Kanker Sepak Bola Indonesia

Rumi Iqbal Doewes - Istimewa
05 Januari 2019 10:15 WIB Rumi Iqbal Doewes Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (3/1/2019). Esai ini karya Rumi Iqbal Doewes, pengajar keolahragaan di Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah king.doewes@staff.uns.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Di ranah sepak bola ada dua macam penyakit yang sangat berpotensi mematikan cabang olahraga paling masyhur ini, yaitu korupsi dan holiganisme (hooliganism).

Korupsi itu berbentuk macam-macam,  seperti suap, judi, sampai dengan jual beli pertandingan. Pelaku korupsi ini bisa wasit tingkat kecamatan, pemain kompetisi antarkampung (tarkam), pengurus klub, pengurus federasi, anggota komite eksekutif, sampai dengan presiden federasi.

Hantu korupsi tampaknya tidak hanya membayangi federasi sepak bola yang prestasinya masuk kasta ”negara-negara dunia ketiga” seperti Indonesia, tapi juga sampai ke tingkat konfederasi seperti konfederasi sepak bola asia (AFC), bahkan juga ke tingkat petinggi FIFA.

Sudah lama beredar kabar superbody sepak bola itu sarat dengan korupsi. Kabar itu memang nyata. Kasus paling akhir adalah dugaan jual beli suara bidding tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 oleh dua anggota komite eksekutif FIFA, Amos Adamu dan Reynald Temarii.

Kasus ini tampaknya hanyalah puncak gunung es. Sejak kepemimpinan Sepp Blatter, FIFA memang banyak disorot sebagai organisasi korup. Ketika terpilih sebagai Presiden FIFA pada 1998, kubu Blatter dituding melakukan politik uang.

Tak mengherankan sejak FIFA dibawah kendali Blatter sejumlah kasus mencuat dan kasus Adamu serta Temarii tampaknya bukan yang terakhir. Sudah dua pekan sepak bola Indonesia ramai diperbincangkan. Bukan karena prestasi, melainkan terbongkarnya kasus pengaturan skor atau match fixing and money laundering.

Hal ini menunjukan sepak bola negeri ini sedang dalam keadaan sakit, setidaknya kanker  ”stadium empat”. Masalah pengaturan skor di sepak bola Indonesia sebenarnya bukan masalah baru. Berbagai kasus ganjil terjadi di kompetisi Indonesia, bahkan ada yang menyangkut tim nasional Indonesia.

Pencinta sepak bola Indonesia pasti masih ingat kasus yang menimpa Ramang, pemain legendaris dari Makassar. Ia dianggap bersalah dan tak boleh tampil di sepak bola seumur hidup karena dianggap terlibat dalam kasus pengaturan skor di Kejuaraan Nasional PSSI 1961.

Kala itu ia dianggap tampil tak normal karena dengan sengaja banyak membuang peluang saat PSM Makassar melawan Persebaya Surabaya. Hal itu berdasarkan hasil investigasi internal PSM dan federasi. Ada juga kasus Persebaya yang terlibat dalam ”sepak bola gajah”.

Pada pengujung fase penyisihan grup Wilayah Timur, skuat Bajul Ijo curang demi menyingkirkan PSIS Semarang. Ketika itu mereka sengaja mengalah dengan skor telak 0-12 pada laga terakhir melawan Persipura Jayapura di Stadion Gelora 10 November pada 21 Februari 1988.

Tak Merasa Bersalah

Seluruh jajaran tim, pengurus dan pemain, tak merasa bersalah atas kasus tersebut. Mereka malah bangga bisa menyingkirkan PSIS yang dianggap musuh utama. Mereka menyebut ini strategi untuk memenangi perang. Di kompetisi Galatama juga demikian.

Saat liga digulirkan, kasus suap mencuat. Pemilik klub Warna Agung, Benny Moyono, geram karena beberapa pemain klub tersebut disuap oleh bandar judi. Ketika itu PSSI mebuat tim antisuap yang dipimpin Acub Zainal, tapi tak sekali pun kasus tersebut diselesaikan dengan tuntas.

Kasus dibawa ke ranah hukum, tetap hasilnya nihil. Di media massa era 1990-an sebenarnya ada pemberitaan beberapa kasus serupa. Sampai kompetisi dinyatakan harus profesional dan tanpa menggunakan dana APBD, kasus tersebut tetap saja terjadi.

Sebut saja kasus sepak bola gajah antara PSS Sleman dan PSIS Semarang yang terjadi pada 26 Oktober 2014. Insiden yang memalukan tersebut lantas terpatri dalam buku riwayat perjalanan buruk sepak bola Indonesia yang akan terus diingat.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan Udara Yogyakarta, skuat berjulukan Super Elang Jawa yang saat itu dilatih Herry Kiswanto menang dengan skor tipis 3-2 atas PSIS Semarang. Lima gol yang terjadi sepanjang pertandingan merupakan gol bunuh diri yang dibuat pemain ke gawang sendiri. Kedua tim sejatinya sama-sama tidak ingin meraih kemenangan.

Mereka berlomba mengalahkan timnya sendiri karena tidak ingin bertemu Pusamania Borneo FC yang menunggu di babak semifinal. Tidak mengherankan kejadian kelam tersebut tercium hingga mancanegara dan jadi pemberitaan hangat media-media asing.

Daily Mail memberitakan keanehan lima gol yang tercipta dan melampirkan video parade gol tersebut. Federasi sepak bola dunia FIFA turun gunung menelusuri sepak bola gajah PSIS versus PSS. Saat itu Komisi Disiplin PSSI memutuskan dua tim itu didiskualifikasi dari babak delapan besar Divisi Utama.

Sikap tidak sportif tersebut mengakibatkan seluruh jajaran dua tim itu dihukum berat oleh federasi berikut denda. Pada 2018 kembali muncul pengaturan pertandingan di liga Indonesia. Patut diapresiasi kerja cepat Kementerian Pemuda dan Olahraga yang mendukung dengan berbagai upaya untuk menuntaskan kasus tersebut.

Kini ada babak baru revolusi sepak bola dengan membongkar kasus ini. Respons positif juga ditunjukan Mabes Polri  dan Polda Metro Jaya dengan membentuk Satuan Tugas Antimafia Sepak Bola guna mengusut dugaan pengaturan skor di sepak bola Indonesia.

Satuan Tugas Antimafia Sepak Bola dibentuk dengan surat perintah Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian pada 21 Desember 2018. Tim ini diketuai Brigadir Jenderal Polisi Hendro Pandowo dan Wakil Ketua Satuan Tugas Antimafia Sepak Bola Brigadir Jenderal Polisi Krishna Murti.

Satuan tugas ini terdiri atas 145 orang anggota. Bagian penegakan hukum dipimpin Komisaris Besar Polisi Roycke H. Langie. Isu pengaturan skor mencuat lagi setelah Manajer Madura FC, Januar Herwanto, membuat pengakuan.

PSSI Tak Mampu

Januar mengungkapkan dirinya pernah ditawari sejumlah uang oleh anggota Komite Eksekutif PSSI, Hidayat, agar timnya mengalah saat bertanding melawan PSS Sleman di Liga 2. Satuan tugas ini dibentuk berdasar banyak masukan dari berbagai pihak dan setelah melihat PSSI tidak mampu bekerja untuk mengatasi.

Kepolisian saat ini bergerak mengumpulkan data awal mengenai dugaan pengaturan skor. Empat orang tersangka telah ditangkap Satuan Tugas Antimafia Sepak Bola, yaitu Johar Lin Eng, Priyanto (Mbah Pri), Anik Yuni Artikasari (Tika), dan Mbah Putih yang nonaktif dari Komisi Disiplin PSSI.

Kalau pengelolaan sepak bola Indonesia berkaca pada beberapa negara mungkin sekarang sudah maju. Bolehlah kita tengok Vietnam. Sekilas sepak bola di Vietnam sama seperti di Indonesia dan sama-sama berada di Asia Tenggara. Sepak bola adalah olahraga yang paling populer di Vietnam.

Federasi sepak bola Vietnam awalnya dijalankan oleh Vietnam Football Federation (VFF) yang sekarang memiliki liga utama dengan nama V.League 1. V.League dicetuskan pada 1980 dengan status liga semiprofesional dan liga sepak bola di Vietnam berubah status menjadi profesional pada musim 2000/2001.

Pada musim itu juga nama V.League mulai dipakai. Dalam musim perdana V.League hanya terdapat 10 kesebelasan akibat penerapan standar yang ketat. Perjalan sepak bola Vietnam hingga sampai seperti sekarang ini sangatlah panjang dan berliku-liku.

Beberapa masalah sempat mereka hadapi. Fanatisme berlebihan mengakibatkan bencana. Contohnya pada Agustus 1999. Saat itu dilaporkan empat orang tewas dan 150 luka-luka dalam perayaan di jalanan setelah Vietnam menang 2-0 atas Myanmar di babak penyisihan grup SEA Games.

Setelah itu mengemuka kasus perjudian sepak bola pada pertengahan 2000-an. Pasar taruhan sepak bola Vietnam diperkirakan bernilai sekitar satu miliar dolar Amerika Serikat per tahun. Kasus suap dan penyimpangan lainnya yang melibatkan sepak bola dan perjudian adalah masalah yang mengakar di Vietnam.

Pada Desember 2006 terjadi skandal pengaturan pertandingan yang melibatkan delapan pemain di tim nasional U-23 Vietnam. Mereka dituduh menerima suap dari sindikat judi untuk pengaturan skor pertandingan melawan Myanmar pada SEA Games di Filipina.

Pengadilan memutuskan saat bermain melawan Myanmar para pemain Vietnam sengaja menahan selisih gol kemenangan Vietnam pada angka satu gol. Sebagai imbalan mereka telah dijanjikan total 15.000 dolar Amerika Serikat oleh bandar judi.

Pada 2007 tujuh orang wasit dan dua orang pejabat olahraga Vietnam dinyatakan bersalah dalam kasus pengaturan skor dengan nilai suap mencapai 8.440 dolar Amerika Serikat.

Setelah banyak kasus ditambah musim kompetisi yang kacau akibat tuduhan korupsi wasit dan VFF yang tidak mau buka-bukaan terhadap kasus tersebut, enam kesebelasan mengancam meninggalkan liga dan berencana membentuk liga baru pada 2012.

Jauh dari Politik

Para pejabat liga kemudian bergegas menyelesaikan masalah dengan mempekerjakan wasit asing untuk musim 2012. Kekuatan mengatur liga dipindahkan dari Vietnam Football Federation (VFF) ke (Vietnamese Professional Football  (VPF).

Nama V.League juga sempat berubah menjadi Super League, meskipun tidak lama setelah itu nama V.League kembali dipakai pada musim selanjutnya. Divisi di bawahnya diberi nama V.League 2. Saat ini VPF dikelola kalangan profesional dan jauh dari interupsi politik. Kasus pengaturan skor juga terus diurus oleh polisi.

Vietnam telah menunjukkan kesulitan dalam memenuhi standar tinggi mengikuti liga, tapi mereka berusaha keras bisa memenuhi standar itu. Kasus demi kasus seakan-akan tak pernah berhenti mencuat. Kasus demi kasus itu diikuti dengan penyelesaian yang serius.

Wasit, pemain, dan pengurus kesebelasan yang tersangkut kasus judi dihukum. Hukuman bukan hanya dari federasi sepak bola, tapi juga melibatkan kepolisian. Liga mereka juga beberapa kali berubah format karena ingin  mendapatkan yang ideal.

Jumlah klub naik turun, tapi itu adalah dampak dari rasionalisasi pengelolaan sepak bola. Guna menghindari kebangkrutan di tengah kompetisi, mereka menerapkan aturan tegas soal garansi simpanan uang yang harus disetorkan sebuah kesebelasan untuk menjamin bahwa kebutuhan pokok (gaji pemain dan lain-lain) tidak akan tertunggak.

Mereka menerapkan itu dengan tegas. Tentu saja liga di Vietnam masih jauh dari ideal, tapi mereka memperlihatkan keseriusan menuju yang lebih baik. Keadaan mungkin tidak terlalu jauh berbeda dengan sepak bola di Indonesia, tapi keseriusan itulah yang membedakan Vietnam.

Setidaknya prestasi Vietnam cukup fenomenal, yaitu keberhasilan tim nasional Vietnam U-23 ke final Piala AFC U-23 pada 2018. Di Piala AFC U-23 bercokol raksasa-raksasa Asia. Vietnam hanyalah ”tim kecil" yang belum pernah unjuk gigi di level Asia, terutama di ajang Piala AFC U-23.

Masalah pengaturan skor dan korupsi juga pernah terjadi di Tiongkok dan mendarah daging. Pada 2010 dua pemegang tanggung jawab tertinggi di Chinese Football Association (CFA), yaitu Nan Yong dan Yang Mimin, ditangkap karena kasus pengaturan skor.

Akibat dari pengaturan skor dan korupsi tersebut masyarakat Tiongkok yang terkenal cukup fanatik terhadap olahraga paling digandrungi di dunia ini pun mulai tidak percaya dengan kredibilitas sepak bola di negara mereka. Mereka mulai meninggalkan sepak bola di negeri mereka sendiri.

Situasi tersebut semakin memburuk ketika tim nasional Tiongkok tersingkir dari Piala Dunia 2002 tanpa mencetak satu gol pun. Para investor dan sponsor ramai-ramai menarik diri dari kompetisis domestik.

Melawan Ketidaksportifan

Ini membuat kondisi finansial pemain semakin memburuk. Dalam memberantas pengaturan skor tersebut, gerakan ini menganut prinsip ketidaksportifan harus dibalas dengan ketidaksportifan.

Mereka melakukan semacam penangkapan secara terselubung orang-orang yang terlibat dengan sepak bola. Orang-orang yang tertangkap tersebut dipaksa menyebut nama-nama yang terlibat dalam pengaturan skor. Media massa mendukung aksi tersebut.

Ini terbukti ketika media massa melaporkan orang-orang yang tetangkap tersebut dengan hanya menyebut mereka tidak terlihat di tempat kerja mereka.

Media massa di sana juga menyiarkan pengakuan mereka yang terlibat permainan lancung tersebut secara langsung sehingga publik bisa mengetahui praktik pengaturan skor itu. Pengaturan skor dan korupsi di sepak bola Tiongkok diungkap sampai ke akar-akarnya ketika Xi Jinping menjadi presiden.

Ia memerintahkan komisi pemberantasan korupsi di Tiongkok menyelidiki federasi sepak bola negeri itu. Salah satu hal yang dilakukan adalah transparasi pemilihan pemain dan wasit.

Efek positif kesuksesan membongkar praktik pengaturan skor dan korupsi di sepak bola yang dilakukan pemerintah Tiongkok mulai terlihat sekarang.

Ini terbukti dari semakin banyak pengusaha yang menginvestasikan uang untuk sepak bola di Tiongkok. Liga sepak bola Tiongkok menjadi salah satu rujukan pemain berkelas dunia dan pelatih ternama untuk merasakan atmosfer di liga tersebut.

Sejumlah pemain bintang pernah dan sedang merumput di kompetisi domestik Tiongkok, seperti Didier Drogba, Obafemi Martins, Ezequiel Lavezzi, Demba Ba, dan yang terbaru adalah John Obi Mikel.

Para pelatih ternama dunia juga pernah ada dan sedang melatih tim di kompetisi Tiongkok, seperti Marcelo Lippi, Manuel Pellegrini, Luiz Felipe Scolari, dan Sven Goran Eriksson.

Bukan tidak mungkin Tiongkok dapat menguasai sepak bola dunia. Untuk mengurangi saling curiga dan konflik kepentingan sebaiknya pengurus federasi tidak memiliki klub. Regulator dan kompetitor seharusnya dipisahkan untuk mengurai persoalan conflict of interest.

Kita harus iri melihat kemajuan yang telah dicapai beberapa negara di Asia dan Afrika, khususnya Jepang. Pada 1980-an sepak bola Jepang tidak pernah diperhitungkan.

Jepang memulai masa jaya di sepak bola Asia pada 1992. Jepang secara mengejutkan keluar sebagai juara Piala Asia 1992 yang kebetulan mereka menjadi tuan rumah.

Sejak saat itu mereka menjadi tim yang diperhitungkan di Asia. Mereka mengamankan empat gelar juara Piala Asia dari total tujuh pertandingan yang diselenggarakan. Performa di level Asia mendongkrak Jepang di level internasional.

Perlu waktu 40 tahun bagi Jepang menjadi negara sepak bola yang disegani di Asia. PSSI memerlukan reformasi kepengurusan yang serius, mulai dari pengurus pusat, daerah, pelatih, wasit, prasarana, dan perlu kejujuran dalam sepak bola.