BPS: Setahun, Penduduk Miskin Indonesia Turun 910.000 Orang

ilustrasi rastra. (Solopos/Dok)
15 Januari 2019 17:45 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim jumlah penduduk miskin di Indonesia turun hingga 910.000 orang dalam setahun, yaitu September 2017 hingga September 2018. Penurunan itu terjadi pada data kemiskinan di perkotaan maupun pedesaan.

BPS menginformasikan persentase penduduk miskin pada September 2018 sebesar 9,66 persen atau turun 0,16 persen dibanding Maret 2018. Angka itu turun 0,46 persen dibandingkan September 2017.

“Jumlah penduduk miskin pada September 2018 sebesar 25,67 juta orang, atau turun 0,28 juta orang dibanding Maret 2018, dan turun 0,91 juta orang dibanding September 2017,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, dalam konferensi pers di Lantai III Gedung BPS, Jl. Dr. Sutomo, Jakarta, Selasa (15/11/2019) siang, dilansir laman resmi Setkab.

Menurut Suhariyanto, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2018 mencapai 7,02 persen, lalu turun menjadi 6,89 persen pada September 2018. Sedangkan persentase penduduk miskin di perdesaan pada Maret 2018 sebesar 13,20 persen, lalu turun menjadi 13,10 persen pada September 2018.

“Dibanding Maret 2018, jumlah penduduk miskin September 2018 di daerah perkotaan turun sebanyak 13.100 orang [dari 10,14 juta orang pada Maret 2018 menjadi 10,13 juta orang pada September 2018],” jelas Suhariyanto.

Sementara itu daerah perdesaan, kata dia, jumlah penduduk miskin turun sebanyak 26.200 orang (dari 15,81 juta orang pada Maret 2018 menjadi 15,54 juta orang pada September 2018).

Patokan garis kemiskinan yang dipakai BPS pada September 2018 adalah pendapatan Rp410.670/kapita/bulan. “Dibandingkan Maret 2018, Garis Kemiskinan naik sebesar 2,36 persen. Sementara jika dibandingkan September 2017, terjadi kenaikan sebesar 6,07 persen,” jelas Suhariyanto.

Adapun komposisi Garis Kemiskinan adalah Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp302.022 (73,54 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp108.648 (26,46 persen).

“Pada September 2018 secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,63 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp1.901.402/rumah tangga miskin/bulan,” sambung Suhariyanto.

Menurut Suhariyanto, pada September 2018, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan pada umumnya hampir sama. Beras masih memberi sumbangan sebesar 19,54 persen di perkotaan dan 25,51 persen di perdesaan.

Rokok kretek filter menjadi faktor terbesar kedua terhadap Garis Kemiskinan (10,39 persen di perkotaan dan 10,06 persen di perdesaan). Komoditi lainnya adalah telur ayam ras (3,89 persen di perkotaan dan 3,36 persen di perdesaan), daging ayam ras (3,80 persen di perkotaan dan 2,21 persen di perdesaan), mie instan (2,37 persen di perkotaan dan 2,13 di perdesaan), gula pasir (2,04 persen di perkotaan dan 2,84 di perdesaan), kopi bubuk & kopi instan (sachet) (1,96 persen di perkotaan dan 1,81 persen di perdesaan), dan seterusnya.

Sedangkan komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada Garis Kemikinan perkotaan dan perdesaan, menurut Suhariyanto, adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Sumber : Setkab.go.id