Kronologi Rusuh Rutan Solo Versi Laskar Umat Islam Surakarta

Proses pemindahan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas 1A Solo, Kamis (10/1 - 2018), seusai keributan yang terjadi pada Kamis pagi. (Solopos/Nicolous Irawan)
10 Januari 2019 18:32 WIB Adib Muttaqin Asfar, Mariyana Ricky Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) menjelaskan kronologi peristiwa yang memicu bentrokan antarnapi di Rumah Tahanan (Rutan) Klas 1A Solo, Kamis (10/1/2019). Menurut versi LUIS, kejadian diawali cerita salah satu napi bernama Ikhsan yang menunjuk napi lain yang diduga pernah memukulnya.

Hal itu diceritakan oleh Humas LUIS, Indro Sudarsono, saat mengunjungi Rutan Solo seusai terjadinya bentrokan. Menurutnya, saat itu ada 30 orang yang membesuk Ikhsan di Rutan. Seusai bertemu sebagian pembesuk itu, Ikhsan menunjuk orang yang menurutnya pernah memukulnya.

"Dalam rangka besuk, sekitar 30-an [orang], besuk. Tapi ada perkara dengan yang dibesuk. Kemudian menyampaikan itu adalah pelakunya, terus kemudian terjadi keributan," kata Indro kepada wartawan, Kamis siang.

Saat itu, kata Indro, Ikhsan menunjukkan orang yang dimaksud. Hal itu yang kemudian diikuti cekcok dan aksi saling lempar.

"Info yang kita terima, teman-teman besuk korban Ikhsan, yang FPI itu. Kemudian dia menunjukkan [ke napi lain] 'dia pelaku yang dulu memukuli saya'. Kemudian ada cekcok itu dan ada lempar-lemparan itu. Sama lawannya Si Ikhsan itu tadi," lanjut Indro.

Namun, Indro tidak menyebutkan nama napi/tahanan lain yang dianggap pernah memukul Ikhsan beberapa waktu lalu. Indro hanya menjelaskan kasus tersebut terjadi di Purwosari.

"Yang [kericuhan di] Purwosari, bukan Solo Baru," katanya.

Kerusuhan antara napi/tahanan dan pembesuk di Rutan Solo itu mengakibatkan satu orang napi terluka di kepala. Belum diketahui identitas napi yang terluka.

Napi yang terluka itu merupakan salah satu dari total 12 napi/tahanan yang dipindah ke rutan atau lembaga pemasyarakatan (LP) lain sebagai buntut dari kerusuhan di dalam rutan tersebut, Kamis pagi.

Para napi itu dipindah dalam tiga kelompok. Pertama terdiri atas Ikhsan, Tedi, Komari, Angger, dan Rohmat diangkut dengan satu barracuda. Kemudian ada Iwan Walet yang seorang diri dalam satu barracuda.

Sedangkan enam orang yang lain dipindah menggunakan mobil tahanan. Enam napi yang terakhir ini dipindah setengah jam setelah pemindahan enam napi sebelumnya.

Kepala Rutan Solo, Muhammad Ulin Nuha, menyebut total warga binaan yang dipindahkan pada Kamis berjumlah 12 orang. Ia tidak memerinci lokasi pemindahan ke-12 napi tersebut.

“Alhamdulillah. Kondisi di dalam sudah kondusif. Hanya kesalahpahaman antarwarga binaan. Polres sudah memindahkan [napi] ke beberapa tempat,” kata dia.