Balada Mencari Kentut

Abu Nadhif - Dokumen Solopos
26 Desember 2018 17:44 WIB Abu Nadhif Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (24/12/2018). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Suatu hari awal 1961 Presiden Sukarno berkata di hadapan Ketua Perserikatan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), R. Maladi,”Medali emas harga mati!”

Bung Karno merujuk pada Asian Games 1962 di Jakarta. Saat itu kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah olahraga terbesar di Asia. Bung Karno juga punya misi politik internasional dalam Asian Games 1962. Ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukan negara ecek-ecek meski baru berumur 17 tahun.

Maladi gagal. Alih-alih meraih emas di Asian Games 1962, tim nasional Indonesia justru menorehkan aib terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sebanyak 18 orang dari 23 pemain Indonesia terlibat pengaturan skor dalam laga uji coba persiapan menuju Asian Games 1962.

Para bandar judi berhasil merayu Ramang dan kawan-kawan agar mengalah kala melawan Malmoe, Yugoslavia Selection, Thailand, dan Petrorul Tjeko Combined. Para penggawa Garuda itu memperoleh setumpuk rupiah.

Presiden Sukarno marah besar. Pelatih Toni Pogacnik yang sebelumnya menghadiahkan prestasi menembus semifinal Asian Games 1954, medali perunggu Asian Games Tokyo 1958, dan lolos ke Olimpiade Melbourne hanya bisa sesenggukan.

Lelaki asal Yugoslavia itu memecat 18 pemain. Ia berburu pemain baru. Indonesia gagal total di Asian Games 1962 yang bertempoat di rumah sendiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Noda 1961 tersebut merupakan puncak gunung es mafia bola masa itu. Sejak Indonesia digelari Macan Asia oleh Koran Star Weekly (1954) berbagai kasus suap silih berganti menerpa para pemain nasional.

Sebelum kasus Asian Games 1962, Ramang--bintang PSM Makassar dan Indonesia—terbukti mengatur skor kala PSM menghadapi Persebaya pada Kejurnas PSSI 1961 yang berakhir dengan skor 3-3, dikenal sebagai Peristiwa Surabaya.  PSM memecat Ramang.

Beberapa bulan setelah Peristiwa Surabaya, tiga pemain PSIM Jogja terbukti menerima suap ketika PSIM kalah 1-7 dalam laga persahabatan melawan Thailand di Jogja.

Suap tak pernah berhenti. Galatama yang dimulai pada 1979 dan diharapkan menjadi cikal bakal liga profesional di Indonesia justru menjadi lahan basah para penjudi.

Pada 1982, Kaslan Rosidi, bos Klub Cahaya Kita, menghukum 10 pemain yang terlibat kasus suap. Bos Klub Warna Agung, Benny Muyono, membubarkan klub pada tahun ketiga kompetisi setelah setiap musim ada pemain yang menerima suap dari bandar judi.

Awal Desember lalu legenda tim nasional Indonesia Rochy Putiray melontarkan tantangan terbuka kepada publik. ”Ayo, siapa yang berani taruhan dengan saya bahwa tahun ini  Persija Jakarta yang juara,” kata Rochy dalam salah satu wawancara  yang beredar di Youtube.  

Rochy panen kritiksekaligus dukungan. Yang mengkritik kemungkinan besar pendukung Persija Jakarta yang rindu tim mereka meraih juara setelah puasa gelar 17 tahun. Yang mendukung Rochy bisa jadi suporter PSM Makassar atau tim lain rival Persija atau penggila bola nonsimpatisan klub tapi peduli sportivitas.   

Penalti Tidak Layak

Tebakan Rochy benar. Persija juara Liga 1 2018. Kemenangan Persija diwarnai isu tidak sedap. Dua gol Marko Simic ke gawang Mitra Kukar kontroversial. Gol pertama lahir dari penalti setelah pemain Mitra dianggap menjatuhkan striker andalan Persija, Marko Simic.

Dalam tayangan ulang di televise, penalti itu tidak layak diberikan wasit. Alih-alih menjatuhkan Simic, pemain belakang Mitra justru yang terjatuh lantaran diapit dua pemain Persija—salah satunya Simic.

Gol kedua tidak kalah mengherankan. Pelatih Rahmad Darmawan yang terkenal kalem dan tak suka memprotes wasit pada hari itu tiba-tiba berubah 180 derajat. Ia mendatangi wasit dan meluapkan kemarahan.

Dalam tayangan ulang terlihat gol itu seharusnya tidak sah. Sebelum Simic menyundul bola ke gawang, rekannya, Ramdani Lestaluhu, lebih dulu menghalangi kiper Mitra Kukar Yon Jaehon yang hendak melompat ke udara.

”Itu jelas pelanggaran,” kata anggota Komite Wasit, Purwanto. “Wasit buta,” kata Rochy Putiray. Sangat disayangkan, Liga 1 2018 antiklimaks, persis yang terjadi pada musim sebelumnya.

Tahun lalu Bhayangkara FC juara Liga 1 karena mendapat tambahan tiga poin hasil sidang Komisi Disiplin. Tambahan poin diperoleh Bhayangkara sebab pada pertandingan sebelumnya ketika melawan Mitra Kukar, Mitra memainkan Mohammed Sissoko yang sedang dijatuhi sanksi PSSI.

Gara-gara tambahan tiga poin untuk Bhayangkara, Bali United yang sebelumnya memimpin klasemen gagal jadi juara. Bali United pun panen simpati. Bali United dan PSM Makassar disebut sebagai juara tanpa piala.

Fenomena sangat tidak sehat untuk olahraga yang mengedepankan asas fairplay.  Ada satu nama di balik Bhayangkara FC (2017) dan Persija (2018) yang meraih gelar juara: Gede Widiade. Saat Bhayangkara juara, Gede Widiade adalah pemilik saham tim milik Polri tersebut.

Ketika Persija juara tahun ini, Gede menjabat direktur utama di perusahaan yang menaungi tim tersebut. Pemilik saham terbesar Persija adalah Joko Driyono, Wakil Ketua PSSI. Kebetulan bukan?

Saya—dan pasti jutaan umat sepak bola lainnya—ingin Persija juara tanpa cacat. Juara yang lahir karena permainan jujur dan kerja keras di lapangan. Dengan meminggirkan faktor di luar teknik, dalam kaca mata saya Persija layak juara.

Di tangan Stefano Teco Cugurra, tahun ini Persija sangat komplet. Mereka kukuh dalam pertahanan dan menyeramkan kala menyerang. Organisasi permainan Macan Kemayoran terjalin rapi.

Kualitas pemain inti dan pemain pelapis tidak berbeda jauh. Teco mampu meramu permainan tim secara apik sejak dua tahun lalu. Hasilnya tiga piala diraih dalam satu tahun, yakni juara turnamen di Malaysia, Piala Presiden 2018, dan Liga 1 2018. Tanpa desas desus mafia bola pun Persija layak juara.

Wasit Berintegritas

Sangat disayangkan PSSI lemot menangkap keresahan para penggila bola di negeri ini tentang mafia sepekan sebelum Liga 1 berakhir. Seharusnya sebagai induk organisasi sepak bola di Indonesia PSSI bertindak cepat menangkis isu mafia bola dengan melakukan berbagai tahapan penting.

PSSI seharusnya menempatkan wasit-wasit terbaik di pertandingan menentukan pada pekan terakhir Liga 1. Bukan saja pada laga antara Persija dan PSM yang berebut juara, tapi juga pada pertandingan tim yang berada di zona degradasi. Di zona ini tim-tim berebut kesempatan agar tak terlempar ke Liga 2.

PSSI punya lima orang wasit berlisensi FIFA. Mereka adalah Thoriq Alkatiri, Oky Dwi Putra, Yudi Nurcahya, Dwi Purba Adi Wicaksana, dan Musthopa Umarella. Thoriq belum lama ini masuk ke jajaran elite wasit federasi sepak bola Asia, AFC.

Thoriq pernah bertugas di pertandingan Piala Asia dan Liga Champions Asia. PSSI justru menempatkan pengadil yang selama ini kerap diprotes karena diragukan integritasnya. Wasit Prasetyo Hadi yang memimpin laga Persija versus Mitra Kukar pada Oktober lalu dilaporkan ke operator liga oleh Sriwijaya FC lantaran membuat banyak keputusan salah dalam laga PSIS versus Sriwijaya.

Dua kali tayangan Mata Najwa PSSI Bisa Apa di Trans7 membuka fakta betapa masifnya mafia bola bekerja. Bukti dan saksi bermunculan. Kebusukan dimulai dari internal pengurus PSSI.

Para anggota Executive Committee (Exco) tidak steril dari mafia, entah sebagai lembaga atau pribadi. Mengusut mafia bola sesulit mencari kentut. Yang dicari ada, tapi tidak kelihatan. PSSI pernah mengusut mafia bola pada Maret 1984 dengan membentuk tim antisuap.

Hasilnya nihil. Para bandar tetap Berjaya. Banyak klub Galatama yang jatuh miskin dan bubar di tengah jalan. Membasmi bandar judi sulit karena orang dalam PSSI dan klub terlibat. Pelaku adalah pemilik klub, manajer, pelatih, pemain, hingga wasit.

PSSI pekan lalu menggandeng Polri untuk memerangi mafia sepak bola. Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian membentuk Satuan Tugas Anti-Pengaturan Skor Sepak Bola. Kolaborasi PSSI-Polri penting untuk memutus mata rantai mafia bola.

Spanyol dan Italia berhasil melakukan itu, kenapa kita tidak? Para pemain, pelatih, manajer, pemilik klub harus membantu Polri dengan memberikan data-data yang mereka punya. Kolaborasi PSSI dan Polri ini momentum langka. Sikat semua yang terlibat. Jika tidak, sepak bola Indonesia tidak akan pernah ke mana-mana.