Orang-orang Terkaya Asia Kehilangan US$137 Miliar

Taipan Hong Kong Li Ka-shing melambaikan tangan tanda berpisah kepada para jurnalis setelah mengumumkan dirinya pensiun sebagai Chairman CK Hutchison Holdings Ltd dalam sebuah konferensi pers di Hong Kong, Jumat (16/12 - 2018). (Reuters/Bobby Yip)
22 Desember 2018 02:00 WIB Iim Fathimah Timorria Internasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Memanasnya situasi perdagangan global dan kekhawatiran terhadap turunnya valuasi saham rupanya berdampak langsung terhadap kekayaan para miliuner Asia.

Sebanyak 128 orang terkaya Asia yang masuk dalam Bloomberg Billionaires Index telah kehilangan US$137 miliar, setara dengan Rp1.983,76 triliun (kurs tengah Bank Indonesia Rp14.480), selama 2018. Ini adalah kali pertama aset orang-orang terkaya tersebut mengalami penurunan sejak indeks itu dimulai pada 2012.

Bloomberg melansir Jumat (21/12/2018), sektor teknologi China terpengaruh cukup berat. Sementara itu, India dan Korea Selatan (Korsel) pun tak bisa menghindari dampak serupa. Penurunan ini terjadi bahkan ketika bank dan manajer keuangan secara agresif meningkatkan dukungan kepada orang-orang terkaya Asia.

Richard Liu./Reuters

"Kondisi pasar saham yang sulit tahun ini dan ketidakjelasan sengketa dagang tampaknya menjadi tantangan bagi banyak pebisnis," kata Philip Wyatt, ekonom dari UBS Group AG dari Hong Kong.

Kendati demikian, dia melihat tren penurunan tersebut tidak akan berlanjut pada 2019 atau berpengaruh secara signifikan pada jumlah miliuner dari benua ini.

Asia dinilai sudah dalam kondisi yang matang untuk melahirkan orang-orang kaya baru karena perkembangan teknologi menarik modal swasta dan dukungan pemerintah.

Namun, saat ini, lebih dari dua pertiga 40 orang kaya China yang masuk indeks itu telah kehilangan harta mereka. Wang Jianlin dari Wanda Group misalnya, kehilangan US$10,8 miliar, paling banyak di antara orang kaya lain di Asia.

Tetapi, pendiri JD.com Richard Liu, yang pernah ditahan di AS atas tuduhan pelecehan seksual, menjadi pebisnis di Asia yang kehilangan persentase kekayaan terbesar. Dia kehilangan hampir separuh total kekayaannya, menjadi US$4,8 miliar.

Jay Y. Lee./Reuters

Sementara itu, 23 miliuner India harus rela kehilangan US$21 miliar harta mereka. Pemilik produsen baja terbesar dunia, Lakhsmi Mittal, memimpin penurunan terbesar setelah asetnya berkurang 29% atau US$5,6 miliar.

Beralih ke Korsel, kekayaan 7 orang terkaya Negeri Ginseng menyusut hingga US$17,2 miliar. Ayah dan anak pengendali Samsung Electronics, Lee Kun-Hee dan Jay Y. Lee, kehilangan lebih dari sepertiga jumlah tersebut.

Di Hong Kong, para raksasa perumahan merasakan dampak paling keras. Li Ka-shing, yang pensiun sebagai kepala CK Hutchison dan CK Asset pada Maret 2018, kehilangan US$6 miliar pada 2018.

Kendati demikian, masih banyak miliuner yang berhasil keluar dari ancaman ketidakpastian ekonomi global.

Salah satunya adalah Lei Jun, pimpinan Xioami Corp., yang asetnya bertambah US$8,7 miliar. Saat produsen smartphone itu melantai di bursa pada Juli 2018, dia langsung masuk ke daftar 100 orang terkaya Bloomberg.

Orang terkaya di Jepang, Tadashi Yanai, juga menambah kekayaannya sekitar US$6,3 miliar ketika nilai saham perusahaan Fast Retailing miliknya meningkat 30%. Fast Retailing adalah pemilik merek fesyen Uniqlo, yang gerainya juga terus berekspansi di Indonesia.

Mukesh Ambani./Reuters

Selanjutnya, Mukesh Ambani, yang menambahkan US$4 miliar ke kekayaannya dan mengalahkan pendiri Alibaba Group Holding Ltd., Jack Ma, sebagai orang terkaya di Asia. Ambani makin kaya berkat kinerja Reliance Industries Ltd., yang bergerak di berbagai bidang seperti energi, petrokimia, tekstil, Sumber Daya Alam (SDA), ritel, dan telekomunikasi.

Ada pula anggota baru yang masuk dalam daftar orang terkaya ini, yang memperoleh keuntungan dari bisnis teknologi, konsumsi, bioteknologi, dan farmasi.

Di antaranya Colin Huang yang memiliki platform e-commerce Pinduoduo Inc., Nguyen Dang Quang dari Vietnam yang memimpin produsen makanan Masan Group, serta Donald Sihombing dari Indonesia yang bergerak di real estat.

Secara keseluruhan, sebagian besar pendatang baru ini berasal dari China, 5 dari Korsel, 4 dari Jepang, dan 2 dari Asia Tenggara.

Sumber : Bisnis Indonesia