Jurnalisme Musik dan Senang-Senang

Lukmono Suryo Nagoro - Dokumen Solopos
01 Januari 2019 18:34 WIB Lukmono Suryo Nagoro Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (29/12/2018). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Akhir tahun ini grup rock n roll paling ”berbahaya” dekade 1980-1990-an, Guns n’ Roses, datang ke Indonesia. Film Bohemian Rhapsody yang menceritakan biopik grup band Queen ditayangkan di bioskop.

Girlband asal Korea Selatan yang digemari remaja milenial, terutama cewek, Blackpink, datang ke Indonesia. Itulah sekelumit cerita kegembiraan dari jagat musik pada 2018 yang segera kita tinggalkan ini.

Dunia politik seharusnya juga bergembira karena Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi, tetapi gejala yang dominan belakangan ini malah tidak menunjukkan keasyikan karena selalu mempertontonkan kesedihan.

Narasi gendruwo, sontoloyo, dan Indonesia bubar dibawa-bawa dalam pesta demokrasi. Jika demikian, kapan bangsa Indonesia bersenang-senang? Saya pikir setelah pengumuman quick count pemilihan umum anggota legislatif dan pemilihan presiden pada 2019 mendatang bangsa Indonesia baru bisa bergembira.

Pada Desember ini ada baiknya kita mencicil gembira karena pada akhir tahun yang bertepatan dengan momen Natal dan pergantian tahun bertaburan diskon di mal dan pusat perbelanjaan. Siapa yang tidak senang akan diskon tersebut?

Buku jurnalisme musik yang tujuannya bersenang-senang juga diterbitkan pada tahun ini. Buku itu berjudul Nice Boys Don’t Write Rock n Roll: Obsesi Busuk Menulis Musik karya Nuran Wibisono. Buku ini merupakan buku kedua tentang jurnalisme musik yang saya beli.

Sebelum itu, saya membeli Lokasi Tidak Ditemukan Musik: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer karya Taufiq Rahman, seorang jurnalis. Dua buku ini tidak disusun oleh jurnalis musik yang bekerja di suatu lembaga pers atau penerbit majalah khusus musik, misalnya Traxx, Hai, Rolling Stone Indonesian.

Tiga majalah yang saya sebut itu kini tidak terbit lagi. Saya benar-benar merasakan kehilangan bacaan bermutu tentang musik sebagai teman duduk. Selama membaca Rolling Stone Indonesia suatu kali saya menemukan kebosanan, meskipun ulasan musik di majalah ini tidak hanya menampilkan musik sebagai bisnis melulu, tetapi juga bagaimana kisah para bintang yang bermimpi dan omong kosong.

Saya ingin ulasan musik yang bergaya rock n roll juga alias ugal-ugalan. Saya memulai mencari dengan blog stalking. Salah satu laman yang muncul adalah Jakartabeat.net. Laman ini dikelola Philips Vermonte dan Taufik Rahman.

Kesuntukan

Dua orang ini bersahabat sejak studi di Illinois, Amerika Serikat. Mereka nekad membuat website tentang musik karena ingin melarikan diri dari kesuntukan studi. Akhirnya mereka membuat Jakartabeat.net untuk sarana bersenang-senang.

Tulisan yang bisa dikirim ke website tersebut berkaitan dengan musik, film, buku, dan humaniora. Tujuan menulis di website tersebut adalah bersenang-senang. Ketika membaca buku karya Nuran kita langsung dihadapkan pada kondisi menghilangnya toko yang menjual kaset.

Saya punya kesan sama seperti Nuran. Saya masih ingat kaset apa yang kali pertama saya beli, yaitu kaset album Nevermind milik Nirvana yang saya beli pada 1995. Informasi dari MTV membuat saya mengenal aneka band rock luar negeri, seperti SUM 41, Blink 182, Green Day, Korn, Rage Against The Machine, Silverchair.

Begitulah hiburan masa remaja saya. Menabung sedikit demi sedikit uang jajan untuk membeli kaset. Di Kota Solo, hanya toko musik Harapan di Jl. Slamet Riyadi yang masih tersisa.    Di buku ini saya terkagum-kagum pada pengetahuan Nuran tentang grup musik hair metal.

Nuran punya obsesi ”brutal” terhadap kisah sex, drug, dan rock and roll group hair metal. Nuran sebagaimana penjelasan di buku tersebut tidak pernah nakal, misalnya menenggak alkohol. Meskipun demikian, Nuran begitu fasih mendeskripsikan kenakalan Nikki Sixx (Motley Crue) yang menyuntikkan heroin ke dalam tubuhnya sampai mengalami mati suri kemudian bangkit lagi dan membuat album lagi dengan semangat baru.

Ihwal band idolanya, Guns n’ Roses, Nuran menuliskan 10 lagu terbaik milik band tersebut. Obsesinya tentang seks dan obat terlarang juga mewarnai alasan pemilihan lagu-lagu itu. Lagu Rocket Queen dia pilih karena menggambarkan kehidupan seks anggota Guns n Roses, sedangkan Welcome to the Jungle dia pilih karena berisi kisah Axl Rose, sang vokalis, saat berpindah dari kota kecil menuju kota besar.

Baru turun dari bus, Axl Rose ditawari narkoba oleh seorang bandar. Seketika itu dia tersadar dia hidup di hutan belantara yang mengambil hukum Darwinian: siapa yang bertahan adalah yang terkuat. Karena itulah, Axl Rose berteriak sekencang-kencangnya: you’re in the jungle, baby/you’re gonna die.

Media Cetak

Salah satu bagian menyedihkan dari buku ini adalah soal kematian, terutama kematian jurnalisme musik di media cetak. Kematian jurnalisme musik di media cetak sepertinya akan terus terjadi. Dimulai dari Hai, dilanjutkan Rolling Stone Indonesia, kemudian di Inggris Majalah New Musical Express juga menemui ajal.

Salah satu penyebab gugurnya majalah tersebut adalah derasnya gelombang media dalam jaringan (daring). Ada kebutuhan pembaca yang sejujurnya dilupakan dengan menguatnya media daring yakni tulisan yang jamak pendek sehingga pembaca terkadang tidak menemukan substansi berita.

Berbeda dengan media cetak yang format penulisannya panjang karena melalui prosedur reportase tertentu yang jamak butuh waktu panjang. Jurnalisme musik di media cetak di Indonesia sepertinya tidak akan pernah meraih kejayaan.

Soleh Sholihun (eks wartawan Rolling Stone Indonesia) menyebut Majalah Aktuil yang terbit pada 1967 sampai 1981. Itu pun, bagi Soleh, masa jaya majalah tersebut hanya pada periode 1970-1975. Sisa waktunya hanya untuk menunda kematian.

Substansi buku karya Nuran ini meyakinkan saya bahwa jurnalisme musik tetap hidup, meskipun Rolling Stone Indonesia dan majalah sejenisnya sudah tutup buku. Jurnalisme musik akan tetap mengawal para penikmat musik.

Jurnalisme musik akan membebaskan telinga dari gangguan album-album musik yang ”abal-abal”. Jurnalisme musik akan mengajari, jika memang bisa dikatakan demikian, untuk menonton dan menikmati musik yang tidak Anda sukai sekalipun.

Apa sih yang membuat jurnalisme musik tetap hidup? Salah satunya semangat bersenang-senang. Jika kita bersenang-senang, ketika jatuh kita pun akan senang pula memulai sesuatu dengan yang baru, meskipun harus dari nol sama sekali.

Kalimat ini terinsipirasi ucapan Philips Vermonte yang sewaktu pulang studi dari Amerika Serikat, buku dan vinyl yang dia kirim lewat kapal tidak ketahuan menyangkut di mana, yang pada akhirnya tidak kembali kepada dirinya lagi. Philips berjanji akan memulainya lagi dari nol.