Tarif Pesawat Solo-Jakarta Kemahalan, Berapa Sih Batas Atasnya?

Ilustrasi maskapai Lion Air mengisi avtur - JIBI/Endang Muchtar
15 Januari 2019 09:40 WIB Bayu Jatmiko Adi Nasional Share :

Solopos.com, SOLO - Pelaku bisnis biro wisata menilai tarif maskapai penerbangan yang diterapkan di Solo masih mahal. Kesepakatan Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carrier Association/INACA) untuk menurunkan tarif menjadi angin segar bagi mereka sekaligus memberi harapan untuk kemajuan pariwisata.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Solo, Pri Siswanto, mengatakan harga tiket pesawat terbang yang tinggi berdampak pada banyak hal, termasuk pelaku bisnis ticketing. Dia mengakui sebenarnya tidak ada yang salah dengan langkah maskapai menentukan tarif karena sejauh ini penentuan tarif masih berada pada batas atas dan bawah.

Sebagai gambaran tarif atas dan bawah perjalanan Solo-Jakarta (CGK) masing-masing Rp1,045 juta dan Rp314.000. Untuk rute Solo-Jakarta melalui Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) tarif batas atas adalah Rp1,037 juta dan batas bawah Rp311.000. Tarif batas atas tertinggi adalah untuk rute Solo-Medan (Kualanamu) senilai Rp2,637 juta dengan batas bawah Rp791.000.

Sejumlah maskapai pada Senin (14/1/2019) menerapkan harga di bawah Rp500.000 untuk rute tersebut. Namun, tarif itu dinilainya masih pada level mahal untuk maskapai kelas LCC. "Dalam beberapa waktu ini harganya masih di batas yang mahal. Kemarin memang sudah ada berita dari pusat yang akan menurunkan tarif antara 20% hingga 60% kalau tidak salah. Tapi tidak semua sektor [wilayah]," kata dia saat dihubungi Solopos.com, Senin.

Pri berharap penyesuaian ini berlanjut sehingga calon penumpang di Solo bisa merasakan penurunan tarif maskapai. "Kami pantau Solo-Jakarta masih di level harga mahal. Tapi kalau kami komunikasi dengan beberapa teman, fluktuasinya tidak sama. Beda maskapai beda rute, tidak sama [nilainya]," jelas dia.

Dia ingin kondisi harga tiket berada di level mahal tersebut tidak berlangsung lama. Jika tidak, di sektor pariwisata, masyarakat Indonesia akan lebih memilih berwisata ke luar negeri daripada piknik ke dalam negeri.

"Sebenarnya efeknya bukan ke omzet turun, tapi lebih ke pola orang untuk berwisata. Mendorong orang ke luar negeri bukan ke dalam negeri. Ironi ketika domestik lebih mahal ketika ke luar negeri. Misalnya ada orang Aceh mau ke Jakarta harus ke Malaysia dulu," lanjut dia.

Hal yang sama juga disampaikan pelaku pariwisata di Solo, Daryono. Menurut dia, jika persoalan tarif tidak segera dievaluasi akan kontra produktif dengan upaya pemerintah untuk mengembangkan wisata di Indonesia. Jumlah kunjungan wisata akan terpengaruh dengan kondisi tersebut.

Jika tarif tiket ke luar negeri lebih murah dari tiket domestik, maka akan lebih banyak wisatawan lokal yang lebih tertarik ke luar negeri. "Ini kontra produktif," kata pria yang juga Wakil Ketua Asita Jawa Tengah itu.