Guguran 30 Kali Sehari, Kebanyakan Cuma Dalam Kawah Merapi

Gunung Merapi terlihat dari Pos Pengamatan Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. (Antara/Bambang Dwi Marwoto)
07 Januari 2019 21:00 WIB Sunartono Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA -- Gunung Merapi mengeluarkan guguran lava mencapai 30 kali dalam sehari dengan jarak luncuran antara 200 hingga 600 meter. Meski intensitas guguran akhir-akhir ini sering terjadi, namun Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY belum berencana menaikkan status Merapi.

Masyarakat lereng merapi diimbau untuk tetap tenang dan tidak beraktivitas pada radius 3 km dari puncak Gunung Merapi. Kasi Gunung Merapi BPPTKG DIY Agus Budi Santoso menjelaskan pasca terjadi guguran lava dengan jarak luncuran sejauh 1,2 kilometer pada Jumat (4/1/2018) malam lalu, guguran terjauh yang terjadi hanya 600 meter.

Dia mengatakan saat ini rata-rata guguran mencapai 30 kali setiap harinya namun tidak semuanya dapat terpantau karena sangat tergantung kondisi cuaca. "Kalau jumlah guguran ada banyak, sekitar 30-an kali, tetapi yang teramati hanya beberapa, seringnya sih [jarak luncuran guguran] hanya 200 meter, ada 300 meter," ungkapnya, Senin (7/1/2018).

Budi menambahkan dengan jarak luncuran lava yang tidak lebih dari 1 kilometer, Merapi masih sangat aman karena material tidak sampai ke hulu Sungai Gendol. Material vulkanis hanya meluncur di seputar kawah dan bahkan lebih banyak di dalam kawah.

Belum ada aktivitas Merapi yang berimplikasi pada peningkatan ancaman bahaya ke penduduk. Karena itu rekomendasi daerah bahaya masih pada radius 3 kilometer. Budi memastikan aktivitas Merapi saat ini belum memenuhi kriteria peningkatan status sehingga status masih waspada. "Selama itu belum berubah ya belum ada evaluasi," katanya.

Aktivitas guguran yang tergolong dominan, lanjutnya, masih dalam taraf wajar karena sedang dalam pertumbuhan kubah lava. Ia mengimbau kepada warga di sekitar lereng merapi agar tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak perlu panik atau takut. Pasalnya erupsi Merapi saat ini cenderung lemah dibandingkan erupsi sebelumnya.

"Erupsi saat ini justru kembali pada erupsi lama, yang selama ini masyarakat sekitar lereng sudah mengenal, insya Allah masyarakat tahu bahwa erupsi semacam ini tidak berbahaya," ucapnya.

Sumber : Harian Jogja