Pidato Visi-Misi, Prabowo: Jangan-Jangan 10 Tahun Lagi Kita Setengah Mati

Prabowo Subianto berpidato dalam Silaturahmi Relawan Prabowo Sandi (PAS) dan Deklarasi Aliansi Masyarakat Madani (AMM) di Ballroom The Sunan Hotel Solo, Kamis (22/11 - 2018) malam. (Solopos / Nicolous Irawan)
14 Januari 2019 21:15 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Penyampaian visi dan misi Prabowo Subianto - Sandiaga Uno di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Senin (14/1/2019) malam, diwarnai sejumlah sindiran untuk pemerintah Joko Widodo (Jokowi). Di awali dengan pernyataan Sandiaga bahwa pihaknya telah berkeliling Indonesia, pidato Prabowo kembali melontarkan jawaban atas kritik yang menyebut dirinya selalu pesimistis soal masa depan negara.

Prabowo mengawali pidatonya dengan kegusaran-kegusarannya saat melihat Indonesia. Dia mengaku mendapatkan laporan dari beberapa pihak tentang orang yang bunuh diri karena beban ekonomi yang berat. Kasus-kasus itu, kata dia, juga diberitakan sejumlah media massa.

"Beberapa waktu lalu saya mendapatkan laporan seorang buruh tani, seorang bapak, kepala keluarga, di Grobogan, meninggal dunia karena gantung diri, meninggalkan istri dan anak karena tak sanggup membayar utang, karena beban ekonomi yang berat. Seorang guru di Pekalongan juga menggantung diri. Ini kisah-kisah yang masuk berita, belum yang tidak diberitakan," katanya.

Prabowo beberapa kali menyindir kebijakan impor pangan di era pemerintahan Jokowi. Dia mengaku mendapatkan laporan dari petani di Klaten yang mengaku sedih karena saat musim panen justru banjir beras impor. Sementara itu, di Jatim, kata dia, petani tebu sedih karena saat panen harga gula jatuh.

"Inikah yang dicita-citakan Bung Karno, Bung Hatta, KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, Bung Tomo, I Gusti Ngurah Rai? Negara di mana banyak rumah sakit menolak pasien karena belum dibayarkan BPJS [Kesehatan]. Negara yang 1 dari 3 anak di bawah 5 tahun gagal tumbuh karena kurang gizi dan protein selama mengandung," katanya.

Tak lupa, Prabowo menyindir utang luar negeri yang selama ini kerap menjadi materi kritiknya terhadap pemerintah. Dia menuding utang luar negeri Indonesia hanya dipakai untuk membayar gaji PNS dan hal-hal yang tidak produktif. Prabowo juga menuding BUMN-BUMN saat ini terjerat utang dan terancam bangkrut.

"Pertamina penopang pembangunan Indonesia selama beberapa dasawarsa, sekarang dalam keadaan sulit, PLN, Krakatau Steel, dibangun Bung Karno diselesaikan Pak Harto sekarang utangnya mengerikan. Kalau pun ada BUMN yang untung, untungnya tak seberapa," klaim Prabowo.

Dengan buruknya kondisi negara yang dia gambarkan dalam pidatonya itu, Prabowo menyebut kasus-kasus kelaparan yang terjadi di Asmat adalah penghinaan terhadap rakyat dan pendiri bangsa. Di sinilah Prabowo melontarkan sindirannya kepada Jokowi yang pernah mengkritik pemimpinan yang menebar pesimisme.

"Saudara-saudara, ada yang mengatakan jangan pesimistis, harus optimis. Indonesia katanya akan bertahan 1.000 tahun lagi. Saya bertanya, apakah negara yang tidak mampu bayar rumah sakit, tidak mampu menjamin rakyatnya, petani, nelayan, dan pekerjanya, yang tentaranya tidak kuat, bisa bertahan 1.000 tahun?" kata Prabowo.

"Jangan-jangan, 10 tahun [mendatang] sudah setengah mati kita. Apakah negara yang cadangan bahan bakarnya hanya 30 tahun, berasnya hanya bertahan 3 minggu, negara yang langgeng? Bahkan Menhan saja mengatakan kalau Indonesia terpaksa perang hari ini, kita hanya bertahan 3 hari karena peluru hanya untuk 3 hari. Bukan saya yang sampaikan itu, Menhan yang menyampaikan," katanya.