Berani Menjadi Bagian Buku

Retno Winarni - Istimewa
22 Januari 2019 01:00 WIB Retno Winarni Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (16/1/2019). Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah retnowinarnisugiarto@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- ”Berani menjadi bagian dari buku meski hanya satu puisi”. Kalimat itulah yang saya tanamkan pada diri saya sendiri dan kepada siswa-siswa saya saat proses penyusunan buku antologi puisi karya siswa dan guru SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, beberapa waktu lalu.

Pemilihan puisi daripada genre sastra yang lain atas pertimbangan puisi adalah jenis karya sastra yang proses dan waktu pengerjaannya lebih sederhana, lebih singkat, dibandingkan prosa (cerita pendek, novel) dan drama. Meski demikian, menulis puisi pun tidak bisa dianggap mudah.

Tiga buku antologi puisi dicetak dan dibiayai sepenuhnya dengan anggaran sekolah. Pengalokasian anggaran sekolah untuk mendukung gerakan literasi sekolah membutuhkan kepedulian dan niat kuat dari pengambil kebijakan.

Salah satu indikator ketercapaian gerakan literasi sekolah tahap pembiasaan seperti yang disebutkan pada Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas di antaranya sekolah berupaya melibatkan publik (orang tua, alumni, dan elemen masyarakat) untuk mengembangkan kegiatan literasi sekolah dan kepala sekolah dan jajarannya berkomitmen melaksanakan dan mendukung gerakan literasi sekolah (Kemdikbud, 2016: 14).

Komitmen kuat kepala sekolah dan jajarannya di SMAN Kerjo adalah dalam bentuk pengalokasian anggaran untuk pencetakan, pembelian  buku literasi, dan program bulan bahasa. Proses dimulai dari pengumpulan puisi karya siswa per kelas dan kemudian dikumpulkan per jenjang.

Draf tiga buku kumpulan puisi kemudian memasuki tahap penyuntingan, proses pracetak, dan pencetakan di penerbit yang kami pilih. Kami bekerja sama dengan sebuah penerbit independen yang memiliki idealisme kuat mendukung gerakan literasi sekolah.

Pemilihan penerbit independen dengan alasan dari segi pendanaan lebih terjangkau, proses pengerjaan lebih cepat, proses tidak berbelit-belit, dan kualitas buku terjaga. Setelah proses panjang selama kurang lebih dua bulan, tiga buku antologi puisi karya siswa dan guru selesai.

Sejak awal pembahasan anggaran pada rapat rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS), pencetakan buku dimaksudkan untuk koleksi sudut baca kelas dan dibagikan kepada  pimpinan dan perpustakaan SMA negeri/swasta di Kabupaten Karanganyar dan SMP di wilayah Kecamatan Kerjo.

Hal ini adalah bagian dari implementasi gerakan literasi sekolah. Siswa tidak hanya diarahkan membaca tetapi juga menulis. Menulis buku adalah menulis prasasti. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer  bahkan menyebut ”orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Langkah Awal

Buku antologi puisi ini adalah langkah awal mengajari siswa untuk turut serta menulis buku meskipun hanya berupa satu puisi. Hal terpenting yang harus sampai kepada siswa adalah tentang larangan plagiat. Tentang pentingnya menulis karya sendiri.

Merasakan kata demi kata, memilih kalimat, dan merangkai kalimat yang berisi agar menjadi puisi yang indah. Pemahaman tentang pentingnya menjaga keaslian karya harus ditanamkan kuat-kuat kepada siswa.

Lebih berharga dan bermakna puisi lima baris karya sendiri dibandingkan berbait-bait tetapi hasil plagiat. Pendampingan penyusunan karya perlu dilakukan secara khusus. Ini bisa dilakukan saat pelajaran Bahasa Indonesia di kelas dan dilanjutkan siswa di rumah.

Keunggulan kualitas karya siswa barangkali masih perlu dikesampingkan sementara. Target utamanya adalah dokumentasi karya puisi siswa dan ”memaksa”  siswa menulis puisi sebagai ekspresi bersastra bagi mereka.

Salah satu puncak keceriaan proses penyusunan antologi puisi adalah saat peluncuran buku. Peluncuran buku dirancang terintegrasi dalam kegiatan peringatan bulan bahasa. Perayaan bulan bahasa sering kali terabaikan, bahkan memunculkan pertanyaan apa yang dimaksud bulan bahasa?

Peringatan bulan bahasa membawa pesan cinta kepada bahasa Indonesia. Mencintai bahasa Indonesia adalah wujud nasionalisme warga negara. Kecintaan kepada bahasa Indonesia bukan berarti mengabaikan bahasa daerah dan bahasa asing.

Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengampanyekan slogan ”Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing”. Sebelum puncak peringatan bulan bahasa  telah dilaksanakan berbagai macam lomba untuk menggalakkan gerakan literasi di sekolah.

Jenis lomba tersebut antara lain membaca puisi, maca geguritan, story telling, dan musikalisasi puisi. Pemenang lomba kegiatan tersebut berhak tampil pada puncak acara bulan bahasa. Kompetisi antarkelas dan antarsiswa perlu dilakukan dalam bidang literasi untuk mengukur dan memetakan kemampuan siswa.

Dokumentasi Karya Siswa

Jauh sebelum gerakan literasi sekolah digalakkan, SMAN Kerjo telah  berupaya membentuk budaya membaca dan menulis. Produk cetak berupa majalah sekolah dan buletin sekolah telah diterbitkan sejak 2009.

Siswa aktif menulis artikel, hasil liputan, cerita pendek, puisi, humor, karikatur, dan lain sebagainya sebagai bagian dari majalah sekolah. Produk kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik itu meskipun dibagikan secara gratis untuk semua siswa sebagai bagian dari literasi baca belumlah menyentuh semua siswa untuk menjadi penulis aktif.

Siswa baru pada tataran membaca. Terdorong oleh keinginan untuk mendokumentasikan tulisan seluruh siswa dan anggota sekolah maka penyusunan buku antologi puisi diprogramkan. Dokumentasi karya siswa secara sederhana sebenarnya  telah saya laksanakan jauh-jauh hari.

Kumpulan tugas menulis cerita pendek, menulis resensi buku, dan video pementasan drama siswa menjadi koleksi pribadi saya. Memang hanya dalam bentuk  sederhana, tetapi dari sana saya bisa mengetahui potensi menulis siswa dan menjadi pemetaan kemampuan siswa secara jelas.

Cerita menyentuh terjadi setelah buku antologi puisi tercetak sebelum hari puncak peringatan bulan bahasa. Saya membawa satu buku tersebut ke kelas dan mempersilakan siswa untuk meraba, melihat, dan membaca puisi karya mereka.

Saya meminta siswa untuk membaca beberapa  puisi dalam buku tersebut. Apresiasi terhadap puisi tampak dari cara siswa mengabadikan puisi karya mereka dalam foto dan memberi tanggapan atas pembacaan puisi di depan kelas.

Puisi yang ditulis akan menjadi lebih bermakna ketika dibaca lalu dinikmati dan memberi nilai kepada orang yang membaca dan mendengar. Itulah apresiasi puisi pada tahap lanjut.

Kesuksesan menyusun buku antologi puisi memicu saya secara pribadi untuk berani kembali mengajak siswa menyusun buku. Kali ini adalah buku kumpulan cerita pendek. Benar kata Pram,”Menulis adalah sebuah keberanian...”