Maruf Amin: Jadi Cawapres Jokowi, Penghargaan untuk NU & Kiai

Cawapres nomor urut 01, Ma'ruf Amin, memberikan sambutan dalam Halaqoh Nasionalisme di Gedung NU Center, Kelurahan Munggut, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Senin (21/1/2019) malam. (Madiunpos.com - Abdul Jalil)
22 Januari 2019 05:30 WIB Abdul Jalil Nasional Share :

Madiunpos.com, MADIUN -- Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Maruf Amin, menghadiri Halaqoh Nasionalisme di Gedung NU Center, Kelurahan Munggut, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Senin (21/1/2019) malam.

Ribuan warga NU Kabupaten Madiun hadir dalam Halaqoh Nasionalisme bertema Menjaga Keutuhan NKRI tersebut. Kedatangan cawapres pasangan capres Joko Widodo ini disambut dengan salawatan para santri. "Saya sangat bahagia bisa silaturrahmi dengan para kiai dan para jamaah," kata Maruf Amin kepada ribuan warga Nahdliyin Madiun.

Maruf Amin juga meminta doa dan dukungan dari masyarakat Madiun. Karena saat ini dirinya diajak Jokowi sebagai cawapres dalam Pilpres 2019.

Dia mengaku selama ini sangat nyaman menjadi Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI. Namun, saat ditawari sebagai cawapres untuk mendampingi capres Jokowi, dirinya mengaku didorong para ulama dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

"Dengan kerelaan, kesiapan, dan sungguh-sungguh, saya menerima tawaran itu. Karena itu penghargaan terhadap NU. Sudah lama sejak Gur Dur jadi presiden. Sebelumnya dan sesudahnya tidak ada orang NU yang jadi wakil presiden. Saya berpikir ini kesempatan. Ke depan orang NU ada yang jadi presiden," kata dia.

Maruf Amin menganggap Jokowi bisa saja mengambil cawapres untuk pasangannya dari kalangan politisi, profesional, pengusaha, TNI/Polri. Justru Jokowi lebih memilih menggandeng ulama sebagai pendampingnya. "Ini merupakan penghargaan terhadap para kiai," ujarnya yang langsung mendapatkan tepuk tangan dari warga yang hadir.

Ma'ruf juga membantah pernyataan yang menyebut kita harus memilih calon yang didorong para ulama bukan ulama yang didukung pemerintah. Selama ini ulama dan kiai memang selalu mendukung calon yang akan berkontestasi dalam pemilihan. Dia mengibaratkan kiai dan ulama selama ini hanya digandeng saat dibutuhkan. Namun setelah selesai tidak dihiraukan lagi.

"Kiai itu tukang dukung. Kiai itu kayak dorong mobil mogok. Kiai suruh dorong. Begitu mobil sudah jalan, sesudah itu wabillahi taufiq wal hidayah. Kiai itu kayak pemadam kebakaran. Kalau kebakarannya selesai, wabillahi taufiq wal hidayah. Makanya dulu diumpamakan ulama itu sepertu daun salam. Pertama kali yang dicari yaitu daun salam. Begitu sudah dimasak yang pertama kali dibuang justru daun salam," terang Ma'ruf.

Namun, Jokowi justru menggandeng ulama dengan didukung para ulama. Jokowi tidak hanya didukung oleh para ulama, tapi juga menggandeng ulama.