Ihwal Nalar Akademis Dosen

Abdul Gaffar - Istimewa
09 Januari 2019 21:15 WIB Abdul Gaffar Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (7/1/2019). Esai ini karya Abdul Gaffar, mahasiswa Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah c.guevar@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Pidato pengukuhan guru besar bidang ilmu filsafat di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Al-Makin, yang berjudul Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia? Keilmuan, Birokrasi, dan Globalisasi pada 8 November 2018 lalu mengguncang dunia akademis--dunia para dosen dan ilmuwan—di negeri ini.  

Dalam kegelisahan akademisnya,  Profesor Al-Makin menyebut bangsa Indonesia masih mengidap inferioritas kompleks serta belum mampu menelurkan ilmuwan karena kurang serius dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Ia juga berkata aktivitas dosen lebih didominasi oleh kesibukan bersumber sejumlah aturan, seperti  finger print, beban kerja, laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP), laporan remunerasi, surat izin, surat tugas, penilaian kerja, dan kenaikan pangkat.

Birokrasi akademis menjadi bagian penghambat kebangkitan ilmuwan di Indonesia. Pada era milenial ini apa yang disampaikan Profesor Al-Makin adalah bukti nyata bahwa birokrasi menjadi bagian dari mental para akademisi kampus bahkan sudah menjadi darah daging.

Birokrasi telah mampu mengontrol perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan para dosen. Laku prosedural semacam ini dianggap banyak menghabiskan energi. Energi para dosen habis di urusan birokrasi dan administrasi yang sangat rumit.

Akibat dari itu semua, universitas terkesan sangat membelenggu para dosen yang seharusnya mengembangkan nalar akademis mereka. Nalar akademis mereka tak berkembang lantaran dibenturkan dengan formalitas seperti beban administrasi.

Imajinasi dan Kreativitas

Hampir tidak tersisa lagi ruang bagi dosen untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas intelektual. Oleh sebah itulah, terjadi krisis nalar mentalitas keilmuan yang sangat kompleks di negeri ini.

Temuan Profesor Al-Makin menurut saya adalah fakta memang ada pendorong bagi tumbuh suburnya ”komodifikasi pengetahuan” sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang sangat tidak memihak, bahkan terkesan merugikan, para akdemisi (dosen) yang seharusnya berkembang dengan mengadakan penelitian kreatif inovatif.

Ironisnya, para dosen lebih senang menerima komodifikasi pengetahuan, bahkan tidak mau tahu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di ranah global. Lembaga pendidikan tinggi cenderung lupa pada fungsi untuk mengembangkan dan mempersiapkan civitas academica merespons masalah-masalah dirinya sendiri maupun kebangsaan melalui penelitian.

Contohnya sederhana saja. Untuk mengupas masalah-masalah sosial, politik, dan budaya para dosen masih saja bergantung pada ilmuwan sosial asing. Mereka selalu mengacu Clifford Geertz, Daniel S. Lev, William Liddle, Richard Robinson, Herbert Feith, J.A.C. Macky, dan Ben Anderson.

Mereka memang ilmuwan sosial yang mendalami masalah-masalah dalam negeri ini. Idealnya universitas memosisikan diri menjadi diskursus tandingan (the counter of discourse) terhadap diskursus atau wacana yang sedang menghegemoni dan ”menindas” agar arus perubahan global selalu terjaga.

Proses perubahan keilmuan begitu pesat dan cepat, menuntut  kedudukan dan fungsi universitas mewujud dalam peran nyata dengan memerdekakan kaum intelektual. Kualitas universitas ditentukan oleh kemampuan dalam melayani kebutuhan civitas academica untuk berkembang dan bersaing secara global.

Tidak Wajar

Universitas seharusnya menjadi kontributor bagi peningkatan keilmuan sebagai modal untuk memperbaiki tatanan sosial dan budaya bangsa. Kita tidak perlu repot untuk membedakan dosen yang hanya sibuk dengan persoalan administrasi dan dosen yang benar-benar serius mengembangkan nalar akademis (idealis).

Dosen idealis benar-benar memiliki kesadaran nalar akdemis yang beroreintasi pengembangan keilmuan di universitas. Dosen administratif tentu kesehariannya hanya sibuk dengan urusan ”stempel basah”.

Dosen administrative jamak sibuk mengurus publikasi guna mengejar karier kepangkatan akademis menuju jenjang guru besar sebagai dalih argumentatif dalam meningkatkan kesejahteraan walapun pada faktanya melakukan plagiat dan terjebak pada jurnal-jurnal terindeks abal-abal (predator).

Ha ini diperkuat temuan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada akhir 2018. Saat itu mengemuka dugaan ditemukan indikasi pelanggaran etika dalam sejumlah karya ilmiah terpublikasi internasional yang dilakukan akademisi. 

Indikator ketidakwajaran yang dimaksud adalah melakukan self citation (sitasi dari karya sendiri), jumlah publikasi ilmiah yang tidak wajar, hingga keterlibatan penulis ”hantu” (ghost author).

Pasti Bisa

Profesor Al-Makin mempertanyakan bisakah kita serius dalam berpikir, menulis, dan memiliki dedikasi dalam bidang ilmu? Ia yakin kita bisa dan pasti mampu. Indonesia pasti bisa melahirkan ilmuwan, cendikiawan, atau pemikir, sebagaimana Indonesia telah mampu melahirkan para politikus yang andal bermanuver dalam segala lini dan taktik.

Sebagai pusat pengembangan akedemis, universitas memiliki arti konotasi kaum ilmuwan yang bisa memahami kebenaran melalui penalaran akademis yang mencerahkan. Artinya, universitas harus mampu mengubah pola pikir para dosen ke arah paradigma kreatif inovatif tanpa terjebak pada persoalan administratif.

Diperlukan terobosan-terobosan baru dalam merekonstruksi kultur akademis, terutama dalam pengembangan tridharma perguruan tinggi, sehingga diharapkan mampu memberi sumbangsih pemikiran intelektual disertai gerakan dan kesadaran nyata berdasarkan landasan terdalam dari keyakinan masing-masing yang dilengkapi dengan sumber-sumber yang kaya untuk dijadikan pencerahan publik (masyarakat).

Universitas hadir sebagai acuan bagi nalar berpikir kritis subtantif. Kesadaran tentang gerakan menulis dan penelitian adalah harga mati. Jangan sampai para dosen merasa terasing di dunia mereka sendiri lantaran malas menulis dan meneliti.

Indikator dosen yang kaya gagasan akademis adalah jika mampu melahirkan ide dan analisis dalam bentuk tulisan yang tidak lain hasil penelitian serta memiliki dampak positif bagi kehidupan masyarakat.