Hikmat Allah yang Digenapi

Manati I. Zega - Istimewa
25 Desember 2018 01:00 WIB Manati I. Zega Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (24/12/2018). Esai ini karya Manati I. Zega, pendeta jemaat dan dosen Teologi di Sekolah Tinggi Teologi AIMI di Jagalan, Kota Solo, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah manatizega2015@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Hikmat manusia sangat terbatas. Hikmat manusia dibatasi keterbatasan dalam banyak hal, namun janji Allah adalah janji sempurna yang membuat manusia belajar menggapai hikmat-Nya.

Kristus adalah hikmat bagi kita sebagaimana tema Natal nasional yang disepakati Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereje-gereja di Indonesia (PGI).

Pada 2018, umat kristiani di seluruh dunia, termasuk di Indonesia memperingati kelahiran Yesus Kristus. Dalam iman Kristen, kelahiran Yesus menjadi sangat penting karena melalui kelahiran-Nya itulah nubuat Perjanjian Lama  menjadi nyata.

Nubuat yang tertulis dalam Perjanjian Lama bukan isapan jempol. Nubuat tersebut menjadi kenyataan. Berdasarkan Alkitab yang diyakini dan dipegang teguh sebagai firman Tuhan orang Kristen segala abad sangat bersukacita. Mengapa?

Dalam iman Kristen, Natal dipahami sebagai tindakan kasih Allah yang menepati janji. Hal yang sangat tidak mungkin, tetapi faktanya Tuhan mengambil rupa manusia yang dalam bahasa teologi disebut kenosis.

Kenosis berarti Tuhan yang di surga mengosongkan diri dan mengambil rupa manusia dalam diri Yesus Kristus. Tentang hal ini kerap terjadi perdebatan. Bagaimana mungkin Tuhan mengambil rupa sebagai manusia? Iman Kristen memahami hal itu sebagai hal yang sangat mungkin terjadi dalam konteks sifat Allah yang Mahakuasa.

Hendak Binasa

Dalam kemahakuasaan Tuhan dapat menjadi apa saja sesuai kehendak-Nya. Menjadi manusia dilakukan demi menjangkau manusia yang hendak binasa karena dosa. Fakta ini tak terbantahkan. Alkitab mencatat Allah menggenapi firman-Nya yang pernah diungkapkan melalui para nabi.

Peringatan Natal menjadi sangat penting bagi umat Kristen. Natal pada 2018 ini, khususnya di Indonesia, menjadi Natal yang sangat bermakna terkait dengan situasi bangsa dan negara tercinta. Tahun 2018 menuju 2019 berhawa panas. Mengapa demikian? Karena tahun ini adalah tahun politik.

Sebentar lagi Indonesia menggelar hajatan besar, yakni pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden. Dalam konteks sosial, sangat terasa situasi panas dan penuh kebohongan. Penyebaran hoaks menjadi musuh bersama anak bangsa.

Di sekitar kita hawa panas akibat hoaks semakin terasa. Tindakan-tindakan kurang terpuji, kurang santun, kurang terdidik menjadi santapan harian bangsa ini. Energi anak bangsa terkuras untuk hal-hal yang kurang penting.

Aparat keamanan dari pusat hingga ke daerah kewalahan dengan berbagai tindakan yang tidak seharusnya. Atas nafsu dan birahi politik yang menggebu-gebu segala cara yang merepotkan sesama anak bangsa, dilakukan.

Tanpa kalkulasi matang mereka berbuat sesuatu demi meraih ambisi pribadi, bukan kepentingan bangsa. Dalam situasi demikian tema Natal tahun ini menjadi refleksi mendalam.

Filsafat

KWI dan PGI menyepakati tema Natal nasional. Tema tersebut adalah Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita (1 Korintus 1:30). Bagian Alkitab ini merupakan tulisan Rasul Paulus yang dialamatkan kepada jemaat di Korintus.

Kala itu filsafat berkembang pesat. Tidak sedikit orang berburu filsafat dengan tujuan ingin meraih kebijaksanaan atau kebenaran. Pada zaman itu filsafat menjadi kebanggaan. Dengan berfilsafat orang mengidentikkan diri telah memahami kebenaran atau kebijaksanaan.

Rasul Paulus dengan kuasa Roh Kudus mengingatkan hikmat Allah sangat berbeda dengan hikmat dunia. Filsafat bukanlah jawaban atas dunia. Mengapa demikian? Hikmat sejati datang melalui pengenalan akan Allah dalam Kristus, bukan hasil belajar.

Dalam konteks ini belajar atau mencari kebenaran tidak dilarang. Paulus tidak bermaksud seperti itu. Semua filsafat itu tidak membawa manusia mengenal Allah secara pribadi. Banyak hal yang sukar dimengerti dan dianalisis dengan pisau analisis tertajam sekalipun.

Tuhan bukanlah Tuhan yang sejati jika manusia dapat mengerti, bahkan mengulitinya secara sempurna. Dalam diri Allah terselubung misteri yang hanya dapat dipahami melalui relasi pribadi dengan Dia. Bagaimana Allah menjadi manusia?

Dalam filsafat dan analisis manusia hal ini merupakan kebohongan besar. Faktanya Allah yang tinggi luhur dalam kedaulatan dan kemahakuasaan menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dalam hal ini terlihat sangat jelas bahwa filsafat manusia sangat berbeda dengan hikmat Allah. Tulisan Rasul Yohanes mengingatkan kita akan hikmat Allah yang sangat besar.

Menyelamatkan

”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3: 16-17).

Hikmat manusia mengatakan dan menolak hal ini secara tegas. Hikmat Allah membawa manusia untuk memahami realitas tersebut secara logis. Dalam Kristus yang lahir, hikmat Allah menuntun manusia untuk memahami rencana kekal Allah dari semula. Apa rencana kekal itu?

Tatkala manusia jatuh dalam dosa di Taman Eden, manusia berada dalam posisi tak bisa terkoneksi dengan Allah. Adam dan Hawa mengecewakan Dia. Karena itu, Allah merespons sekaligus memberikan solusi terbaik.

”Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).

Bapa di surga secara langsung merancang peristiwa Natal, yakni hadirnya keturunan perempuan. Keturunan perempuan yang dimaksud adalah Yesus Kristus yang menjadi daging dan mengambil rupa manusia. Firman Tuhan dalam Kejadian 3: 15 tersebut dipenuhi secara mutlak sebagaimana ditulis oleh Rasul Yohanes dalam Injil Yohanes 3: 16.

Bukan Sekadar Janji

Perlu diulangi bahwa peristiwa Natal merupakan janji Allah sebagaimana diilhami Roh Kudus dalam kitab Perjanjian Lama. Lembaran-lembaran Perjanjian Lama dipenuhi dengan nubuat akan hadir-Nya Yesus Kristus yang juga disebut Mesias.

Tatkala Natal tiba, kita membuka lembar Perjanjian Lama, tersadarlah kita bahwa janji Allah ”ya dan amin.” Janji-Nya pasti digenapi. Nabi Mikha dalam Perjanjian Lama, misalnya, menubuatkan tempat kelahiran Yesus jauh sebelum peristiwa itu terjadi.

”Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mikha 5: 1). Janji firman ini dipenuhi dalam Perjanjian Baru (Lukas 2: 4,15; Matius 2: 1,16).

Masih banyak bagian lain Alkitab secara jelas menyatakan janji Allah ditepati. Dalam kemahakuasaan, Dia pribadi yang layak dipercaya. Berbicara perihal dapat dipercaya, pada masa kini menjadi tanda tanya. Tidak sedikit orang mengumbar janji, apalagi pada tahun politik.

Jika memercayai, bersiaplah menelan pil pahit dan kekecewaan. Bisa jadi janji tinggal janji yang segera dilupakan, bahkan diabaikan. Janji hanyalah sarana politik untuk meraup simpati. Tahun ini Natal mengingatkan kita bahwa Kristus hikmat Allah bagi manusia.

Allah menepati secara tepat janji yang pernah disampaikan melalui para nabi terdahulu. Bagi kita yang hidup pada masa kini, jangan mudah berjanji. Janji adalah utang. Janji itu harus dipenuhi. Jika Anda tak mampu memenuhi janji, lebih baik jangan mengumbar janji, apalagi janji surga yang penuh kepalsuan dan kebohongan. Selamat Natal.