Pesona Puncak Gunung Gede Gunungkidul

Wisatawan menikmati Puncak Gunung Gede, di Desa Getas, Playen, Jumat (4/1 - 2019). (Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo)
09 Januari 2019 05:00 WIB Herlambang Jati Kusumo Nasional Share :

Solopos.com, GUNUNGKIDUL — Sudah pernah ke Gunung Gede Gunungkidul?Wisatawan yang mengunjungi wilayah Gunungkidul akan disajikan dengan berbagai wisata alam yang menarik. Tidak hanya pantai, tetapi juga bentang alam lainnya, salah satunya Puncak Gunung Gede, di Desa Getas, Kecamatan Playen.

Di objek wisata ini wisatawan akan disajikan dengan pemandangan pepohonan yang hijau dan asri dari atas ketinggian. Selain itu wisatawan juga dapat melihat Gunung Merapi dari puncak ini.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gunung Gede, Sukardi mengungkapkan pengembangan wisata ini sudah berlangsung dua tahun terakhir. Beberapa spot selfie juga mulai dibangun di puncak Gunung Gede. Saat masuk objek wisata ini wisatawan akan melewati jembatan yang terbuat dari bambu untuk memudahkan wisatawan menuju puncak Gunung Gede.

“Sudah ada spot selfie. Pemandangan yang disajikan disini, baik sunset dan sunrise terlihat. Kalau pagi juga disini aka nada kabut, jadi seperti ada diatas kabut,” ujar Sukardi, Minggu (6/1/2019).

Untuk masuk di objek wisata ini wisatawan hanya perlu membayar parkir sebesar Rp2.000 untuk motor dan untuk mobil sebesar Rp5.000. Pemasukan tersebut dimanfaatkan oleh pihak pengelola untuk pengembangan fasilitas objek wisata.

Saat ini sendiri sejumlah fasilitas, selain spot foto juga sudah ada gazebo, toilet, musala. Sukardi mengungkapkan kendala yang dihadapi dalam pengembangan objek wisata ini yaitu minimnya anggaran dan jumlah pengelola yang masih sedikit, sekitar 20 orang.

Meski begitu dikatakannya dengan keterbatasan yang ada, tetap coba dikembangkan potensi wisata tersebut. Setidaknya dalam satu hari ada 25 kunjungan, dan jika akhir pekan bisa mencapai ratusan kunjungan.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Hary Sukmono mengungkapkan saat ini memang wisata puncak Gunung Gede belum masuk pengelolaan Dispar, dan masih dikelola komunitas.

Meski begitu dikatakan Hary dalam penguatan kelembagaan komunitas akan digandeng pelatihan maupun pengukuhan lembaga Pokdarwis tersebut agar mampu melayani wisatawan sesuai kadiah-kaidah sapta pesona, karena Pokdarwis sebagai wadah para pelaku wisata di sekitar destinasi tersebut.

Hary menghimbau untuk pengelolaan wisata dapat berkomunikasi dengan Dinas agar ada pendampingan dari Dispar baik dari sisi objeknya, Sumber Daya Manusianya, maupun aturannya. “Hal tersebut untuk sinergi antar kelompok dengan pemerintah dalam pelayanan kewisataan,” kata Hary.

Sumber : Harian Jogja