Sinergi untuk Pertumbuhan

Bandoe Widiarto - Dokumen Solopos
18 Desember 2018 17:29 WIB Bandoe Widiarto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (17/12/2018). Esai ini karya Bandoe Widiarto, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo.

Solopos.com, SOLO -- Tahun 2018 merupakan tahun yang penuh tantangan. Perekonomian global tumbuh tidak merata dan penuh ketidakpastian. Kondisi ini kemungkinan masih akan berlanjut pada 2019 dan tahun berikutnya. Terdapat tiga hal penting yang perlu kita cermati.

Pertama, pertumbuhan ekonomi dunia yang pada 2018 diperkirakan sekitar 3,73% kemungkinan akan melandai ke 3,70% pada 2019. Ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tahun ini tumbuh tinggi diperkirakan akan menurun pada 2019. Ekonomi Uni Eropa dan Tiongkok akan tumbuh melandai dari 2018 ke 2019.

Tekanan inflasi mulai meningkat baik di AS maupun di Uni Eropa dan sejumlah negara lain. Kedua, kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Fed, akan diikuti normalisasi kebijakan moneter di Eropa dan sejumlah negara maju lainnya. Ketidakpastian di pasar keuangan global mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara emerging markets.

Ketiga, perkembangan global tersebut berdampak pada penguatan mata uang dolar AS dan memicu pembalikan modal asing dari negara emerging markets, termasuk Indonesia. Di tengah ekonomi global yang tidak kondusif, kinerja dan prospek perekonomian Indonesia cukup baik.

Stabilitas ekonomi tetap terjaga dan momentum pertumbuhan juga terus berlanjut. Pertumbuhan ekonomi cukup baik pada 2018, atau mencapai sekitar 5,1%. Inflasi sepanjang 2018 tetap rendah sehingga mendukung peningkatan daya beli masyarakat. Melihat perkembangan hingga November 2018, inflasi pada akhir 2018 diperkirakan sekitar 3,2%.

Meskipun mendapat tekanan, depresiasi nilai tukar rupiah relatif terjaga pada 2018 dan bahkan pada beberapa waktu terakhir ini menguat. Data per 4 Desember 2018 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah Rp14.293. Pada 2019, kami perkirakan rupiah akan bergerak stabil sesuai mekanisme pasar.

Stabilitas rupiah ditopang pula oleh penurunan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih aman. Stabilitas sistem keuangan terjaga ditopang permodalan perbankan yang kuat, risiko kredit yang terkendali, meningkatnya penyaluran kredit, dan likuiditas yang cukup. Pembiayaan ekonomi melalui pasar modal juga akan meningkat. Kinerja ekonomi domestik didukung pula oleh kelancaran sistem pembayaran, baik tunai maupun nontunai.

Jawa Tengah

Sejalan dengan ekonomi Indonesia yang cukup baik, pada 2018 pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah menunjukkan perbaikan, bahkan lebih tinggi dibanding nasional. Secara kumulatif, sampai triwulan III 2018, perekonomian Jawa Tengah menunjukkan pertumbuhan 5,38% (ctc), lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2017 sebesar 5,22% (ctc).

Perbaikan pertumbuhan ekonomi ditopang kuatnya investasi, baik dari kategori bangunan maupun nonbangunan, dan dari sisi konsumsi yang didorong terjaganya daya beli, serta tambahan pendapatan berupa program sosial pemerintah dan kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK).

Laju pertumbuhan impor, terutama barang modal, yang masih lebih tinggi dibanding ekspor, berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada 2018. Inflasi Jawa Tengah pada 2018 berada pada level yang rendah dan stabil. Hingga November 2018, inflasi tercatat 3,10% (yoy) atau secara kumulatif sebesar 2,37%.

Berdasarkan rilis terakhir Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Soloraya pada 2017 sebesar 5,45%. Angka pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah maupun nasional. Secara spasial, seluruh kabupaten/kota di wilayah Soloraya mampu tumbuh di atas 5,0% (yoy). Pertumbuhan ekonomi wilayah Soloraya pada 2017 masih didorong empat sektor utama: industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, pertanian, dan konstruksi.

Dari empat sektor tersebut, sektor pertanian dan konstruksi tercatat mengalami perlambatan. Pada 2018, berdasarkan asesmen yang kami lakukan, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi wilayah Soloraya meningkat dan berada pada kisaran 5,3%-5,7% (yoy), sejalan dengan kinerja ekonomi nasional dan Provinsi Jawa Tengah.

Tingkat inflasi Kota Solo per November 2018 tercatat 2,99% (yoy) dan secara tahun kalender sebesar 1,87% (ytd). Inflasi tersebut bersumber dari seluruh kelompok disagregasi, yaitu administered prices, core inflation, dan kelompok volatile foods. Komoditas yang paling sering muncul sebagai komoditas penyumbang inflasi terbesar antara lain telur ayam ras, tarif angkutan udara, dan bahan bakat minyak.

Secara tahunan inflasi Kota Solo masih relatif terkendali dan berada di bawah capaian Provinsi Jawa Tengah yang sebesar 3,10% (yoy) maupun nasional yang sebesar 3,23% (yoy), demikian pula dengan kabupaten/kota lainnya di wilayah Soloraya. Kami yakin inflasi Kota Solo khususnya sampai akhir 2018 akan berada di kisaran sasaran 3,5±1%.

Cukup Baik

Dari sisi stabilitas sistem keuangan, fungsi intermediasi perbankan (bank umum) di wilayah Soloraya berjalan dengan cukup baik. Penghimpunan dana pihak ketiga pada Oktober 2018 tumbuh sebesar 13,25% (yoy), didorong oleh peningkatan deposito, namun cenderung melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perlambatan tersebut juga diikuti perlambatan penyaluran kredit perbankan menjadi sebesar 9,32% (yoy) dengan nonperforming loan (NPL) sebesar 2,87%, berada di bawah batas indikatif Bank Indonesia. Penyaluran kredit terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga cukup baik, sebagaimana tercermin dari share yang mencapai 32,75% dengan NPL yang juga masih terjaga di bawah 5%.

Di bidang sistem pembayaran tunai, sesuai dengan pola historis, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo masih mencatatkan net inflow. Total net inflow hingga Oktober 2018 mencapai Rp10,24 Triliun. Temuan uang palsu hingga November 2018 sebanyak 4.738 lembar yang didominasi oleh pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. Di bidang sistem pembayaran nontunai, transaksi melalui RTGS hingga November 2018 telah mencapai Rp42,85 triliun, perputaran kliring mencapai Rp151,15 triliun.

Saat ini terdapat sembilan pelaku kegiatan usaha penukaran valuta asing (bukan bank berizin di Soloraya dan 10 perusahaan penyelenggara jasa pengolahan uang rupiah yang turut mendukung penyelenggaraan sistem pembayaran di wilayah Soloraya.

Perjalanan ekonomi pada 2018 memberikan beberapa pelajaran yang dapat dipetik untuk menghadapi kondisi ekonomi global yang masih kurang kondusif. Pada level provinsi, Jawa Tengah masih menghadapi tantangan struktural berupa kecenderungan meningkatnya defisit neraca perdagangan.

Pada 2018 defisit neraca perdagangan Jawa Tengah meningkat signifikan. Defisit tersebut didominasi defisit perdagangan komoditas minyak dan gas (pangsa 68,75%) untuk pemenuhan bahan baku industri pengilangan minyak yang menjadi pemasok kebutuhan bahan bakar minyak nasional.

Peningkatan signifikan pada defisit perdagangan nonminyak dan gas pada 2018 juga perlu diwaspadai, yang didorong oleh impor barang modal berupa mesin pembangkit, mesin industri, alat listrik, dan alat telekomunikasi. Impor barang konsumsi dan bahan baku juga meningkat, terutama berupa logam tidak mulia, tekstil dan produk tekstil, serta bahan makanan.

Menekan Impor

Daya saing dan produktivitas harus terus kita tingkatkan untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi. Industri manufaktur di bidang tekstil dan alas kaki perlu kita dorong untuk peningkatan ekspor dengan memanfaatkan global and regional supply chains. Kemampuan produksi dalam negeri juga harus kita tingkatkan untuk menekan impor.

Pemberdayaan UMKM yang berorientasi ekspor maupun yang menghasilkan produk substitusi impor juga perlu semakin digalakkan sebagai salah satu upaya mengurangi defisit neraca perdagangan yang nantinya juga akan berdampak pada membaiknya current account deficit.

Sektor pariwisata juga perlu kita dorong turut berperan dalam perbaikan defisit di neraca jasa. Selain pengembangan sektor pariwisata secara terintegrasi melalui kawasan Joglosemar, yang mencakup Borobudur, Dieng, Karimunjawa, serta Sangiran, kita juga perlu terus mendorong pengembangan sektor pariwisata di wilayah Soloraya, baik dari sisi attraction, amenities, maupun access.

Hal ini berpotensi menjadikan sektor pariwisata menjadi new source of growth di wilayah Soloraya. Mencermati kondisi perekonomian di atas, bauran kebijakan Bank Indonesia yang telah ditempuh pada 2018 akan semakin kami perkuat pada 2019. Stance kebijakan moneter yang pre-emptive dan ahead-the-curve akan dipertahankan pada 2019.

Pada 2018, dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah dan dari dampak kenaikan suku bunga global dan pembalikan portfolio asing, BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) kami naikkan 175 bps menjadi 6%. Kenaikan suku bunga ini juga sebagai bagian dari menurunkan defisit transaksi berjalan.

Akselerasi pendalaman pasar keuangan akan terus didorong pada 2019 untuk mendukung efektivitas kebijakan Bank Indonesia dan pembiayaan ekonomi secara lebih luas. Pendalaman pasar keuangan juga dilakukan pada pasar keuangan berbasis syariat.

Kebijakan makroprudensial yang akomodatif akan ditempuh untuk mendukung stabilisasi sistem keuangan dan mendorong intermediasi perbankan dalam pembiayaan ekonomi. Beberapa kebijakan telah dilakukan pada 2018, yaitu pelonggaran ketentuan loan to value untuk mempermudah kepemilikan rumah; pelonggaran rasio intermediasi makroprudensial; pelonggaran ketentuan penyangga likuiditas makroprudensial.

UMKM

Kebijakan makroprudensial juga akan ditempuh melalui penyempurnaan rasio pembiayaan UMKM dan pengembangan rasio pembiayaan sektor prioritas dalam rangka mendukung pengembangan UMKM dan sektor prioritas. Kebijakan sistem pembayaran akan terus dikembangkan untuk kelancaran, efisiensi, dan keamanan transaksi pembayaran nontunai maupun tunai, termasuk dalam mendukung ekonomi dan keuangan digital, antara lain melalui penguatan infrastruktur dan kelembagaan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) serta pengembangan uang elektronik dan teknologi financial.

Pada sistem pembayaran tunai, efisiensi dan jangkauan distribusi pengedaran uang terus kami tingkatkan ke berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah pelosok dan terpencil serta memastikan implementasi business continuity plan demi kelancaran penyelenggaraan sistem kliring nasional Bank Indonesia.

Untuk persiapan Natal dan tahun baru 2019, Bank Indonesia Solo menyiapkan estimasi kebutuhan uang Rp1,7 triliun dengan porsi terbesar pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. Estimasi tersebut meningkat 21% dibandingkan 2017. Kami juga senantiasa memperluas program smart market serta menjaga kualitas uang yang beredar pada soil level yang baik demi terpenuhinya kebutuhan uang rupiah di masyarakat dalam nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu, dan dalam kondisi yang layak edar.

Program elektronifikasi pembayaran nontunai akan kami perluas di berbagai area, salah satunya bertujuan mengoptimalkan pengelolaan keuangan pemerintah daerah. Bank Indonesia akan terus mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariat melalui perluasan program pemberdayaan usaha pesantren dan pengembangan ekosistem halal value chain, khususnya di sektor makanan, fashion, dan pariwisata.

Program-program pengembangan UMKM kami perluas dan difokuskan pada pengendalian inflasi dan penurunan defisit transaksi berjalan. Yang telah kami lakukan di wilayah Soloraya antara lain melalui pengembangan klaster padi (Sragen), klaster modern farming (Sukoharjo), klaster bawang merah bima organik (Boyolali), klaster bawang putih dan daging ayam ras (Karanganyar), dan klaster cabai (Wonogiri).

Demikian pula klaster UMKM atau local economic development (LED) di bidang kerajinan seperti kerajinan logam tumang dan kerajinan gerabah. Bank Indonesia juga turut membantu mengatasi permasalahan sosial kemasyarakatan melalui program sosial Bank Indonesia.

Sejalan dengan transformasi Bank Indonesia, program sosial ini juga mulai berubah dan memasuki babak baru. Perlahan mulai meninggalkan paradigm filantropi menuju pemberdayaan berkelanjutan yang mampu meningkatkan nilai-nilai ekonomi sosial.

Memperkuat Ketahanan

Program sosial diprioritaskan pada peningkatan kapasitas ekonomi; peningkatan kapasitas sumber daya manusia, termasuk program Indonesia cerdas berupa BI corner, beasiswa, dan pengelolaan komunitas beasiswa; dan program kepedulian. Sinergi adalah kunci untuk memperkuat ketahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dengan pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, civitas academica, media, dan para mitra kerja lainnya yang selama ini telah erat akan terus kami perkuat. Sinergi yang kuat pada Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kabupaten/kota di wilayah Soloraya mampu menjaga inflasi tetap rendah dan terkendali.

Sinergi tersebut diwujudkan melalui pelaksanan rapat koordinasi di level tim teknis maupun high level meeting dan pelaksanaan program aksi yang dilakukan dengan mengacu program pengendalian inflasi 4K: ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi yang efektif.

Beberapa bentuk program aksi tersebut antara lain inspeksi mendadak pasar; pelaksanaan pasar gotong royong dalam rangka pengendalian harga pada saat menjelang Lebaran; dan penyediaan kios TPID sebagai tempat rujukan harga kebutuhan pokok di Kota Solo.

Kami juga senantiasa memperkuat sinergi di bidang sistem pembayaran tunai, antara lain dengan perbankan di wilayah Soloraya dalam pelaksanaan penukaran uang bersama, penyelenggaraan kampanye GPN dan upaya mendorong penggunaan kartu debit berlogo GPN serta rencana penarikan empat pecahan uang yang terdiri pecahan Rp10.000 tahun emisi (TE) 1998, Rp20.000 TE 1998, Rp50.000 TE 1999 dan pecahan Rp100.000 TE 1999; serta dengan Satuan Polisi Pamong Praja dalam penertiban pedagang uang ilegal yang marak saat menjelang Lebaran.

Di bidang sistem pembayaran nontunai, BI, perbankan, dan pemerintah daerah akan bersama mengawal implementasi transaksi nontunai di daerah mendorong penggunaan uang elektronik bagi pengguna jalan tol, dalam penyaluran bantuan sosial nontunai serta transaksi lain dalam rangka mendorong efisiensi perekonomian.

Kami juga akan terus mengawal implementasi kewajiban penggunaan uang rupiah dan pembawaan uang kertas asing baik ke dalam maupun ke luar daerah pabean Indonesia. Kita telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi dampak rambatan global dengan stabilitas yang terjaga dan momentum pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut.

Semakin Baik

Prospek ekonomi Indonesia, termasuk Jawa Tengah, akan lebih baik pada 2019 dan akan semakin lebih baik lagi dalam jangka menengah-panjang. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat pada 2019, hingga mencapai kisaran 5,0%-5,4%.

Kami meyakini inflasi nasional akan tetap terkendali pada kisaran sasaran 3,5%±1% pada 2019, seiring dengan terjaganya tekanan harga dari sisi permintaan, volatile foods dan administered prices, ekspektasi inflasi, serta stabilnya nilai tukar rupiah.

Pertumbuhan kredit pada 2019 diprakirakan mencapai 10%-12% dan pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan dalam kisaran 8%-10%. Defisit transaksi berjalan 2019 akan turun menjadi sekitar 2,5% dari PDB dengan langkah-langkah pengendalian impor serta peningkatan ekspor dan pariwisata.

Perekonomian Jawa Tengah diproyeksikan akan tumbuh lebih tinggi di rentang 5,3%-5,7% di tahun 2019 dengan inflasi yang terjaga pada kisaran 3,5%±1%. Percepatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah salah satunya dipengaruhi oleh konsumsi serta investasi yang tetap kuat pada tahun mendatang.

Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Soloraya pada 2019 masih cukup solid ditopang oleh empat sektor utama, yaitu industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, pertanian, dan konstruksi. Kami juga optimistis inflasi Kota Solo pada 2019 mampu mendukung pencapaian target inflasi nasional 3,5%±1% karena didukung solidnya pengendalian inflasi oleh TPID Kota Solo melalui program 4K.

Optimisme dan persepsi positif perlu terus kita perkuat untuk menyongsong masa depan ekonomi Indonesia yang lebih baik. Ketahanan akan semakin kuat dan pertumbuhan ekonomi akan semakin tinggi sehingga membawa negara kita menuju negara maju dan masyarakat yang makin sejahtera. (Opini ini disampaikan dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia KPw BI Solo pada 12 Desember 2018)