Urgensi Pendidikan Kebencanaan di Sekolah

Joko Suryanto - Istimewa
13 Januari 2019 12:00 WIB Joko Suryanto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (9/1/2019). Esai ini karya Joko Suryanto, guru di SDIT Muhammadiyah Al-Kautsar di Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah josyenaza@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Wacana mengenai pendidikan kebencanaan yang akan digulirkan pada 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan patut diapresiasi.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana membuat peraturan yang memuat pendidikan sadar bencana pada masyarakat, khususnya di sekolahan.

Secara normatif pendidikan memang mempunyai tanggung jawab dalam memberikan pembelajaran aktual kepada peserta didik, termasuk mengedukasi soal kebencanaan. 

Edukasi ihwal kebencanaan menjadi sangat urgen mengingat Indonesia termasuk negara yang rawan bencana. Yang paling mutakhir adalah bencana tsunami yang menerjang pesisir Pantai Pandeglang di Provinsi Banten dan di Lampung Selatan.

Peristiwa tersebut telah merenggut korban jiwa tak sedikit, kerusakan rumah, dan kerusakan fasilitas bisnis dan fasilitas umum seperti hotel dan jalan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika baru-baru ini mengimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena gelombang laut yang tinggi di beberapa wilayah.

Peristiwa tersebut adalah contoh fakta ihwal pentingnya pendidikan kebencanaan. Pada dasarnya bencana bukan hanya tsunami dan gempa, namun juga banjir, kebakaran, tanah longsor, gunung meletus, dan sebagainya.

Musim Penghujan

Ancaman banjir dan tanah longsor mengancam di banyak etiap daerah mengingat Indonesia saat ini masuk musim penghujan.  Dalam kondisi demikian ini sekolahan menjadi tempat yang cukup efektif untuk menanamkan nilai-nilai dan menyampaikan pengetahuan mengenai kebencanaan kepada siswa.

Pendidikan kebencanaan di sekolah dasar dan sekolah menengah akan membantu siswa memainkan peran penting dalam penyelamatan hidup dan perlindungan anggota masyarakat. Urgensi pendidikan kebencanaan di sekolahan adalah membentuk kesadaran atas kebencanaan sejak usia dini.

Dengan demikian terbangun kesadaran terhadap lingkungan hidup. Kesadaran ini membangkitkan kehendak mengenal dan mengetahui  fenomena   alam   yang menyebabkan   potensi   bencana. Selanjutnya tercipta landasan yang kuat dan berkelanjutan dalam pengurangan risiko bencana. Edukasi kebencanaan sejak dini akan membantu penyelamatan dan kesiagaan dalam menghadapi bencana serta pengenalan wilayah yang sangat potensial terimbas bencana.

Pemberdayaan kelembagaan dan kemampuan komunitas sekolahan perlu dioptimalkan. Penyelenggaraaan pendidikan mengenai risiko bencana dapat dipadukan dengan kurikulum satuan pendidikan, baik intra maupun ekstrakurikuler.

Integrasi ke dalam kurikulum sangat membantu membangun kesadaran akan isu tersebut di lingkungan masyarakat. Kita dapat belajar dari Jepang tentang mengelola pendidikan kebencanaan. Sejak 1971 Jepang mengintegrasikan pendidikan kebencanaan dalam kurikulum mulai sekolah dasar (Ahmad Yani, 2010).  

Paradigma yang dibangun oleh negara itu ialah suatu komunitas yang berbasis masyarakat, bukan lagi menyoal edukasi secara sederhana seperti tindakan-tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.

Komunitas berbasis masyarakat yang dibentuk tersebut akan bergerak secara mandiri serta gotong royong. Edukasi semacam ini dilandasi kedisiplinan dan ketika bencana terjadi tidak larut dalam kesedihan dan segera bahu-membahu untuk bangkit.

Karakter

Semangat pantang menyerah inilah yang kemudian membangun karakter bangsa Jepang yang tangguh, teliti, rajin, dan penuh semangat kerja sama  dalam menghadapi bencana. Wignyo & Hidehiko (2013) dalam penelitiannya menyimpulkan sekolahan yang mengadopsi isu bencana berbasis kurikulum kurang signifikan pada aspek kesadaran kritis.

Pendidikan kebencanaan di sekolahan tidak memengaruhi tingkat kesadaran terhadap bencana dan persepsi atas risiko. Hal ini disebabkan pendekatan yang berbeda dari pendidikan kebencanaan di sekolah.

Cara pandang terhadap bencana, baik prabencana, saat bencana, maupun pascabencana, semestinya diinternalisasikan pada pembelajaran di sekolahan. Pengelola sekolah perlu menguatkan solidaritas peserta didik.

Peran guru yaitu pada saat prabencana sehingga kegiatan pendidikan kebencanaan dapat dilakukan  dengan  terencana,  terarah, terstruktur, dan terukur. Siswa dididik agar berkarakter tanggap bencana dan berkarakter memperlakukan alam dengan baik dan benar.

Pendidikan kebencanaan akan membangun karakter dan sikap melek bencana sejak kanak-kanak sampai usia dewasa. Hal ini senada dengan yang disampaikan Meneteri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa pendidikan karakter dapat membangun kecakapan siswa dalam menghadapi hal-hal aktual, seperti bencana.

Tantangannya saat ini ialah program pendidikan kebencanaan dapat mendorong masyarakat untuk memperbarui informasi, meningkatkan tingkat persepsi risiko, menjaga kesadaran, serta memperbarui persiapan terhadap bencana pada masa mendatang.

Sebagai tindak lanjut, perlu dikembangkan berbagai pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang mampu mencapai tujuan utama dari pengurangan risiko bencana yang membuat orang memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana, kesiapsiagaan yang membudaya.