Polisi: Munculnya Vanessa Angel Bukan Permintaan Pelanggan

Vanessa Angel (kedua kiri) seusai diperiksa terkait kasus prostitusi online di Gedung Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/1 - 2019). (Antara/Didik Suhartono)
10 Januari 2019 21:30 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, SURABAYA -- Polda Jawa Timur mengungkapkan beberapa artis menawarkan diri kepada muncikari ES dan TN untuk dikendalikan dalam prostitusi online. Dalam kasus Vanessa Angel, pihak muncikari yang menawarkan sang artis kepada calon penyewa.

"Modus perekrutran artis oleh tersangka ES dan TN bervariatif, ada di antaranya yang meminta kepada muncikari," kata Direskrimsus Polda Jawa Timur Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan di Mapolda Jatim di Surabaya, Kamis (10/1/2019).

Yusep mengungkapkan dalam kasus prostitusi daring artis yang melibatkan berinisial Vanessa Angel, muncikari ES terlebih dahulu menawarkan yang bersangkutan kepada calon penyewa.

"Artinya muncikari telah menyiapkan data-data apabila ada permintaan dari penyewa. Munculnya VA [Vanessa] ini bukan permintaan penyewa dari pembicaraan digital," ucapnya.

Dalam kasus pelacuran artis yang melibatkan Vanessa dan Avriellya Shaqqila ini, setidaknya ada 45 artis yang diduga terlibat. Saat ini, dari bukti yang ada pihak Polda Jatim telah mengidentifikasi lima artis terduga kuat terlibat prostitusi di bawah kendali ES dan TN.

Kelima artis itu berinisial AC, TP, dan BS yang dikendalikan muncikari TN. Sementara dua artis lagi berinisial ML dan RF di bawah kendali muncikari ES. "Sudah lima orang yang dapat kami kuatkan dan didukung data digital, baik dalam bentuk komunikasi aktif antara pihak penyedia jasa layanan prostitusi atau muncikari maupun pemberi jasa layanan seksual," katanya.

Dalam kasus ini, polisi menyita tujuh buah ponsel milik dua muncikari itu. Salah satu ponsel itu digunakan untuk sarana komunikasi personal maupun dalam dugaan sebagai alat untuk komunikasi dugaan prostitusi online.

Barang bukti tujuh ponsel itu telah diajukan ke laboratorium forensik (labfor) untuk diambil data digitalnya, baik konten gambar maupun komunikasi dan transaksi keuangan. "Dari data-data tersebut kita bisa menyimpulkan prostitusi online yang dilakukan dua muncikari ini sudah patut sempurna terjadi, kami bisa menerapkan pasal-pasal," ucapnya.

Sumber : Antara

Kolom 1 hour ago

Bahaya Lethong