Dubes Saudi Diganti Setelah Kasus Cuitan Sesat, Dubes Baru Datangi PBNU

Wakil Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Yahya Alqahtani dan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (tengah) berbincang bersama saat pertemuan di Kantor Pusat PBNU, Jakarta, Kamis (3/1 - 2019). (Bisnis/Iim Fathimah Timmoria)
03 Januari 2019 18:33 WIB Iim Fathimah Timorria Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia yang baru, Yahya Hassan Alqahtani, di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (3/1/2019). Yahya merupakan pengganti Usamah  bin Mohammed al Shuhaibi yang sempat mengeluarkan pernyataan kontroversial dan membuat PBNU marah.

Dalam pertemuan tersebut, Alqahtani disambut Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj. Said mengungkapkan kunjungan tersebut merupakan langkah penguatan silahturami kedua pihak.

"Kunjungan Yahya Hassan Alqahtani untuk memperbarui dan mempertegas hubungan masyarakat Saudi Arabia dan Indonesia yang ke depan dan seterusnya akan selalu baik," kata Said kepada para wartawan.

Said juga sempat menyinggung gesekan yang pernah hadir di antara kedua pihak. Menurutnya hal itu adalah hal yang lumrah antarsaudara.

Said mengapresiasi langkah baik yang ditujukan Kedutaan Besar Arab Saudi melalui kunjungan tersebut dan mengharapkan kunjungan yang lain dapat terwujud pada masa mendatang.

Selain membahas penguatan hubungan kedua pihak, kata Said, PBNU juga membahas pengajuan skema beasiswa pendidikan secara langsung terhadap Pemerintah Arab Saudi. Dalam kesempatan yang sama, Yahya juga mengungkapkan Arab Saudi ingin memiliki hubungan yang kuat dengan masyarakat Indonesia.

"Pemerintah Arab Saudi memiliki pandangan khusus terhadap bangsa Indonesia karena banyaknya umat Muslim di negara ini. Terdapat ikatan spiritual antara Muslim Indonesia dan masyarakat di Tanah Suci," kata Dubes Yahya dalam bahasa Arab dan diterjemahkan langsung oleh Said Aqil.

Sebagaimana diberitakan Desember 2018 lalu, PBNU sempat melayangkan protes kepada Kedutaan Besar Arab Saudi atas cuitan Duta Besar Osama bin Mohammed al Shuhaibi di Twitter. Cuitan yang mengomentari aksi Reuni 212 itu menyinggung insiden pembakaran bendera tauhid dan menyebut pelaku merupakan organisasi sesat. Padahal oknum yang dimaksud--yaitu salah satu anggota GP Ansor yang berafiliasi dengan PBNU--telah menerima hukuman sesuai aturan yang berlaku.

Sumber : Bisnis/JIBI