya kemewahan uang dan kepopuleran yang relatif semu. Ia menyandarkan kesenian dengan runtut, urut, sesuai akal sehat. Pameran tunggal dengan menggelar lebih kurang 20 karya lukisan dan karya instalasi ini sungguh menarik untuk disimak dan direnungkan mendalam.

Kanker

Betapa tidak. Di tengah-tengah Putut mengalami sakit kanker tenggorokan atau kanker laringial yang menyebabkan sulit menelan, sering batuk-batuk berdarah, dan susah untuk bersuara apalagi berbicara, Putut justru mengalami ekstase dari dalam jiwanya.

Sakit bukan halangan. Putut berkisah tentang sakitnya. Ia mulai sakit  setelah pulang dari Bangkok dalam suatu acara workshop dan pameran dua tahun yang lalu. Ia berkelakar tentang sakitnya kepada saya dengan menulis,”Aku lara ora isa nyuwara, amarga kena kanker pita suara, sujokne aku dudu penyanyi”.

Walau sakit dan pernah koma, Putut terus  berkarya dengan semangat makantar-kantar sekaligus sebagai media meditatif dengan Tuhan, alam, dan kemanusiaan. Pameran Putut kali ini bila diurai setidaknya ada tiga pendakian zikir jiwa raganya yang menyuarakan kesadaran keragaan dan kejiwaan yang menumbuhkan Putut sebagai perupa yang budayawan.

Pertama, nilai spiritualitas pribadi yang dinamakan zikir lukisan. Putut yang selalu mantul (mantap betul) dalam menjalankan kesenian dengan total telah menemukan dan mencoba menumbuhkan nilai-nilai keagungan, kemuliaan, yang bersandar pada keilahian.

Semburan cat pada kanvas besar, goresan liar pensil arang yang garang, konsentrasi tone hitam dan putih yang dianggap bukan bagian dari warna oleh Putut dijadikan media tantangan yang menggairahkan. Hitam putih merupakan makam pencapaian atas ekstase batin yang dipersembahkan kepada Tuhan.

Karya-karya hitam putih ukuran besar itu mengingatkan pada karya Sunaryo, Pirous, Hanafi, atau Sardono W. Kusumo yang sama seukur setujuan sebagai medan zikir. Putut memang piawai dalam menerjemahkan keilahian yang mengagumkan ke dalam karya-karya dia.

Meminjam istilah Widayat, karya yang ada ”greng-nya”. Dari sana Putut tumbuh pada ingatan-ingatan tentang makna semesta kosmos, baik yang berurusan dengan kosmos pribadi dan kosmos alam semesta raya. Kesan saya, Putut dengan lukisannya memang telah  men-Tuhan.

Kemanusiaan Universal

Kedua, zikir kemanusiaan. Putut dengan karyanya berusaha melawan kepincangan, keanehan, dan kelainan akut yang terjadi pada masyarakat dewasa ini. Masyarakat mulai meninggalkan nilai-nilai kebenaran kemanusiaan universal.

Masyarakat umum dijangkiti penyakit pragmatisme yang berbahaya. Mereka, kata Putut, mulai kehilangan ”rasa” dan jatuh pada kehidupan yang mematikan nurani atau rasa. Zikir kemanusiaan Putut tampak pada seluruh karya yang menyandarkan kepada pesan-pesan agung yang termaktub dalam Serat Kalatidha, karya besar Ronggawarsita.

Setiap karya mengarah pada pembumian spiritual dan melangitkan realitas semu yang menjangkiti manusia modern. Karya Putut memang tak terpisahkan antara satu karya dengan lainnya. Dua galeri dipenuhi karya yang menyatu dalam zikir Putut ketika sedang mencari, menemukan, dan mengabdi pada hidup dan kehidupan agung ini.

Kritik pada keanehan, kepincangan, dan kelainan yang bersifat akut pada masyarakat yang melahirkan  anomaly yang aneh dan  tidak jelas juntrungannya. Lewat karya Putut, masyarakat umum seakan-akan menjadi bongkahan-bongkahan sosial yang membatu dan absurd.

Absurditas sosial yang terjadi melahirkan kumpulan sosioekonomi, politik, dan kekuasaan yang keras dan rapuh. Kuat tapi tak ada sinergi. Tak juga ada nilai yang menumbuhkan kesadaran. Masyarakat seperti terjebak pada suasana bukan bebas nilai, tetapi memang tak ada nilai.

Oleh Putut kemudian disuarakan dengan kesantunan melalui  tembang dan bait-bait Serat Kalatidha, misalnya pada karya berjudul Anomali Carik. Putut membubuhkan tembang sebagai tanda semiotis seperti isyarat; korup karepe ngaurip, ritane si Jayengbaya, pantaran mung wuk ing nggawe, dumadi anda andina,trustha traping sambawa, sabda sadu wedalnya dur, cukup telu belah pada dan seterusnya.

Pada karya berjudul Anomali Among Tani, Putut mengisyaratkan gambaran masyarakat dari tingkatan yang paling atas sampai paling bawah. Rakyat jelata mengalami hidup dengan absurditas-absurditas, persis pupuh demi pupuh karya Ronggawarsita tersebut.

Walau masih banyak orang yang percaya dalam absurditas akan ditemukan kebenaran yang mengantarkan keselamatan dan kebahagiaan, tetapi pada larik pupuh zaman edan yang digambarkan Ronggawarsita seperti  isyarat kata; kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, wadon ilang wadine, lanangan ilang kaprawirane, negari ilang tatanane.

Antitesis

Oleh Putut atau siapa pun yang mencari kebenaran dapat dijadikan antitesis setelah tesis pembangunan bahwa perubahan dan kemakmuran terbukti makin jauh dari kenyataan sebenarnya.

Putut  dalam hal ini sudah memegang dan menemukan entitas-entitas pengembaraan yang seakan-akan sesuai dengan kehendak Sang Adikodrati, bukan sang adihawanafsani yang menjerumuskan kepada nihilisme hidup yang dirasakan sebagai kematian.

Lewat zikir kamanusiaan visual, Putut mengkritik kita semua setelah ia masuk ke alam kosmos yang menikmatkan jiwa. Putut mengatakan tentang hilangnya kemanusiaan yang adil dan beradab dan hilangnya kebenaran tunggal yang dahulu diemi-emi oleh masyarakat bawah.

Ketiga, zikir mikrokosmos dan makrokosmos. Melalui karya instalasi,  Putut ngedan dan protes. Karya instalasi tersebut sungguh mengejutkan saya dengan judul Disforestation.

Ratusan batang pohon jadi korban penebangan liar tanpa tersisa dan tanpa tebang pilih. Besar kecil ditebang sebagai gambaran keserakahan kekuasaan.

Pembakaran demi pembakaran hutan tak terelakkan. Pohon-pohon berwarna hitam. Sampah  daun-daun berserakan menampakkan kerusakan hutan secara dahsyat.

Poster-poster blabag kayu doya berupa narasi agitatif terpasang, tergantung pada sisi-sisi dinding galeri, yang mengisyaratkan perlawanan dengan data-data riset dari lembaga tertentu.

Paru-Paru Dunia

Disforestation sebagai karya khas Putut mengingatkan kita betapa paru-paru dunia dahulu berada di Indonesia. Penebangan hutan yang dianggap investasi untuk pembangunan ekonomi yang ditumpangi kerakusan politik yang merugikan ekosistem menghilangkan keseimbangan bumi.

Disforestation menarasikan ketika 85% hutan habis dan para penggawa hutan tak menyadari bahaya negara yang tak memiliki hutan lagi. Ketidakseimbangan dalam mengelola alam sebagai penanda bahwa akal sehat tidak berjalan semestinya.

Putut ingin mengatakan kepada siapa pun yang merasa hidup di tanah dan di air agar tak melakukan kesalahan-kesalahan dan dosa kepada Tuhan pemilik sah alam semesta ini.

Tanah dan air negeri ini seperti meraung menanggung beban absurditas bangsa yang melupakan kecerdasan rasa. Tak ada nyanyian, tak ada pantun, tak ada tembang dalam ruang galeri kecil.

Yang ada hanya ajakan perenungan untuk kembali merekontruksi keseimbangan yang tercabik, kemakmuran yang d jarah, dan keadilan yang tak ditempa.

Bangsa ini terjangkit penyakit lupa atau pura-pura lupa sebab kekuasaan yang menggiurkan dan mungkin juga karena tekanan bangsa lain. Pameran tunggal karya Putut sepertinya  bisa menggugah alam bawah sadar kita semua.

Sakitnya Putut tak hanya karena kanker laringial, tetapi rupanya sakit juga ketika jiwa dan pikirannya melihat tatanan masyarakat yang makin jauh dari kemuliaan.Putut marah dengan mengajak merenung agar siapa pun tak menyimpangkan akal sehat. Sekali lagi, pameran karya Putut tak sekadar pameran biasa.

Zikir-zikir Putut melalui pameran Anomali Hitam Putih benar benar menjadi medan sinau bagi siapa pun yang memilih jalan hidup sebagai perupa atau seniman. Perupa yang mengutamakan dan mengunggulkan konsep dengan pendekatan riset menjadi sesuatu yang wow...