Diplomat AS Sakit Gara-Gara Jangkrik?

Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Havana, Kuba. - Wikipedia.org
08 Januari 2019 20:29 WIB R Bambang Aris Sasangka Internasional Share :

Solopos.com, NEW YORK – Saat sejumlah diplomat Amerika Serikat dan keluarga mereka di Kuba pada 2016 dan 2017 melaporkan mendengar suara-suara aneh dan lantas mengaklaim berbagai gangguan fisik seperti pusing, gejala vertigo, serta rasa sakit dan suara berdengign di telinga, Departemen Luar Negeri AS mengira semua itu disebabkan “serangan akustik” oleh senjata sonik.

Pada Oktober 2017, kantor berita Associated Press mendapatkan dan menyiarkan contoh rekaman suara yang disebut terkait dengan insiden itu. Namun pemerintah AS tak bisa mengidentifikasi suara itu dan para pejabat Kuba juga membantah dugaan bahwa ada serangan dengan senjata suara terhadap para diplomat AS.

Namun seperti diberitakan CNN pada Senin (7/1/2019), para ilmuwan yang mempelajari rekaman suara itu menduga bahwa suara yang digambarkan para diplomat yang mendengarnya sebagai “dengungan, gesekan logam, dan jeritan bernada sangat tinggi” itu sebagai suara jangkrik atau jengkerik. Bahkan “tersangka”-nya juga bisa diidentifikasi yaitu jengkerik dari spesies Anurogryllus celerinictus, jenis jengkerik yang biasa ditemukan di kawasan Karibia.

Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan pada Jumat (4/1/2019), seorang ilmuwan Inggris dan seorang ilmuwan AS yang bersama-sama menyelidikinya menyebut suara jengkerik itu “sangat mirip dengan rekaman dari kantor berita AP dalam hal durasi, rerata daur pengulangan suara, spektur kekuatan suara, stabilitas frekuensi, dan tingkat osilasinya.” “Rekaman dari AP juga menunjukkan adanya ciri khas dalam produksi suara oleh jengkerik,” tulis kedua ilmuwan yang meneliti suara itu yaitu Fernando Montealegre-Zapata, profesor biologi sensori University of Lincoln di Inggris, dan Alexander Stubbs dari University of California, Berkeley, AS.

Meski begitu kedua ilmuwan itu juga menyatakan tetap ada kemungkinan suara yang didengar oleh para diplomat itu dan kemudian memicu gangguan kesehatan memang merupakan hasil serangan senjata tertentu atau berasal dari peralatan tertentu. Mereka menyatakan penelitian mereka tidak menjangkau kemungkinan lain penyebab gangguan suara itu.

Berbagai penelitian selama ini juga telah dilakukan untuk memastikan apa penyebab gangguan suara itu. Namun hingga kini belum ada hasil yang didapat. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal medis JAMA pada Maret 2018 lalu menyebut aneka gejala yang dialami 21 anggota staf Kedubes AS di Kuba itu di antaranya berupa gangguan memori, konsentrasi, keseimbangan, penglihatan, pendengaran, tidur, dan sakit kepala, yang dialami selama lebih dari tiga bulan. Tiga orang kemudian bahkan membutuhkan pemasangan alat bantu dengar untuk mengatasi gangguan pendengaran sedang dan parah, sementara sejumlah orang lainnya melaporkan adanya suara berdenging atau tekanan di dalam telinga. Sebuah penelitian lain yang diumumkan sebulan lalu menyebut sebanyak 15 laki-laki dan 10 perempuan mengalami gejala yang mirip “cedera traumatis ringan pada otak yang disebabkan dampak ledakan atau benturan.”

Sumber : Reuters

Kolom 57 minutes ago

Ekonomi Berkeadilan