Penerimaan APBN 2018 Naik, Pajak Meleset Lagi

Fadli Zon dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Peringatan Hari Perempuan Internasional di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (14/3 - 2018). (Antara/Puspa Perwitasari)
03 Januari 2019 06:30 WIB Edi Suwiknyo Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Beban berat bakal kembali dipikul oleh pemerintah lantaran kembali berulangnya shortfall penerimaan pajak 2018. Akibat shortfall tersebut, beban pertumbuhan penerimaan pajak non migas pada 2019 melonjak dari semula di kisaran 14,3% menjadi 17,2%.

Sementara itu, jika berdasarkan penjelasan pemerintah, beban pertumbuhan penerimaan yang perlu dipenuhi mencapai 20%. Data sementara yang dirilis Kementerian Keuangan pada Rabu (2/1/2018) menunjukan realisasi penerimaan pajak nonmigas mencapai Rp1.251,2 triliun atau lebih rendah dibandingkan prediksi APBN 2018 sebesar Rp1.295,5 triliun.

Angka ini juga mengonfirmasi bahwa terjadi pelebaran shortfall (meleset dari target) dari semula untuk pajak nonmigas sebesar Rp90.4 triliun menjadi Rp134,7 triliun. Angka ini dihitung dari target APBN dan outlook APBN 2019.

Salah satu penyebab membengkaknya shortfall penerimaan pajak adalah realisasi penerimaan pajak jenis PPh nonmigas yang realisasinya masih di bawah 90%. Angka realisasi ini, meski dari sisi pertumbuhan penerimaan lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu, tetapi secara persentase berdasarkan realisasi dan target masih berkutat dikisaran 80% - 85%.

Sedangkan PPN kendati secara target lebih baik dibandingkan dengan PPh nonmigas. Akan tetapi jika dibandingkan dibedah per jenis pajaknya, pertumbuhan PPN dalam negeri menunjukan angka yang relatif rendah, yakni 6,57%. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang berhasil tumbuh 15,14%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut kendati ada pelebaran shortfall penerimaan pajak, namun penerimaan pajak tahun ini relatif lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Walau begitu, dia mengakui shortfall penerimaan pajak membuat beban pertumbuhan penerimaan tahun depan juga membengkak menjadi 20%.

“Padahal tahun lalu, penerimaan yang sangat kuat pun pertumbuhan totalnya 16%, ini kita perlu membuat kemungkinan dari pertumbuhan tahun ini dengan tahun depan,” ujarnya saat memberikan keterangan resmi terkait kinerja APBN 2018, Rabu (2/1/2018).

Sumber : Bisnis/JIBI