Krisis Bahan Bakar, 5 Rumah Sakit di Gaza Terancam Berhenti

ACT Indonesia untuk Gaza (Istimewa/ACT Indonesia)
22 Januari 2019 18:10 WIB Septina Arifiani Internasional Share :

Solopos, GAZA - Bukan cerita baru mendengar rumah sakit di Gaza alami krisis bahan bakar. Apalagi kini perekonomian di Gaza semakin memburuk, membuat semua harga-harga barang pokok melonjak tidak terkontrol, terlebih harga bahan bakar. Akibatnya, pasokan bahan bakar untuk rumah sakit di Gaza justru menurun hingga 17%.

Direktur Kerjasama Internasional Kementerian Kesehatan Palestina Dr. Ashraf Abu Mhadi mengungkapkan, pekan lalu Rumah Sakit Beit Hanoun di Gaza Utara berhenti operasi karena kehabisan bahan bakar. RS. Beit Hanoun adalah satu di antara 13 rumah sakit pemerintahan yang mendapat pasokan listrik dari pusat.

“Kebutuhan listrik RS. Beit Hanoun ditopang oleh sumber listrik pusat di Gaza. Jadi, apabila pusat tidak ada listrik, rumah sakit itu pun harus berhenti beroperasi,” kata Dr. Ashraf ketika dirinya berkunjung ke kantor pusat Aksi Cepat Tanggap (ACT) di bilangan Jakarta Selatan pada Senin (21/1/2019).

Bahkan Dr. Ashraf juga menyebutkan dalam lima atau enam hari ke depan ada lima rumah sakit yang terancam berhenti beroperasi sepenuhnya. Lima rumah sakit itu antara lain RS. Anak Nasr, RS. Anak Rantissi, Rumah Sakit Mata Al-Uyun, Rumah Sakit Jiwa, dan Rumah Sakit Abu Yusuf Najjar.

“Situasi yang kami hadapi tidak mudah. Apabila satu rumah sakit kehabisan bahan bakar, kami berusaha memindahkan para pasien ke rumah sakit lain, itu tentu akan meningkatkan konsumsi bahan bakar di rumah sakit di mana pasien dipindahkan. Namun, jika tidak dipindahkan, mereka akan menderita akibat kurangnya bahan bakar,” papar Dr. Ashraf.

Di awal pekan ketiga Januari, Al Jazeera menuliskan tentang kisah Sufian Salem, seorang ayah yang tengah menunggu berjam-jam di RS. Anak Rantissi bersama seorang anaknya. Nama anaknya Mohammed, baru berusia satu tahun dan telah menderita gangguan pernapasan.

“Mohammed adalah anak bungsu saya. Dia menderita gangguan pernapasan, entah mengapa setiap kali tiba-tiba dia alami sesak napas, wajahnya akan membiru. Saya pun harus bergegas membawanya ke rumah sakit kapan saja,” cerita Sufian seperti yang ditulis Al Jazeera pada Senin (21/1/2019).

Sebagai seorang ayah dari lima anak, Sufian mengaku tidak mampu membeli alat pernapasan khusus yang bisa digunakan Mohammed di rumah.

“Kami merasa sangat prihatin ketika mendengar berita krisis bahan bakar di rumah sakit. Kami dirundung bencana, sebab apabila rumah sakit berhenti, ke mana kita akan pergi? Semua pasien akan meninggal, tidak hanya anak saya,” tegas Sufian sebagaimana rilis yang diterima Solopos.com, Selasa (22/1/2019).

 

Di rumah sakit yang sama, Umm Karam Al-Hajj juga tengah khawatir tentang anaknya yang menderita gagal ginjal. Namanya juga Mohammed, ia memerlukan cuci darah setiap empat hari sekali. Menurut Karam, anaknya sangat bergantung pada alat yang berfungsi untuk cuci darah.

“Anak saya bisa menghabiskan waktu lima hingga tujuh jam sehari untuk melakukan cuci darah. Kalau terjadi krisis bahan bakar, tentu akan membahayakan nyawa anak saya. Memiliki anak yang sakit adalah tekanan besar dengan situasi mengerikan di Gaza, dengan banyak krisis yang mengancam,” tambah Karam.

Kesulitan pun jadi berlipat ganda, sebab semua rumah sakit penuh oleh pasien, termasuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Kata Dr. Ashraf, rumah sakit di Gaza rata-rata hanya memiliki 2.300 tempat tidur, sementara kebutuhan mencapai sekitar 4.000 tempat tidur.

“Hanya sekitar 55% hingga 60% kebutuhan akan tempat tidur yang terpenuhi. Bahkan sejak 3 Maret sampai akhir 2018, tercatat sekitar 26.000 jiwa mengalami cedera ketika melakukan aksi Al-Awdah Great March of Return, namun hanya setengahnya yang dapat masuk ke rumah sakit karena semua rumah sakit sudah penuh,” jelas Dr. Ashraf.

Krisis pun semakin menjadi-jadi, mendorong perwakilan resmi Kemenkes Gaza, Dr. Ashraf datang menemui Tim ACT untuk melakukan kolaborasi dalam membantu setiap rumah sakit beserta pasiennya di Gaza. “Sekarang kami sangat membutuhkan bantuan dari banyak pihak, termasuk ACT sebagai lembaga kemanusiaan untuk menghentikan krisis atau paling tidak menunda pemberhentian operasi 5 rumah sakit itu,” pungkas Ashraf.