Prabowo: di Sragen Dekat Solo, Rakyat Sedang Kesulitan Air

Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyampaikan pidato kebangsaan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (14/1 - 2019). (Antara/Galih Pradipta)
14 Januari 2019 22:35 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Prabowo Subianto menggunakan pidato kebangsaannya di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Senin (14/1/2019) malam, untuk menyinggung kasus-kasus yang terjadi di Jawa Tengah. Dia mencontohkan kasus bunuh diri di Grobogan hingga kekeringan yang terjadi di Sragen.

Hal ini tampaknya menjadi strategi Prabowo untuk menarik simpati warga Jawa Tengah mengingat dirinya kalah cukup telak di provinsi "kandang banteng" itu pada Pilpres 2014 lalu. Prabowo menyinggung kasus-kasus itu dalam mencontohkan kondisi negara yang menurutnya sedang dalam masalah besar. Kasus itu menjadi satu paket kritik kepada pemerintah Jokowi sebelum menyampaikan tawaran arah kebijakannya.

Poin pertama yang disebut akan dilakukan Prabowo jika menang Pilpres 2019 adalah melakukan reorientasi pembangunan. Prabowo mengklaim pembanguan Indonesia saat ini perlu diarahkan ke arah yang benar untuk kepentingan rakyat.

"Pengelolaan diperlukan karena bangsa yang kokoh hanya bisa diwujudkan jika negara bisa swasembada pangan. Kita harus bisa mengatur sehingga rakyat bisa memproduksi pangan sendiri dan seluruh rakyat bisa makan dengan baik di seluruh nusantara. tidak boleh ada yang kelaparan di RI ini," katanya.

Kedua, katanya, negara harus bisa melakukan swasembada energi. "Negara hanya kokoh jika bisa swasembada energi, swasembada bahan bakar. Kita harus bisa menghasilkan bahan bakar dan energi sendiri. Pemerintah sendiri meramalkan impor 100% BBM kalau tidak ada yang kita lakukan sesegera mungkin," katanya.

Poin ketiga, kata Prabowo, Indonesia harus bisa melakukan swasembada air bersih. Prabowo berupaya memperkuat argumennya dengan menyebut bahwa PBB telah meramalkan pada 2025 dunia akan mengalami krisis air. Di sinilah Prabowo menyinggung kasus kekeringan di Sragen.

"Sekarang ini, di Sragen, dekat Kota Solo, rakyat kesulitan air. Mereka menyampaikan ke saya. 'Pak enggak usah kirim kaus, baliho, cukup kau kirim tangki air'," kata Prabowo sembari menekankan bahwa Sragen yang menurutnya kesulitan air itu berada di dekat Kota Solo.

Keempat, kata Prabowo, negara harus memiliki lembaga pemerintahan yang kuat, bersih, dan berintegritas. Di poin ini, Prabowo juga tak lupa menyinggung kinerja lembaga pemerintah. Menurutnya, negara perlu hakim, polisi, jaksa, dan intelijen yang unggul dan jujur. 

"Intelijen itu intelin musuh negara, bukan intelin mantan Presiden RI, jangan intelin mantan Ketua MPR RI, jangan intelin anaknya proklamator kita, jangan intelin mantan Panglima TNI, jangan intelin ulama-ulama kita. Kalau mau intelin mantan Pangkostrad tak apa-apa," selorohnya tanpa menyebut nama tokoh yang dimaksud.

Kelima, katanya, negara membutuhkan angkatan perang yang unggul. "Tentara yang kuat tapi setia pada rakyat. Tentara yang tidak kalah dari tentara terbaik dunia. Bukan gagah-gagahan, kita hanya meneruskan senior. Kami yang memerintah 10 tahun, Presiden SBY. mengajarkan kami 1.000 kawan terlalu sedikit, 1 lawan terlalu banyak. Tapi kalau kita lemah biasanya kita diinjak-injak."

Prabowo mengawali pidatonya dengan kegusaran-kegusarannya saat melihat Indonesia. Dia mengaku mendapatkan laporan dari beberapa pihak tentang orang yang bunuh diri karena beban ekonomi yang berat. Kasus-kasus itu, kata dia, juga diberitakan sejumlah media massa.

"Beberapa waktu lalu saya mendapatkan laporan seorang buruh tani, seorang bapak, kepala keluarga, di Grobogan, meninggal dunia karena gantung diri, meninggalkan istri dan anak karena tak sanggup membayar utang, karena beban ekonomi yang berat. Seorang guru di Pekalongan juga menggantung diri. Ini kisah-kisah yang masuk berita, belum yang tidak diberitakan," katanya.

Prabowo beberapa kali menyindir kebijakan impor pangan di era pemerintahan Jokowi. Dia mengaku mendapatkan laporan dari petani di Klaten yang mengaku sedih karena saat musim panen justru banjir beras impor. Sementara itu, di Jatim, kata dia, petani tebu sedih karena saat panen harga gula jatuh.