Regar Sport Indonesia, Komunitas Tanpa Takut Gagal

Jumariyanto (kiri) saat talkshow di Solopos FM, Jumat (25/1 - 2019). (Solopos)
25 Januari 2019 20:41 WIB Cahyadi Kurniawan Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Gagal itu lumrah. Lazim terjadi dan dialami setiap orang. Yang utama adalah bagaimana belajar dari kegagalan dan menyiapkan satu dorongan baru sekali lagi. Hanya butuh sekali lagi!

Begitu kata Jumariyanto, 37, pemilik Regar Sport Industri Indonesia, saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Pokoh, Wonogiri, Kamis (23/1). Menurut dia, gagal adalah lumrah. Ia sendiri mengalaminya berulang kali hingga tiba pada pencapainnya hari ini.

Ia menilai ada dua jenis kegagalan yang perlu diketahui, yakni kegagalan personal dan kegagalan technical. Kegagalan personal (personal fault) adalah kegagalan yang bersifat pribadi dalam diri sendiri. Tidak ada yang bisa mengubah kegagalan personal ini selain dirinya sendiri.

Kegagalan ini misalnya rasa takut, minder atau malu. “Solusinya ya hanya satu orang itu jangan takut, jangan malu, jangan minder. Enggak ada istilah setengah takut atau setengah malu,”kata dia.

Sedangkan, kegagalan technical (technical fault) adalah kegagalan yang bersifat teknis. Kegagalan jenis ini misalnya kemampuan menggunakan teknologi, teknik memotong, teknik memproduksi produk dengan kualitas terbaik. Kegagalan technical bisa mendapatkan solusi dengan meminta bantuan pihak lain atau pihak di luar diri sendiri.

Cutting misalnya, memotong kain itu harus menyesuaikan serat. Memotong pola harus menyisakan ruang satu sentimeter untuk obras. Semakin cepat mengalami kesalahan, semakin cepat bisa. Itu kegagalan teknik,” imbuhnya.

Kendati demikian, lanjut Jumariyanto, orang kerap mencampuradukkan kegagalan personal dengan kegagalan technical. Akibatnya, orang stuck dan memutuskan berhenti bergerak. Konsep ini lantas dimaknai sebagai gagal oleh banyak orang hari ini.

Gagal bukan sukses yang tertunda

Foto: Karyawan Regar Sport Indonesia di Wonogiri (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Oleh sebab itu, ia meyakini, kegagalan bukanlah sukses yang tertunda. Dari kegagalan, ada sejumlah instrumen yang bisa dilakukan analisis untuk menentukan langkah selanjutnya.

Jika orang merasa gagal pada upaya kali ketiganya, maka perlu diperiksa, apakah kuota upaya itu sudah mencapai minimum terjadi peluang atau belum. Jika belum, langkah berikutnya adalah menambah kuota. “Analisanya jelas. Kuota saja belum terpenuhi. Untuk memenuhi peluang terendah saja mustahil,” tutur dia.

Tak hanya itu, jika kuota terpenuhi misalnya pelayanan kepada 100 orang dan tanpa hasil. Analisa berikutnya adalah apakah segmen yang dipilih tepat sasaran? Bisa jadi pelayanan kepada orang ke-200 tetap tanpa hasil lantaran salah sasaran. Maka langkah berikutnya adalah mengubah sasaran.

“Pada level ini biasanya orang lupa membuat dokumentasi. Sejak awal memulai bisnis, upayakan melakukan persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dokumentasi ada di pelaksanaan dan evaluasi. Lakukan sehari sekali,” beber dia.

Dari konsep itu munculah jargon “joss people”. Huruf /s/ terakhir dimaknai dengan sekali lagi. Artinya, jika menemui kegagalan, hanya satu jawabnya, sekali lagi. Sekali lagi adalah antitesis dari kegagalan. “Maksudnya, kalau gagal, hanya perlu sekali lagi usaha. Gagal lagi, sekali lagi upaya. Begitu seterusnya, enggak perlu dua kali, tiga kali apalagi seribu kali. Satu upaya sekali lagi bisa mengubah rapor, mengubah lokus fokus masalah. Begitu pula saat sukses, hanya perlu sekali lagi sukses, sekali lagi sukses. Ini hanya kekuatan pikiran,” terang Jumariyanto.

Seribu Reseller

Foto: Karyawan Regar Sport Indonesia di Wonogiri (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Regar Sport Industri Indonesia sedang membuka peluang menjadi bagian dari komunitas tanpa takut gagal, yakni menjadi reseller Regar Sport. Jumariyanto memastikan tidak ada batasan usia, wilayah, hingga latar belakang untuk bergabung. “Prinsipnya hanya satu: satu orang, satu alat, satu genre. Pilih genre satu dari tujuh yang ada, lalu bergabunglah,” terang dia.

Ia menjamin reseller dengan enam jaminan mulai dari harga, keuntungan, hingga garansi 100 persen. Harga produk yang ditawarkan Regar Sport sudah memperhitungkan laba reseller sehingga manajemen menjamin keuntungan reseller.

Manajmen juga melindungi pasar reseller. “Kalau ada user datang ke manajemen ingin pesan kaos. Manajemen akan mengarahkan ke agen atau reseller. Dengan begitu reseller tetap hidup. Kalau ada salah pola, warna, dan sebagainya karena kesalahan manajemen, pesanan bisa dibuat ulang semuanya atau kembali uang 100 persen. Yang paling utama adalah bisa dimulai tanpa modal,” terang Jumariyanto.

Ia menjelaskan ada sejumlah skema pengelolaan agen dan reseller yang membuatnya tetap hidup. Salah satunya adalah satu agen, lima customer service dan satu admin data. Dengan konsep itu, satu cs bisa menangani 100 reseller.

Saat berkembang, skema kedua dipakai yakni 10 cs, 1 admin data ditambah 1 admin keuangan. “Indikator berikutnya adalah user didorong menjadi reseller. Reseller bisa mengembangkan manajemen reseller dengan perkembangan yang tidak terbatas,” urai Jumariyanto.