SGS Memacu Industri Kreatif

Edy Purwo Saputro - Dokumen Solopos
06 Januari 2019 18:42 WIB Edy Purwo Saputro Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (4/1/2019). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Tantangan pada 2019 semakin kompleks. Perekonomian di Kota Solo dan Soloraya diharapkan mampu memberdayakan semua potensi dan memanfaatkan serta mewujudkan prospek yang lebih baik.

Paling tidak hal ini terkait dengan tahun politik dan segala pernik-perniknya. Hajatan tahunan Solo Great Sale atau SGS pada 2019 diharapkan bisa memacu geliat ekonomi di kawasan Soloraya. SGS yang dilakukan setiap 1-28 Pebruari diharapkan memberikan kontribusi riil terhadap perekonomian Soloraya.

Paling tidak hal ini menjadi spirit menapaki awal tahun dan berlanjut sampai akhir tahun. Oleh karena itu, pencapaian pada SGS 2018 harus dicermati demi kesuksesan SGS 2019. SGS 2018 dengan target peserta 5.000 tenant terealisasi 5.631 tenant.

Mereka terdiri atas mal, supermarket, pusat perbelanjaan, maskapai penerbangan, kereta api, biro perjalanan, hotel, restoran, industri kreatif, dan lain-lain. Yang menarik dari SGS 2018 adalah keterlibatan 44 pasar tradisional.

Target distribusi kartu pada SGS 2018 sekitar 40.000 lembar meski akhirnya tercapai 49.829 lembar. Target transaksi pada SGS 2017 senilai Rp145 miliar dan tercapai Rp245 miliar sedangkan pada 2018 dari target Rp425 miliar dapat terealisasi Rp533 miliar.

Pencapaian itu tidak terlepas dari koordinasi semua pihak pendukung SGS, termasuk unit-unit kerja terkait di Pemerintah Kota Solo. Oleh karena itu, pada 2019 diharapkan SGS memacu geliat ekonomi domestik di Soloraya dan berdampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi dan bisnis serta membangkitkan ekonomi kreatif di Soloraya.

Efek Berantai 

SGS diharapkan meningkatkan perdagangan, bisnis, dan pariwisata di Kota Solo dan lebih luas lagi di Soloraya. Implikasi lebih luas dari SGS adalah kebangkitan industri kreatif di Kota Solo. Harapan ini tentu tidak berlebihan terutama setelah dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

SGS juga diharapkan membangkitkan semangat pedagang di berbagai pasar tradisional. Yang tidak bisa diabaikan dari SGS adalah geliat di sektor pariwisata, terutama karena Kota Solo dalam lima tahun terakhir berkembang bisnis perhotelan sehingga diharapkan berpengaruh signifikan terhadap ekonomi domestik.

Sinergi antara SGS dan geliat ekonomi di Kota Solo, Soloraya, serta ekonomi kreatif tidak terlepas dari komitmen pemerintah memerhatikan industri kreatif, terutama mengacu potensi dan daya serap industri kreatif itu sendiri.

Oleh karena itu, fakta tantangan ekonomi pada tahun politik 2019 tampaknya tidak bisa dilepaskan dari tuntutan untuk memacu pengembangan berbagai basis ekonomi kreatif. Konsekuensi dari komitmen tersebut, pemerintah kini gencar menumbuhkembangkan industri kreatif yang melibatkan perguruan tinggi.

Hal ini didasarkan pada pertimbangan mata rantai dari penumbuhkembangan industri kreatif ternyata sangat kompleks dan cenderung bersifat padat karya. Penumbuhkembangan industri kreatif juga sejalan dengan komitmen pemerintah memacu pemberdayaan sektor informal.

Industri kreatif kini semakin dilirik banyak pihak. Perkembangan industri kreatif di dunia kini sangat signifikan dan selatas dengan pertumbuhan fenomena SOHO atau small office home office.

Definisi industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan melalui pembukaan lapangan kerja dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu. 

Indikator

Pemerintah menegaskan indikator untuk melihat keberhasilan industri kreatif ada tiga. Pertama, berbasis nilai pendapatan domestik bruto (PDB) yang terdiri atas nilai tambah bruto industri kreatif, persentase terhadap PDB, dan pertumbuhan tahunan nilai tambah bruto.

Kedua, berbasis ketenagakerjaan yang terdiri atas jumlah tenaga kerja, persentase jumlah tenaga kerja, pertumbuhan jumlah tenaga kerja, dan produktivitas tenaga kerja. Ketiga, berbasis aktivitas perusahaan yang terdiri atas jumlah perusahaan dan nilai ekspor (jika sudah melakukan ekspor).

Artinya, potensi industri kreatif sangat terbuka diberdayakan dan ruang-ruang seni memungkinkan munculnya kreativitas yang berpotensi menghasilkan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja. Ruang-ruang seni tersebut banyak di Solo (dan Soloraya) yang artinya ini sangat berpeluang untuk dikembangkan sebagai basis ekonomi kreatif di Solo dan juga Soloraya. 

Menurut Jacob Oetama (2008), Indonesia perlu terus mengembangkan industri kreatif karena industri kreatif memberi kontribusi signifikan pada perekonomian. Industri kreatif menciptakan iklim bisnis yang positif dan  membangun citra serta identitas bangsa.

Industri kreatif berbasis pada sumber daya yang terbarukan, menciptakan inovasi berbasis kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif bangsa, serta memberikan dampak sosial yang positif. Untuk menggerakkan industri kreatif diperlukan beberapa faktor.

Faktor-faktor tersebut adalah arahan edukatif, memberi penghargaan terhadap insan kreatif, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. Bagaimanapun juga saat ini ekonomi industrial telah beralih ke ekonomi kreatif dan industri kreatif menjadi lokomotif. Kini hanya ada satu suara: inovasi atau mati. Inovasi sangat lekat dengan kreativitas.

Berhasil 

Secara matematis jika penumbuhkembangan industri kreatif berjalan lancar bisa diestimasi industri kreatif memberi kontribusi 6,3% terhadap PDB dan menyerap 4,9 juta tenaga kerja. Industri ini juga diprediksi menyumbang terhadap total ekspor sebesar 8%.

Dari 14 industri kreatif yang berkembang ada tiga jenis industri kreatif menjadi penopang PDB, yakni kerajinan, fesyen, dan periklanan. Sebanyak 14 industri kreatif tersebut adalah kerajinan, periklanan, arsitektur, pasar seni (barang antik), desain, fesyen, film (video), fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan (percetakan), layanan komputer  (peranti lunak), radio dan televise, serta riset dan pengembangan.

Pemerintah menyiapkan rancangan pengembangan industri kreatif dalam tiga tahap, yaitu jangka pendek (2008-2009, jangka menengah (2009-2015), serta jangka panjang (2009-2025). Ekonomi kreatif pada dasarnya tidak bisa lepas dari kiprah industri kreatif yang saat ini banyak dibicarakan dan mayoritas industri kreatif cenderung bersifat informal.

Dalam konteks ancaman krisis global, peningkatan jumlah pengangguran, serta semakin terbatasnya daya serap sektor formal di perkotaan maka wajar kalau wacana tentang industri kreatif kian menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Keberhasilan atas pengembangan industri kreatif akan memberi kontribusi terhadap ekonomi nasional dan pemberdayaan bagi industri kreatif juga akan memicu kinerja ekonomi daerah di era otonomi daerah yang saat ini semakin getol mengejar pendapatan asli daerah.