YLKI Sinyalir Kenaikan Harga Tiket Pesawat Karena Kartel

Suasana Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (13/2 - 2018). (Bisnis / Felix Jody Kinarwan)
15 Januari 2019 23:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Tingginya harga tiket pesawat baru-baru ini menimbulkan berbagai spekulasi. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia mengindikasikan ada kartel atau oligarkis yang menyebabkan kenaikan harga tiket pesawat.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan pihak maskapai tampak bersepakat dan sengaja untuk menaikan tarif tiket. Tulus mengatakan indikasi praktik kartel tampak dari maskapai yang serentak menaikan tarif tiket.

Sementara itu, saat menurunkan tarif tiket, maskapai juga melakukannya secara serentak. "Saya berfikir, apakah ini ada oligopoli ataukah kartel, kok ini bisa serentak. Bisa di bidik nih," ujarnya dalam konferensi pers di Restoran Penang Bistro, Jakarta, Selasa (15/1/2019), dilansir Suara.com.

Menurut Tulus, masyarakat kaget atas tarif tiket pesawat yang tinggi. Pasalnya, selama ini masyarakat sudah terbiasa dengan tarif yang murah.

“Saya kira ya mungkin masayarakat terbiasa dengan tarif yang murah atau terjangkau. Ketika diskon diambil atau dicabut, ibaratnya koreng yang ditarik itu sakit," tutur dia.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menyebut terdapat satu maskapai yang menjadi acuan maskapai lain untuk menaikan tarif tiket, yaitu Garuda Indonesia.

Dia menjelaskan, jika Garuda Indonesia menaikan harga tiket, maka maskapai lain termasuk maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC) juga menaikan harga tiket.

"Pada saat Garuda pasang pada subclass tertinggi, yang lain-lain ikutan juga. Karena kalau tidak naik, tidak akan mampu bertahan hidup. Jadi ini karena Garuda pasang subclass sementara yang lain mengalami masalah keuangan, akhirnya menaikan. Saya kira kalau mereka [LCC] tidak bermasalah ya, tidak akan menaikkan [harga tiket].”

Sumber : Suara.com