Telisik Suap Hibah, KPK Korek Keterangan Staf Pribadi Menpora

Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Bisnis/Abdullah Azzam)
03 Januari 2019 23:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengonfirmasi para saksi soal pengajuan sejumlah proposal dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terkait dana pengawasan dan pendampingan (wasping) atlet.

KPK pada Kamis (3/1/2018) memeriksa dua saksi dari KONI untuk tersangka Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy (EFH). Pemeriksaan ini merupakan lanjutan penyidikan kasus suap penyaluran bantuan dari pemerintah melalui Kemenpora kepada KONI Tahun Anggaran 2018.

"Untuk dua orang saksi dari KONI, penyidik mendalami pengetahuan para saksi tentang pengajuan proposal-proposal dari KONI kepada Kemenpora terkait dana wasping atlet," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Kamis.

Dua saksi itu adalah Staf Bagian Perencanaan KONI Twisyono dan Staf Bidang Perencanaan KONI Suradi. Selain itu, KPK pada Kamis ini juga memeriksa Miftahul Ulum yang merupakan Staf Pribadi Menteri sebagai saksi untuk tersangka Ending Fuad Hamidy.

"Terhadap saksi Miftahul Ulum, kami mendalami lebih lanjut bagaimana peran serta posisinya dalam kepegawaian seperti apa, misalnya staf pegawai Kemenpora, asisten pribadi atau staf pribadi Menteri serta apa yang diketahuinya terkait dana hibah di Kemenpora terhadap KONI" ucap Febri.

Dalam pengembangan kasus itu, KPK telah mengidentifikasi peruntukan dana hibah dari Kemenpora ke KONI tersebut akan digunakan untuk pembiayaan pengawasan dan pendampingan.

Adapun pembiayan wasping tersebut mencakup antara lain penyusunan instrumen dan pengelolaan database berbasis android bagi atlet berprestasi dan pelatih berprestasi multievent internasional. Selanjutnya, penyusunan instrumen dan evaluasi hasil monitoring dan evaluasi atlet berprestasi menuju SEA Games 2019. Terakhir, penyusunan buku-buku pendukung wasping peningkatan prestasi olahraga nasional.

KPK total telah menetapkan lima tersangka dalam kasus itu antara lain diduga sebagai pemberi, yaitu Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy (EFH) dan Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy (JEA). Sedangkan diduga sebagai penerima, yakni Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana (MUL), Adhi Purnomo (AP) yang merupakan Pejabat Pembuat Komitmen pada Kemenpora dan kawan-kawan, serta Eko Triyanto (ET) yang merupakan staf Kementerian Pemuda dan Olahraga dan kawan-kawan.

Diduga Adhi Purnomo, Eko Triyanto, dan kawan-kawan, menerima pemberian sekurang-kurangnya Rp318 juta dari pejabat KONI terkait hibah pemerintah kapada KONI melalui Kemenpora. Diduga Mulyana menerima uang dalam ATM dengan saldo sekitar Rp100 juta terkait penyaluran bantuan dari pemerintah melalui Kemenpora kepada KONI Tahun Anggaran 2018.

Sebelumnya Mulyana telah menerima pemberian lainnya sebelumnya, yaitu pada April 2018 menerima satu unit mobil Toyota Fortuner. Selanjutnya pada Juni 2018 menerima sebesar Rp300 juta dari Jhonny E Awuy, dan pada September 2018 menerima satu unit smartphone merk Samsung Galaxy Note 9. Dana hibah dari Kemenpora untuk KONI yang dialokasikan adalah sebesar Rp17,9 miliar.

Sumber : Antara