Ironi Generasi Salin dan Tempel

Sholahuddin - Dokumen Solopos
10 Januari 2019 16:23 WIB Sholahuddin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (7/1/2019). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Seorang wakil rektor di sebuah perguruan tinggi di Solo mengeluh ihwal perilaku mahasiswa. Saat diberi tugas membuat artikel ilmiah, banyak mahasiswa melakukan  copy and paste (salin dan tempel) dari artikel di Internet.

Mereka menggabungkan begitu saja potongan dari berbagai artikel sehingga jadilah sebuah ”karya ilmiah”.  Menurut sang wakil rektor, artikel yang disadur itu banyak bersumber dari blog-blog pribadi, padahal blog pribadi tidak termasuk sumber kredibel secara akademis.

Keluhan serupa sering saya terima dari kawan-kawan saya yang berprofesi sebagai dosen. Keluhan sang wakil rektor tersebut menyangkut mahasiswa pascasarjana. Ini yang bikin sang dosen makin gemes. Mahasiswa pascasarjana tentu bukan orang sembarangan.

Mereka dididik menjadi ahli dalam disiplin ilmu tertentu, mampu berinovasi, bahkan membuat temuan baru di ranah keilmuan. Sebuah anomali kalau mereka melakukan seperti itu. Pada era serba-Internet, cara salin dan tempel ini memang jadi langkah termudah.

Tinggal ketik kata kunci di mesin pencari, ribuan artikel tersaji di komputer atau telepon pintar kita. Dipilih, dirangkai, jadilah artikel. Praktis bukan? Bandingkan dengan memburu sumber ke perpustakaan, membuka satu per satu literatur.  Repot dan membutuhkan tenaga lebih banyak.

Internet sebenarnya sumber yang kaya. Ada jurnal-jurnal ilmiah, e-book, ada data dan informasi bermutu. Banyak pula konten sampah. Hanya perlu kepintaran dan kehati-hatian ekstra dalam memilih sumber. Begitulah karakter teknologi. Diciptakan untuk mempermudah aktivitas manusia, termasuk kerja-kerja akademis.

Dengan kemudahan memperoleh data dan informasi, manusia diharapkan bisa menciptakan karya yang lebih baik. Di tangan orang malas, teknologi Internet bisa menumpulkan akal waras. Ya, seperti perilaku mahasiswa sang wakil rektor itu.

Meninggalkan Ahli

Beberapa hari setelah ngobrol dengan sang wakil rektor, saya menemukan buku Matinya Kepakaran (The Death Of Expertise) karya Tom Nichols, profesor di US Naval War College dan Harvard Extention School.  Buku ini menarik  karena memotret fenomena mulai memudarnya kepercayaan terhadap kepakaran seseorang.

Orang-orang yang ahli di bidang tertentu mulai ditinggalkan. Buat apa percaya kepada orang ahli? Toh, mesin pencari di Internet bisa menggantikan posisi para ahli. Orang merasa menjadi ahli hanya berbekal secuil informasi di Internet. Bisa ngoceh di media sosial bak seorang pakar.

Fenomena matinya kepakaran juga terlihat ketika orang mulai tidak percaya kepada ilmu pengetahuan mapan yang telah diakui kebenarannya. Penganut paham bumi datar masuk dalam kelompok ini. Orang cenderung lebih percaya kepada tokoh populer panutan. Tak penting pendapat tokoh itu benar atau salah.

Banyak ahli yang melecehkan kepakaran karena sesuatu yang diyakini. Keyakinan yang mengalahkan akal sehat. Hasil kajian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaandan Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2015 menunjukkan para pemakan hoaks banyak pula dari kalangan yang punya intelektual tinggi, seperti para profesor, doktor, dan para akademisi lainnya.

Mereka umumnya dari generasi transisi. Generasi yang lahir saat belum mengenal teknologi Internet. Ketika dewasa baru bersinggungan dengan teknologi digital. Jadilah mereka generasi yang gagap. Tangan terasa gatal jika tidak membagi informasi yang dia terima. Apa pun informasi itu.  

Apakah perilaku mahasiswa yang melakukan salin dan tempel juga bagian dari matinya kepakaran? Sangat mungkin. Fenomena itu menunjukkan mahasiswa tidak menghargai karya para pakar. Mereka lebih percaya karya yang ditemukan sesaat di mesin pencari.

Karya para pakar itu sebenarnya bisa ditemukan di Internet asalkan mereka mau bekerja lebih keras untuk memilih. Para mahasiswa juga tidak menghargai dirinya sendiri sebagai pakar atau setidak-tidaknya calon pakar.  Ironis bukan? Ya, seperti kata Tom Nichols. Para akademisi, perguruan tinggi, para pakar sesungguhnya juga ikut memberi andil matinya kepakaran itu.

Derajat Paling Rendah

Fenomena dalam buku Matinya Kepakaran merupakan potret masyarakat Amerika Serikat (AS). Seperti juga fenomena pos-truth (pasca-kebenaran) yang menggambarkan matinya kebenaran fakta yang digantikan oleh keyakinan.

Pencetusnya orang AS yang kemudian kemudian menjadi fenomena global. Orang-orang Indonesia juga banyak juga yang berperilaku seperti itu, termasuk orang-orang yang mengaku anti-Amerika.

Matinya kepakaran juga karena matinya  nalar publik. Matinya kredo berpikir analitis, mendalam, dan terbuka. Matinya cara berpikir dialektis, mati cara cara berpikir dialogis, mastinya kredo saling memberi pemikiran sekaligus menerima pemikiran orang lain.

Filsuf Jerman, Hegel, mengenalkan konsep berpikir melalui tiga tahap: tesis (pengiyaan), antitesis (penyangkalan), serta sintesis (gabungan, kesimpulan).  Dalam dialektika Hegel, setiap tesis selalu terbuka disangkal. Proses dialog antara ”tesis” dan ”antitesis”  ini akan menghasilkan sintesis atau kesimpulan.

Sintesis memungkinkan menjadi tesis baru, muncul antitesis, dan seterusnya. Dinamis. Ilmu pengetahuan juga sangat terbuka. Temuan ilmu pengetahuan selalu didasarkan pada temuan sebelumnya. Temuan baru ilmu pengetahuan juga terbuka untuk dikoreksi oleh temuan-temuan baru berikutnya.

Tentu saja proses saling mengoreksi harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang benar secara ilmiah. Tidak bisa hanya atas dasar keyakinan. Pada era matinya kepakaran, orang cenderung kukuh pada posisi ”tesis” meski sudah ada penyangkalan.

Tidak mau menerima ”antitesis” yang secara otomatis tidak bisa menuju sintesis. Tidak ada dialektika. Orang meyakini kebenaran hoaks, meski sudah dikasih tahu fakta sesungguhnya. Tetap saja kukuh pada keyakinan yang keliru itu.  Ya, beginilah saat hidup pada era generasi salin dan tempel.

Generasi yang tidak percaya dengan keahlian dan tidak mau menggunakan keahlian untuk berpikir secara benar. Generasi yang hanya menyalin pendapat orang lain kemudian ditempelkan di pikirannya dan kemudian berupaya menempelkan hal yang diyakininnya ke pikiran orang lain. Tak peduli pendapat orang lain itu keliru. Yang penting yakin.  

Caranya? Share (bagikan), forward (teruskan). Toh banyak aplikasi yang mempermudah penyebaran ketidakwarasan ini. Seperti tsunami, dahsyat dampaknya.

Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, potret generasi salin tempel ini merupakan manusia yang paling rendah derajatnya. Mereka orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.  Orang yang  merasa paling tahu, padahal boleh jadi dia tidak tahu apa-apa.  Generasi yang butuh kasih sayang…