Koruptor Sudah Mati

Ahmad Ubaidillah - Istimewa
14 Januari 2019 10:00 WIB Ahmad Ubaidillah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (10/1/2019). Esai ini karya Ahmad Ubaidillah. dosen Ekonomi Syariat di Fakultas Agama Isalam Universitas Islam Lamongan, Jawa Timur. Alamat e-mail penulis adalah ubaidmad@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Banyak orang menginginkan koruptor dihukum mati. Entah melalui tembakan peluru, racun mematikan, kursi listrik, atau lainnya. Maklum, kita sudah terlalu sering dilecehkan para koruptor.

Wajar warga bangsa Indonesia merasa dipermalukan para koruptor dengan sangat mendalam. Ada pula yang punya gagasan koruptor dihajar sampai babak belur seperti pencuri sepeda motor atau penjambret yang kerap dihajar hingga berdarah-darah, bahkan sampai mati, oleh keberingasan masyarakat.

Ide terakhir ini agaknya menarik, meskipun sampai saat ini masyarakat belum berani menghajar koruptor-koruptor hingga babak belur. Kalau pun terjadi, ini akan menjadi berita utama media massa sepanjang zaman.

Saat kita membaca koran atau menonton televisi, kita sering kali mendengar kata ”dijebak” yang diucapkan koruptor setelah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kata itu mungkin dikira ampuh untuk membuktikkan bahwa mereka tak berbuat atau tak sengaja berbuat korup.

Contoh yang mudah diingat adalah terdakwa kasus korupsi KTP elektronik (KTP-el), Setya Novanto. Ia merasa dijebak oleh Direktur PT Biomorf Lone Indonesia, Johannes Marliem. Contoh lainnya adalah kasus penerimaan suap terkait penggunaan Dana Otonomi Khusus Aceh Tahun Anggaran 2018. Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, tersangkanya, mengaku dijebak pihak tertentu dalam kasus ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ”dijebak” berasal dari kata ”jebak” yang memiliki arti sangkar untuk memikat atau menangkap binatang; perangkap; alat (rayuan dan sebagainya) yang digunakan untuk memikat atau melemahkan musuh dan sebagainya.

Kalau saya asal menyimpulkan, yang dijebak itu kalau tidak binatang ya musuh. Apakah mungkin KPK sebagai pihak yang menjebak pejabat korup itu menganggap para tersangka koruptor sebagai binatang atau musuh?

Kematian dalam Hidup

Saya tidak tahu persis apakah koruptor-koruptor, entah dari kalangan politikus, hakim, polisi, birokrat, atau lainnya, merasa berdosa atau tidak setelah korupsi. Apakah mereka menyadari atau tidak kalau nanti pada hari pembalasan mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka?

Apakah mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang mengalami kematian dalam hidup dan menjadi mayat-mayat di alam kehidupan dunia? Tak bisa dimungkiri bahwa manusia yang hidup pasti akan menemui kematian yang sewaktu-waktu menghampiri.

Keterpisahan jasad dan roh merupakan realitas yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Kehidupan dunia yang fana akan digantikan oleh kehidupan akhirat yang kekal yang tidak seorang pun bisa mengelak dari pengadilan Tuhan Yang Maha Adil.

Tangan, kaki, mata, telinga, dan seluruh anggota badan akan menjadi saksi atas segala perbuatan yang pernah dilakukan selama hidup di dunia. Di sinilah keadilan benar-benar mendapatkan tempat yang pasti tidak kita temukan dalam hukum di dunia.

Dalam kajian ilmu tasawuf kematian dibagi menjadi dua, yaitu kematian iradat dan kematian tabiat. Begitu juga dengan kehidupan, ada kehidupan iradat dan ada kehidupan tabiat.

Kematian iradat ialah mematikan kemauan dari dunia yang tidak berguna, mematikan syahwat di luar batas, mematikan nafsu loba dan tamak, mematikan nafsu memburu harta sehingga melupakan kesucian dan kemuliaan hidup.

Kematian tabiat adalah kematian dalam arti yang sebenarnya, yakni  pada saat jiwa meninggalkan badan. Kehidupan iradat adalah menghidupkan jiwa untuk mencari makanan, minuman, pakaian, dan tempat seperlunya saja.

Lingkaran Setan

Sedangkan kehidupan tabiat adalah ikhtiar menghidupkan jiwa di dalam kemuliaan, misalnya menggapai ilmu pengetahuan, meneliti hakikat alam sebagai kebesaran Tuhan,  atau bagi seorang pejabat menjalankan tugas pemerintahan dengan jujur dan berintegritas tinggi.

Filsuf Yunani kuno, Plato, pernah mengatakan matilah dengan iradat, tetapi hiduplah dengan tabiat. Sedangkan Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat, berkata siapa yang mematikan dirinya di dunia, berarti menghidupkannya di akhirat.

Dalam kehidupan di dunia ini, kematian sebenarnya bisa dialami oleh setiap manusia meskipun manusia terlihat hidup. Manusia yang penuh laku curang, kekerasan, dengki, tak terkecuali perilaku korup, pada hakikatnya sedang mengalami kematian dalam hidup.

Mereka yang mengejar kekayaan atau kekuasaan secara tidak benar adalah mayat-mayat hidup yang amis, kotor, dan berbau tak sedap. Inilah pendapat Syekh Siti Jenar yang perlu kita pikirkan baik-baik, terutama para pengurus negeri ini yang hobi korupsi.   

Tidak terlalu sulit bagi kita menemukan contoh-contoh tentang manusia-manusia yang mati dalam hidup. Seorang penguasa yang menindas rakyat adalah penguasa yang sedang mengalami kematian. Aparat penegak hukum yang pandang bulu dalam menegakkan hukum adalah aparat yang tengah mengalami kematian.

Masyarakat yang berlaku keras atau menyakiti masyarakat lain adalah masyarakat yang sedang mengalami kematian. Masih banyak contoh perilaku yang menunjukkan manusia hidup, namun pada hakikatnya mengalami kematian.

Mayat Hidup

Sebenarnya para koruptor adalah mayat-mayat hidup yang bergentayangan di alam fana ini. Di dunia ini mereka sudah mengalami kematian akibat perbuatan-perbuatan korup yang membangkrutkan keuangan negara dan menyengsarakan rakyat. Betapa menyeramkan hakikat dan eksistensi koruptor.

Perbuatan-perbuatan nista mereka telah menurunkan derajat diri mereka yang sesungguhnya sebagai mahluk yang paling mulia. Naluri kemanusiaan dikalahkan oleh naluri kebinatangan. Di sinilah koruptor tak ubahnya seperti zombi-zombi yang bergentayangan di alam dunia.

Sayangnya, tak sedikit koruptor yang tidak merasa bahwa dirinya adalah ”manusia-manusia mati” yang berada di alam ”kehidupan”. Mati karena kejahatan luar biasa yang mereka lakukan.

Kita perlu tetap berada pada posisi yang diyakini filsuf Jerman, Friedrich Hegel, yang memandang dunia bergerak secara bertahap, dan tiap tahap mempunyai ciri tersendiri, tetapi terus-menerus dilewati oleh tahap berikutnya yang lebih baik dan lebih tinggi.

Sikap optimistis akan lenyapnya praktik korupsi inilah yang harus ditanam, ditumbuhkan hingga subur, dan dibangun menjadi keyakinan oleh segenap elemen bangsa Indonesia di tengah lingkaran setan korupsi.