Di Sana Menyita, Di Sini Membaca

Ichwan Prasetyo - Dokumen Solopos
02 Januari 2019 12:42 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (31/12/2018). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Berita seperti ini selalu menyesakkan dada saya. Sudah berulang kali terjadi. Sejak era Orde Baru. Saya pakai ukuran sejak era Orde Baru karena saya lahir pada era itu.

Menyesakkan karena kini sebenarnya era yang sangat berbeda dengan era Orde Baru, tapi kok berita seperti ini masih muncul. Tentara di Pare, Kediri, Jawa Timur, pekan lalu menyita 160 eksemplar buku yang dianggap bermuatan ajaran komunisme.

Buku-buku itu dijual di tiga toko buku di wilayah Kampung Inggris, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Berita tentang ini bisa Anda baca di banyak situs media dalam jaringan.

Informasi tentang ini kian mudah Anda temukan di media sosial. Pada era Orde Baru—walau tak bisa dimaklumi—rasanya ”wajar” ada tindakan seperti itu: menyita buku di toko buku dengan tuduhan mengandung ajaran komunisme.

Era Orde Baru kan memang era militeris represif. Tak ada kebebasan berekspresi, tak ada kebebasan berpendapat, tak ada kebebasan berserikat dan berkumpul. Ketika tindakan zaman bahula itu terjadi lagi, aduh,  rasanya kok kita ini ketinggalan zaman banget.

Ketika kali pertama menemukan konten tentang penyitaan buku di Kediri di salah satu situs berita, saya langsung penasaran buku apa saja yang disita itu? Buku apa saja yang dikatakan mengandung ajaran komunisme itu?

Saya merasa geli ketika mendapatkan foto buku-buku yang disita. Terus terang saya telah membaca hampir semua buku yang kelihatan di foto-foto penyitaan buku di Kediri tersebut.

Logika Melompat-Lompat

Saya jadi teringat penjelasan Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, di sebuah acara gelar wicara di suatu stasiun televisi yang menyebut ”ketakutan” terhadap komunisme hadir dari logika yang melompat-lompat.

Ketika saya membaca sebagian besar buku-buku yang sama dengan yang disita di Kediri itu, sungguh saya tak mendapatkan ajaran, anjuran, atau tutorial untuk menjadi komunis. Buku Di Bawah Lentera Merah, misalnya, karya Soe Hok Gie, jelas buku sejarah tentang pergeseran pola gerakan Sarekat Islam di Semarang.

Mungkin gara-gara ada frasa ”lentera merah” itu. Jelas sudah, ”ketakutan” terhadap buku hanya bisa muncul dari logika yang tak logis, logika yang melompat-lompat. Logika yang melompat-lompat jamak menganggap pihak lain, orang lain, kelompok lain sebagai bodoh.

Kelompok yang dianggap bodoh itu memunculkan ”kewajiban” pada pemilik logika melompat-lompat itu untuk memberi tahu, padahal yang diberitahukan itu tak logis, tak masuk akal, kecuali ya akal yang berlogika melompat-lompat. Jadi, menyita buku itu sama saja dengan menganggap saya, Anda, dan semua warga negeri ini bodoh…

Ketika kian sesak dada ini, saya ingat syair lagu Bob Marley berjudul Three Little Birds. Syair tersebut berbunyi "Don't worry about a thing. 'Cause every little thing gonna be alright!" Ah, rasanya susah menganggap penyitaan buku—salah satunya buku karya Soe Hok Gie itu--dengan tuduhan buku-buku itu menyebarkan komunisme sebagai little thing.

Ini jelas bukan hal kecil dalam konteks memajukan peradaban kita. Oh ya,  syair lagu Bob Marley yang saya ingat itu dinyanyikan serombongan ibu-ibu di halaman Balai Desa Jimus, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten dalam pembukaan acara Jimus Literacy Camp.

Literasi Berbasis Masyarakat

Saya hadir di acara itu atas undangan Mbak Atta, salah seorang pemrakarsa acara itu. Dia aktif di komunitas literasi yang berjaringan dengan komunitas literasi di banyak wilayah di Indonesia.

Jimus Literacy Camp adalah acara menanam benih sekaligus menyuburkan budaya literasi yang berbasis menulis, membaca, berkesenian, dan mencintai alam dengan menjaga kelestarian alam.

Pusat acara di Balai Desa Jimus. Rangkaian acara digelar di beberapa tempat, salah satunya di sebuah rumah yang sehari-hari jadi pos pelayanan terpadu. Selama tiga hari, Jumat-Minggu (14-16/12), Desa Jimus menjadi basis aktivitas dan gerakan literasi.

Acara ini juga melibatkan warga di Desa Ponggok dan Desa Sidowayah. Ketika saya memenuhi undangan Mbak Atta, begitu tiba di Balai Desa Jimus saya langsung nongkrong di warung wedangan di halaman Balai Desa Jimus. Di sana saya bertemu dua remaja putri pelajar SMA dari Kabupaten Wonogiri.

Mereka bersama delapan remaja putrid lainnya sesama pelajar SMA dari Wonogiri telah empat hari menginap di Desa Jimus. Mereka hadir di acara Jimus Literacy Camp dengan dana swadaya. Mereka tahu acara itu dari media sosial. Mereka menginap di rumah penduduk yang kosong, tak jauh dari Balai Desa Jimus.

Mereka ikut mempersiapkan acara, menjadi penghubung antara para aktivis literasi yang diundang untuk berbicara di aneka forum dalam kegiatan itu dengan panitia lokal di setiap lokasi acara yang tersebar di banyak tempat di tiga desa itu.

Di warung wedangan itu pula saya bertemu dan ngobrol dengan seorang perempuan dari Tangerang, aktivis gerakan literasi, yang justru telah dua pekan tinggal di Desa Jimus demi mempersiapkan acara tersebut.

Dari perempuan inilah saya paham acara ini adalah hasil kolaborasi berbagai komunitas literasi dari berbagai daerah di Indonesia yang berkomunikasi secara daring dan kemudian sepakat menyelenggarakan acara literasi selama tiga hari di Desa Jimus.

Kolaborasi

Desa Jimus dipilih karena, menurut perempuan asal Tangerang ini, suasana alamnya mirip dengan suasana desa tempat dia lahir di kawasan Provinsi Banten. Begitu kali pertama datang ke Desa Jimus dia langsung jatuh cinta dengan suasana desa tersebut.

Dia mengajak jaringan komunitas literasi dari berbagai daerah di Indonesia berkolaborasi menyelenggarakan Jimus Literacy Camp. Acara ini bermisi menghubungkan gerakan literasi menjadi sinergis, progresif, dan berkelanjutan.

Gerakan literasi dibangun di tengah-tengah masyarakat, bersama-sama masyarakat, serta dirasakan manfaatnya secara langsung. Partisipan acara ini, selain para sukarelawan gerakan literasi dari berbagai daerah di Indonesia, adalah warga Desa Jimus, Desa Sidowayah, dan Desa Ponggok.

Mereka adalah kaum ibu buruh tani, para ibu rumah tangga, para bakul di pasar, kaum muda desa, anak-anak desa, para petani, dan lainnya. Sebagian di antara mereka sengaja libur dari aktivitas harian.

Mereka libur demi mengikuti seluruh acara literasi berupa lokakarya menulis esai, menulis buku, menulis cerita pendek, menulis puisi, kiat menerbitkan buku, melawan persebaran hoaks, aneka kesenian, dan masih banyak acara lainnya.

Mengingat acara aduhai di Desa Jimus ini saya merasa dada saya yang sesak--gara-gara membaca berita penyitaan buku--terasa lega. Biarlah di sana (yang sangat sedikit itu) menyita buku.

Di sini mari beramai-ramai menyuburkan budaya membaca buku agar logika kita tak melompat-lompat. ”Marilah kita mendoa. Indonesia bahagia”. Begitu syair Indonesia Raya stanza kedua yang dinyanyikan ibu-ibu warga Desa Jimus sebelum menyanyikan Three Little Birds. Indonesia bahagia kala warganya cerdas.