Kalah untuk Menang

Andi Ardianto - Istimewa
31 Desember 2018 15:13 WIB Andi Ardianto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (26/12/2018). Esai ini karya Andi Ardianto, guru Sekolah Dasar Islam Terpadu Insan Cendekia di Teras, Kabupaten Boyolali. Alamat e-mail penulis adalah albanjari924@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Anak-anak kita perlu belajar banyak dari kekalahan. Senang saat menang itu hal biasa. Siapa saja bisa. Menerima kekalahan dengan lapang dada perlu usaha maksimal. Hidup tidak akan selamanya sesuai harapan. Ada kalanya realita berbalik 180 derajat dengan impian.

Ada banyak pelajaran di balik kekalahan kalau kita mau membuka hati dan pikiran yang jernih. Kita bisa belajar dari mana saja, termasuk sepak bola. Olahraga paling terkenal di dunia. Salah seorang pemain sepak bola terbaik dalam sejarah dunia mengakui hal itu.

Ricardo Izecson Dos Santos Leite menceritakan kepada kita. Dalam sebuah wawancara sebagaimana dikutip Fourfourtwo.com (23 Oktober 2017) pemain yang mendunia dengan panggilan Ricardo Kaka ini mengungkap fakta menarik.

Menurut Kaka, ada lima pertandingan yang berhasil mengubah hidupnya. Menjadi lebih kuat. Semakin tangguh. Kian matang. Hingga membawa dia bertabur banyak penghargaan: tim maupun individu. Menarik dicermati bahwa tidak semua pertandingan menyejarah itu berbuah kemenangan. Dua diantaranya malah berakhir kekalahan.

Kekalahan pertama diderita dari Liverpool di final Liga Champions EUFA 25 Mei 2005. AC Milan, tim yang dia bela kala itu, unggul 3:0 pada babak awal. Kapten legendaris AC Milan, Paolo Maldini, membawa tim Italia itu unggul pada menit pertama pertandingan.

Hernan Crespo kian memperlebar jarak dengan dua gol. AC Milan di atas angin. Sampai jeda turun minum, Stadion Olimpiade Kemal Ataturk, Istanbul, Turki dipenuhi optimisme pendukung Rossoneri, julukan AC Milan. Pendukung Liverpool tertunduk lesu menyaksikan kenyataan di depan mereka.

We Are The Kop

Nahas. Pada babak kedua, hanya dalam enam menit, Liverpool berhasil mengubah haluan. Menyamakan kedudukan menjadi 3:3. Steven Gerrard memperkecil ketinggalan lewat sundulan. Vladimir Smicer menyumbang satu gol.

Stadion Kemal Ataturk bergemuruh ketika Xabi Alonso menceploskan gol penyama kedudukan. Comeback gemilang yang membuat Liverpool menjadi lebih kuat secara mental hingga kemenangan pun harus ditentukan lewat drama adu penalti.

Nasib baik kembali berpihak kepada Liverpool. Mereka menang adu penalti dengan skor 3:2. Sejarah kemudian mencatat inilah salah satu pertandingan sepak bola paling dramatis yang pernah terjadi. Kekalahan itu pasti menyakitkan. Malam-malam panjang yang meresahkan. Pagi menjelang yang dipenuhi kekesalan. Malu.

Akan lebih menyakitkan kalau mereka tidak segera bangkit menghadapi musim berikut yang tidak lama menjelang. Lihatlah sejarah. Setelah itu tim kota mode itu berhasil menambah koleksi bermacam gelar bergengsi tingkat eropa dan dunia.

Dua musim setelah kekalahan itu, pada 2007, di final kompetisi  yang sama, AC Milan kembali berjumpa Liverpool yang dulu telah menggores luka. Berbekal pengalaman sebelumnya, kali ini AC Milan berhasil menjadi juara. Kaka, sang playmaker, akhirnya berhasil menggondol penghargaan pemain terbaik dunia tahun 2007.

Kekalahan kedua didapat dari Prancis pada 1 Juli 2006 ketika tim nasional Brasil gagal mempertahankan gelar juara Piala Dunia 2002, padahal saat itu tim nasional Brasil dipenuhi talenta yang sedang bermekaran dan menyihir liga-liga dunia.

Sejarah

Kedua kekalahan menyejarah itu justru membentuk mental. Mendidik rasa hormat kepada lawan. Tidak jemawa pada kekuatan diri karena bisa jadi senjata makan tuan. "Sejatinya kita belajar lebih banyak dari kekalahan dibanding dari kemenangan," begitu wejangan para pemenang.

Begitulah kalau kekalahan dimaknai dengan kelapangan jiwa dan kejernihan pikiran. Saya pernah menceritakan kisah ini di kelas V B sekolah dasar tempat saya mengajar. Ketika itu mereka habis main bola dengan kelas lain. Sayangnya, mereka kalah.

Bukan hanya kekalahan yang membuat sesak tapi juga ejekan penonton dari beragam kelas. Mereka malu. Mereka kecewa. Di kelas mereka menangis, marah-marah, cemberut. Membanting buku.

Melihat situasi ini saya sadar; tidak mungkin langsung memberi materi meski itu cerita sejarah yang biasanya membuat mereka antusias. Saya awali yang ada hubungannya dengan sepak bola. Ya, kisah Kaka tadi itu. Dua puluh menit mereka mendengarkan.

"Horee...," kata mereka serempak sembari bertepuk tangan ketika saya ceritakan akhir kisah Kaka dan AC Milan yang akhirnya juara di mana-mana. Kekecewaan itu perlahan pudar. Berganti senyum merekah.

Lima belas menit tersisa, karena jam saya saat itu memang hanya 35 menit, saya baru masuk ke materi pelajaran. Menghubungkan sebab kekalahan dan kemenangan dengan sejarah orang-orang terdahulu.