Ketika Archimedes Jadi Rektor UNS Solo

Faith Aqila Silmi - Istimewa
20 Januari 2019 10:30 WIB Faith Aqila Silmi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (15/1/2019). Esai ini karya Faith Aqila Silmi, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret dan mahasiswa Ilmu Komunikasi. Alamat e-mail penulis adalah faith.silmi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Seorang lelaki asal Yunani kuno sedang gundah. Dia baru saja menerima titah raja, Hieron II, untuk membuktikan apakah mahkota raja benar-benar terbuat dari emas seluruhnya atau tidak.

Berhari-hari ia memikirkan cara mengetahui kandungan emas pada mahkota raja tanpa meleburnya.     Suatu hari ia pergi ke pemandian umum. Ia rendam badannya yang besar di bak mandi.

Air yang penuh dalam bak mandi tumpah bersamaan dengan tubuhnya yang masuk ke air. Ia termenung memerhatikan fenomena itu hingga akhirnya ia berteriak,”Eureka!”

Pikirannya puas. Ia baru saja menemukan jawaban bahwa volume tubuhnya sama dengan volume air yang tumpah. Hal ini juga berlaku pada emas. Emas dengan massa yang sama seharusnya memiliki volume yang sama.

Cara mengetahui volumenya adalah dengan mencelupkan ke air. Dengan cara sederhana itu, tinggal cari saja sebongkah emas seberat mahkota raja, lalu celupkan keduanya di dua bejana yang berbeda dengan ukuran yang sama, lalu bandingkan perubahan tinggi permukaan air.

Dari situ bisa diketahui perbandingan antara volume mahkota dan volume sebongkah emas dengan massa yang sama. Terbukti bahwa volumenya berbeda. Mahkota raja ternyata bukan sepenuhnya terbuat dari emas.

Penemuan ini akhirnya dicatat dan dikenang sampai hari ini sebagai Hukum Archimedes I dan lelaki tadi tak lain adalah Archimedes.

 Pemilihan Rektor UNS

Awal 2019 ini Universitas Sebelas Maret mengalami masa transisi pergantian rektor. Dijadwalkan pada akhir Maret nanti UNS melalui Rapat Senat Tertutup yang juga dihadiri Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memilih rektor UNS yang akan menjabat hingga 2024.

Setidaknya sudah ada lima orang laki-laki paruh baya yang mendaftar di pemilihan rektor UNS 2019. Kisah Archimedes mestinya menjadi referensi bagi civitas academica, utamanya para calon rektor UNS, dalam membangun iklim akademis di UNS.

Kampus harus didefinisikan bukan sebagai penyedia layanan pendidikan, bukan pula sebagai institusi yang mengejar capaian-capaian prestasi, juga bukan sebagai arena pacuan kuda bagi para mahasiswa untuk buru-buru mencapai garis akhir.

Kampus harus didefinisikan sebagai ruang untuk merawat kemanusiaan. Dirawat dengan senantiasa memastikan terjaganya satu karunia yang diberikan hanya kepada manusia: daya pikir.

Ketiadaan daya pikir berarti ketiadaan manusia. Archimedes hanya membutuhkan bak mandi untuk merawatnya. Kampus perlu memberikan pengalaman ilmiah yang menarik bagi setiap orang di dalamnya.

Kampus harus menjadi ”bak mandi” bagi ”Archimedes-Archimedes” baru. Rektor UNS memegang amanat yang luar biasa penting untuk menerjemahkan visi ini menjadi turunan yang lebih konkret melalui kebijakan-kebijakan.

Masa-masa ini menjadi penting bagi calon rektor. Bapak-bapak berlima itu perlu merumuskan dan memaparkan visi dan misi yang menjadi acuan UNS selama lima tahun.

Kalau boleh, seorang mahasiswa yang belum tuntas studinya seperti saya ini usul. Ada beberapa hal yang ingin saya titipkan di pikiran dan hati sanubari bapak-bapak calon rektor.

Supaya tidak terkesan partisan, saya mengusulkan bukan satu, bukan juga dua, tapi tiga agenda yang menurut saya harus bapak-bapak prioritaskan di UNS pada lima tahun mendatang.

Mimbar Bebas Akademis

Pertama, menjamin mimbar bebas akademis. Kedua, melawan komodifikasi pendidikan. Ketiga, menajamkan daya pikir. Kampus sebagai otoritas ilmiah memiliki kewenangan memberi fatwa, tepat tidaknya sesuatu, dan benar salahnya urusan dalam kacamata ilmiah.

Suara dan sikap perguruan tinggi dibutuhkan untuk hadir di persoalan-persoalan masyarakat. Kampus dan setiap elemen di dalamnya harus dibebaskan, bahkan difasilitasi untuk menyatakan sikap, menyampaikan argumen ilmiah, dan menekan pihak-pihak yang berlebihan dalam menggunakan kekuasaan.

Otoritas ini harus merdeka, tidak boleh tersandera oleh kepentingan politik maupun kepentingan ekonomi dan diwakafkan untuk kepentingan masyarakat luas. Suara kampus dinantikan untuk bersikap terhadap berbagai masalah.

Bersikap terhadap penggusuran. Bersikap terhadap pelecehan seksual. Terhadap ketidakbecusan pejabat negara. Terhadap pembangunan hotel, jalan tol, dan bandara.

Sayangnya, mimbar bebas akademis ini dimanfaatkan dengan kurang tepat oleh para mahasiswa. Sering kali lebih banyak dimanfaatkan hanya untuk menyampaikan orasi-orasi kosong dan umpatan-umpatan kepada pihak tertentu.

Komodifikasi pendidikan telah menyebabkan pendidikan dipandang sebagai komoditas yang diperjualbelikan di pasar. Kampus diubah menjadi ladang bisnis.

Kerja sama dan kebijakan bisnis yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dijalin hanya supaya modal masuk ke dalam kampus untuk memutar roda manajemen institusi.

Kampus akhirnya cenderung mementingkan bisnis institusi, ketimbang membangun budaya ilmiah, nalar kritis, atau kesadaran pada tanggung jawab sosial. Keberhasilan peserta didik akhirnya hanya diukur secara kuantitas.

Itulah yang laku secara ekonomi ketika mahasiswa lulus. Akses pendidikan menjadi sulit karena tingginya biaya dan  menyebabkan tidak semua orang bisa mengakses pendidikan yang menjadi hak setiap warga negara.

Di setiap agenda orientasi mahasiswa baru, UNS diperkenalkan dengan bangga oleh rektor sebagai universitas dengan tingkat keketatan yang tinggi. Ini menunjukka penilaian keberhasilan kampus dari seberapa laku UNS di mata masyarakat.

Bukan dengan menunjukkan apa hasil pemikiran yang telah dicetuskan UNS bagi masyarakat, sebagaimana UGM memiliki Kuntowijoyo dan ITB memiliki Tjokorda Raka Sukowati.

Menajamkan Daya Pikir

Dalam menyusun sistem pendidikan, kampus seharusnya merangsang setiap warga civitas academica untuk memiliki ketajaman daya pikir. Di beberapa program studi, filsafat tidak diajarkan sebagai mata kuliah.

Alhasil, kemampuan untuk berpikir secara mendalam melalui filsafat dicabut. Kemampuan mengolah pikiran harus diperkenalkan sejak awal, ketika mahasiswa baru masuk ke lingkungan kampus.

Agenda orientasi mahasiswa baru perlu dirancang untuk memfasiliasi budaya berpikir, bukan hanya budaya kerja UNS. Orientasi mahasiswa jangan sampai hanya untuk meningkatkan citra UNS melalui pemecahan rekor yang tidak memiliki korelasi dengan ilmu pengetahuan.

Kualitas perpustakaan seharusnya bukan hanya diukur dari seberapa tinggi dan megah gedungnya, tapi dari bagaimana referensi pemikiran dari seluruh dunia dihadirkan dalam satu ruang.

Pusat-pusat studi minim menghasilkan gagasan, jarang melaksanakan kajian ilmiah atau sekadar agenda diskusi rutin yang cair dan melibatkan anak muda.     Beberapa ruang kelas masih menghadirkan dosen yang feodal.

Akhirnya, perkuliahan tidak menumbuhkan gairah mahasiswa untuk belajar. Kampus harus merangsang setiap orang agar mampu bertanya dan haus jawaban. Dari situlah ketajaman daya pikir dapat ditumbuhkan.

Rektor UNS harus memiliki dan menunjukkan loyalitas kepada publik, lebih-lebih kepada ilmu pengetahuan. Rektor harus meneladani jalan hidup Archimedes.

Pada  akhir hidupnya, Archimedes tewas dibunuh tentara penjajah negerinya. Ia dibunuh karena melawan tentara, ketika tentara-tentara itu berusaha menghapus diagram matematika Archimedes di pasir.

Betapa mulianya Archimedes. Memperjuangkan diagram matematika hingga tewas di tangan tentara. Ah, menyebalkan! Mengapa dari dulu tentara sering keliru memandang pengetahuan?