Senat AS Siapkan Sanksi bagi Pangeran Mohammed bin Salman

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. (Reuters - Joshua Roberts)
22 Januari 2019 02:10 WIB Renat Sofie Andriani Internasional Share :

Solopos.com, RIYADH - Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, dinilai telah menunjukkan tingkat ketidakstabilan yang menakutkan. Oleh karena itu, Kongres AS akan mengambil tindakan terhadap Mohammed bin Salman karena perannya dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

“Sanksi-sanksi akan datang, kemungkinan dalam beberapa hari atau pekan ke depan,” tegas Senator Lindsey Graham dari Partai Republik dalam sebuah wawancara di Ankara, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (21/1/2019).

“Kongres akan mengirimkan sinyal yang sangat jelas kepada dunia dan Arab Saudi bahwa kami tidak akan berbisnis seperti biasa,” tambahnya tanpa memberikan penjelasan mengenai sanksi yang mungkin akan dikenakan.

MBS, sebutan populer Mohammed bin Salman, sejauh ini memang mampu menghindar dari segala kecaman dunia internasional terhadap dirinya sehubungan dengan kasus pembunuhan Khashoggi.

Di luar kerajaan, MBS mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak. Salah satu yang tetap berupaya menjaga hubungan baik dengan sang Pangeran adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Pada November 2018, Trump malah memilih untuk menjatuhkan sanksi terhadap 17 warga Saudi yang dianggapnya terlibat dalam kasus itu. Padahal, khalayak internasional yakin ada kekuasaan lebih tinggi yang mengomandoi pembunuhan Khashoggi.

Sejumlah senator senior Amerika Serikat juga mengungkapkan keyakinan mereka bahwa Mohammed bin Salman bertanggung jawab dalam pembunuhan Khashoggi.

Mayoritas anggota Partai Demokrat menginginkan pemerintah Amerika Serikat berhenti membantu persenjataan Arab Saudi dalam konflik Yaman sebagai wujud protes.

Pada November, 14 senator Partai Republik mendukung usulan Partai Demokrat untuk menghentikan dukungan senjata bagi Saudi dalam konflik Yaman.

"Kita harus berurusan dengan orang-orang jahat, tetapi kita tidak harus memiliki hubungan khusus dengan orang-orang jahat,” lanjut Graham kepada Bloomberg .

Graham telah menjadi kritikus yang bersuara lantang mengecam putra mahkota Saudi itu di tengah upaya Trump untuk menjaga hubungan baik AS dengan Saudi, sekutu penting AS di Timur Tengah.

Pada Oktober 2018, tokoh berpengaruh dari partai Republik ini terang-terangan mengecam MBS sebagai sosok "penghancur" dan "beracun" yang dikatakannya bertanggung jawab langsung atas pembunuhan Khashoggi di dalam konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Seperti diketahui, Jamal Khashoggi, yang juga adalah kolumnis The Washington Post, dinyatakan dibunuh oleh sekelompok agen Arab Saudi setelah memasuki kantor konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober.

Pembunuhan Khashoggi, terkenal atas kritiknya terhadap pemerintahan Saudi, sontak menyeret nama Mohammed bin Salman.

Sang Putra Mahkota diduga menjadi aktor utama di balik rencana pembunuhan Khashoggi, meskipun pihak Kerajaan Saudi berulang kali membantah keterlibatan Sang Pangeran. Banyak pembantu dan staf keamanan terdekat Sang Pangeran diketahui terlibat dalam pembunuhan itu.

Laporan yang disampaikan berisikan penilaian bahwa komando eksekusi pembunuhan diberikan oleh Sang Pangeran namun belum juga ada tindakan tegas terhadapnya. Sementara itu, jasad Khashoggi belum dipastikan keberadaannya hingga detik ini.