Makna Debat Calon Presiden

Siti Ulfah - Istimewa
19 Januari 2019 05:00 WIB Siti Ulfah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (15/1/2019). Esai ini karya Siti Ulfah, anggota Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Boyolali. Alamat e-mail penulis adalah ulfahh2001@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menjadwalkan dan membuat kesepakatan dengan tim kampanye calon presiden dan calon wakil presiden bahwa pada 17 Januari diadakan debat calon presiden dan calon wakil presiden untuk tahap yang pertama dari lima kali yang akan diadakan.

Dalam perjalanan mencapai kesepakatan mekanisme hingga siapa yang pantas menjadi panelis dalam debat tersebut terjadi tarik menarik keinginan dari masing-masing tim kampanye calon presiden dan calon wakil presiden hingga pada akhirnya disepakati.

Mengapa debat ini menjadi penting? Debat calon presiden dan calon wakil presiden dilakukan salah satunya untuk mengukur dan melihat kualitas demokrasi yang sedang berjalan. Debat secara terbuka disiarkan langsung oleh televisi sehingga publik melihat.

Publik bisa menilai kemampuan calon pemimpin yang akan mereka pilih, meskipun dalam debat kisi-kisi materi sudah disampaikan lebih dulu. Itu tidak menjadi masalah sebab kemampuan menjawab ”take-home exam” menjadi pembeda kualitas kandidat serta kesiapan tim pendukung.

Debat calon presiden dan calon wakil presiden bisa menjadi saluran yang baik untuk ”berbicara” langsung kepada jutaan calon pemilih di Indonesia. Terlepas janji manis maupun janji palsu yang akan disampaikan, adu gagasan program, rekam jejak, cara pandang kandidat untuk memimpin bangsa ini akan bisa diukur dan memengaruhi pemilih.

Debat calon presiden dan calon wakil presiden bisa menandai sekaligus menilai apakah seorang calon persiden dan calon wakil presiden memiliki kedewasaan dan kematangan berpolitik atau belum. Banyak debat di berbagai level yang akhirnya berujung pada perseteruan, bahkan saling baku hantam di antara para kandidat pemimpin maupun tim sukses.

Kedewasaan Berpolitik

Ini bisa dilihat dari perilaku saling mengejek, melempar caci maki, menghujat, serta menghina secara langsung pada saat debat berlangsung maupun setelah pelaksanaan debat.

Jika semacam ini terjadi pada saat debat maupun pascadebat, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kedewasaan berpolitik para kandidat pemimpin perlu disangsikan untuk memimpin bangsa yang besar dan majemuk seperti Indonesia ini.

Jika karakter pemimpin kita seperti itu, publik akan memaknai tidak jauh dengan karakter tim kampanye maupun pendukung. Publik akan menilai kandidat pemimpin seperti merespresentasikan pendukung. Debat merupakan medan tempur langsung bertatap muka di antara kandidat pemimpin dalam konstestasi politik seperti pemilihan presiden kali iniu.

Debat harus benar-benar menampilkan sesuatu yang baik. Debat harus menjadi panggung intelektual yang beradab karena akan memantulkan nilai-nilai pribadi calon dan bisa menjadi sauri teladan bagi masyarakat yang akan menentukan pilihan.

Debat tidak hanya dinilai dan dilihat langsung oleh masyarakaat pemilih, tetapi dipantau juga oleh dunia internasional. Untuk itulah kehati-hatian kandidat presiden dan kandidat wakil presiden menjadi penting dalam setiap ucapan dan tindakan.

Apa yang disampaikan oleh para kandidat presiden dan kandidat wkail presiden dalam debat bisa menjadi jejak digital. Mulutmu, harimaumu. Kalau pun mengumbar seribu janji, seharusnya janji yang terukur dan bisa direalisasikan sesui kondisi dan situasi negara.

Karya Intelektual

Kita bisa belajar dari debat calon persiden dan calon wakil presiden di Amerika Serikat, negara yang demokrasinya berumur lebih tua dibandingkan Indonesia. Debat calon presiden dan calon wakil presiden di Amerika Serikat telah menjadi tradisi dan bagian pemilihan umum.

Penyelenggaraan debat di Amerika Serikat tidak dilaksanakan oleh penyelenggara pemilihan umum formal sebagaimana di Indonesia saat ini yang dilukan oleh KPU. Di Amerika Serikat debat calon presiden dan calon wakil presiden dilakukan oleh lembaga independen nonpartisan yang disponsori yayasan, lembaga donor, maupun sektor-sektor privat lainnya, namanya Commission on Presidential Debate (CPD).

Pada 1960 debat antara J.F. Kennedy (Partai Demokrat) dan Richard Nixon (Partai Republik) digelar dan mendapat sambutan antusias dari publik Amerika Serikat. Sebelum debat, Kennedy selalu kalah dalam jajak pendapat yang dilakukan lembaga-lembaga independen.

Setelah debat, ia berbalik unggul dalam beberapa survei. Ini menunjukkan debat calon presiden dan calon wakil presiden ada efeknya dan menjadi salah satu kekuatan kandidat untuk menaikkan elektabilitas.

Debat dilakukan beberapa kali sebagaimana yang akan dilakukan di Indonesia pada pemilihan umum 2019 ini karena para kandidat presiden dan kandidat wakil presiden benar-benar diuji sejauh mana ketangguhan dan daya tahan mereka, apalagi pemilihan umum kali ini bermasa kampanye cukup lama.

Debat kali ini di Indonesia bukan debat yang pertama dalam pemilihan presiden, tetapi kualitas debat pada pemilihan presiden saat ini meskipun menampilkan calon presiden yang sama tentu akan sangat berbeda karena salah satu kandidat adalah petahana yang tentu memiliki prestasi maupun kurang prestasi dalam memimpin negara.

Kandidat lainnya belum pernah memiliki prestasi dalam memipin negara karena belum pernah berada dalam struktur kenegaraaan. Dua kandidat presiden dan kandidat wakil presiden untuk pemilihan umum 2019 pasti punya nilai plus dan minus.

Paling tidak kita akan memaknai debat ini adalah karya intelektual karena dilahirkan dari pergumulan para intelektual untuk merumuskan dan menandai demokrasi di Indonesia.

Kita berharap debat calon presiden dan calon wakil presiden dalam pemilihan umum 2019 menghasilkan karya intelektual yang akan menjadi kebanggaan kita semua sebagai bangsa yang besar, majemuk, dan plural. Selamat menikmati. Semoga kita selalu menjadi pemilih yang cerdas, rasional, dan bertanggung jawab. Pemilih berdaulat, negara kuat.