Tenangna Pikirmu

Indra Tranggono - Istimewa
15 Januari 2019 11:00 WIB Indra Tranggono Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (11/1/2019). Esai ini karya Indra Tranggono, pemerhati kebudayaan yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah indra.tranggono23@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pelawak legendaris Jogja yang berkibar sekitar 1960-1970-an, Basiyo, dikenal memiliki kecerdasan dalam menafsir kenyataan menjadi kelucuan. Kenyataan manis dan getir bagi Basiyo nyaris tak berbeda.

Selalu ada sisi gelap dan terang yang diolah menjadi humor satiris. Dari sana Basiyo menawarkan pembebasan, yakni mengatasi tekanan keadaan dengan cara pandang subversif.

Contohnya ketika Basiyo memerankan tokoh tukang becak. Ia mampu menampilkan sosok tukang becak yang bertingkah ala priayi atau kelas menangah, dengan diksi-diksi kelucuan yang menggelitik.

Tukang becak itu mengenakan kostum keprajuritan dan punya istri pemain wayang orang. Ia menghadirkan watak egaliter. Si tukang becak tidak mau didikte penumpang. Selalu ngeyel (suka membatah), independen, dan sak karepe (bebas nilai).

Dengan cara itu, Basiyo menyodorkan pandangan subversif yang mendekosntruksi realitas. Ruang alternatif pun terbuka. Penikmat lawakan Basiyo mendapatkan cara pandang yang kaya atas kehidupan.

Frasa Bersayap

Basiyo juga mengintroduksi istilah yang dihafal  banyak penggemarnya, misalnya tenangna pikirmu (tenangkanlah pikiranmu), yang kini kembali jadi viral dalam pergaulan luring dan daring.

Tenangna pikirmu dimunculkan bukan sekadar niat untuk menasihati tapi juga mengejek secara simpatik (penuh respek) terhadap orang-orang yang gampang cemas, galau, tersinggung, dan marah ketika menghadapi pikiran dan pilihan  berbeda.

Riwayat ungkapan tenangna pikirmu bermula dari sebuah repertoar dagelan mataram. Di situ Basiyo (pura-pura) memerankan tokoh Damarwulan, senapati Kerajaan Majahapit. Damarwulan harus maju perang demi meringkus Menakjinggo, Adipati Blambangan yang merongrong kewibawaan Majapahit.

Damarwulan pamit kepada Anjasmara, istirinya. Anjasmara keberatan melepas Damarwulan karena tidak ingin kehilangan suami yang sangat dia cintai. Anjasmara menangis.

Apa kata sang Damarwulan Basiyo? “Wis tenangna pikirmu. Kene, bathukmu tak uyeg-uyeg ben kremimu medhun...” (Tenangkan hatimu. Kesinilah, aku akan mengusap-usap keningmu agar cacing dalam perutmu tidak mengganggu). Kontan Anjasmara tertawa. Tak jadi sedih.

Basiyo wafat pada 31 Agustus 1979, namun kaset lawakannya yang jumlahnya mencapai sekitar 40 judul itu masih sering diputar berbagai radio swasta dan masyarakat.

Bahasa Filsafat

Frasa tenangna pikirmu kini hidup kembali dan dikutip banyak orang, terutama asal Jawa yang menyukai lawakan Basiyo, baik dalam bentuk ujaran maupun tulisan yang menempel di banyak jenis kendaraan.

Tenangna pikirmu jadi frasa yang bersayap. Tidak hanya berkaitan persoalan kehidupan personal, melainkan juga kolektif. Bahasa lawakan Basiyo mengalami transformasi nilai menjadi bahasa filsafat (wisdom).

Begitu pula dalam masa kampanye pemilihan umum 2019. Frasa tenangna pikirmu sering muncul. Ketika pendukung calon presiden-calon wakil presiden tertentu merasa galau, resah, bahkan tersinggung dan marah membaca teks-teks yang dibuat kubu lawan di media sosial, orang langsung menasihati dengan ucapan tenangna pikirmu.

Tawa pun meledak. Humor verbal mampu mengendorkan suasana yang tegang. Bangsa kita perlu belajar pada cara berpikir ala Basiyo, yakni cara berpikir subversif yang mampu menyodorkan versi alternatif di tengah versi besar yang dikonstruksi kuasa politik, ekonomi, dan budaya.

Dalam versi alternatif terkandung cara pandang dan gagasan baru atau segar yang mampu menjadi budaya tanding dan budaya sanding atas realitas politik dominan. Cara pandang ala Basiyo bisa juga dipakai untuk menghadapi kontestasi pemilihan presiden.

Ini relevan dengan pandangan yang mengatakan bahwa politik itu keras bahkan kejam. Humor yang membuncahkan tawa bisa menjadi cara atau jalan untuk melembutkan dan menjinakkan politik.

Melawan dengan Humor

Menghadapi hoaks sesungguhnya orang tak perlu langsung panik jika tahu duduk persoalan dan konteks kepentingannya, yakni isu apa pun akan digoreng dan dijadikan “makanan lezat” untuk memojokkan lawan politik dan menaikkan elektabilitas sang pembuat hoaks.

Ini tak lebih dari orang berdagang tapi dengan cara curang. Dari pemahaman ini orang bisa mengambil jarak intelektual dan emosional atas hoaks, bahkan bisa mendegradasi jadi sekadar guyonan yang menggelikan. Realitas politik yang keras dan sangar bisa direspons atau dilawan dengan humor.

Humor bisa dipahami sebagai jagat ide dan nilai yang lahir dari ketajaman intuisi, kekayaan imajinasi, dan kecerdasan perasaan serta akal budi. Humor yang cerdas mampu menjungkirbalikkan  atau mendekonstruksi realitas dominan.

Humor bahkan mampu melahirkan realitas imajiner baru yang menawarkan ruang bagi manusia untuk bertahan memelihara akal sehat. Humor memiliki potensi untuk menyelamatkan nilai-nilai kemanusiaan dari berbagai kekerasan; baik secara struktural, kultura, maupun fisik dan psikologis.

Potensi humor bangsa kita sangat besar. Selera humor bangsa kita pun cukup tinggi. Masyarakat kita mampu menciptakan berbagai karikatur satiris yang mengejek diri sendiri atau orang lain secara simpatik. Ejekan simpatik itu bisa berupa sindirian atau kritik.

Pada era Orde Baru  muncul banyak karikatur verbal atau visual yang mengejek penguasa. Pada masa reformasi ketika kebebasan tak terkendali bahkan sampai melabrak etika dan moral demikian juga. Lihatlah banyak meme di media sosial.

Bangsa ini perlu merawat dan mengembangkan cara pandang subversif dan selera humor yang baik sehingga masyarakat bisa mendapat ruang bernapas, berimajinasi, dan berpikir kritis untuk mengkaji setiap fenomena. 

Masyarakat pun tidak gampang tersesat atau disesatkan berbagai kekuatan yang bertujuan melumpuhkan nalar bangsa. Dengan kekayaan cara pandang dan kecerdasan akal dan perasaan, masyarakat pun tidak mudah panik dan terseret arus dertruktif, bahkan bisa saling menasihati dengan ungkapan: tenangna pikirmu....