Warung Hik sebagai Penanda Perubahan Sosial

Warung wedangan - Dokumen Solopos
17 Desember 2018 20:09 WIB Muhamad Yusuf Nur Rakhman Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (15/12/2018). Esai ini karya Muhamad Yusuf Nur Rakhman, mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah  yusuf.nurr93@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Wedangan merupakan salah satu ikon yang tak bisa lepas dari Kota Solo. Pengusaha wedangan atau ada yang menyebutnya warung hik merupakan rumpun pedagang kaki lima. Mereka termasuk dalam kategori sektor perekonomian informal yang spesifik di Kota Solo.

Selain sering disebut dengan warung hik, ada istilah unik lainnya yaitu warung ceret telu. Disebut demikian karena di gerobak selalu ada tiga ceret/ketel yang jumlahnya tiga buah. Jamak pual disebut warung kucingan karena lokasinya kebanyakan di gang-gang kampung serta karena yang dijual di warung hik identik dengan nasi kucing yaitu nasi berlauk secuil bandeng/ikan plus sambal, setara seporsi makanan kucing.

Di Solo warung seperti ini lebih di kenal dengan nama warung hik. Di Jogja lebih jamak disebut warung angkringan. Warung hik ini berwujud gerobak kayu berisi aneka makanan dan tiga buah ceret, beratap tenda plastik warna oranye atau biru yang dikelilingi kursi kayu panjang dan diterangi senthir (lampu minyak).

Gerobak berfungsi sebagai meja makan sekaligus etalase yang menyajikan beraneka macam makanan (Trah, 2008). Warung hik/wedangan bukan hanya warung kaki lima di pinggir jalan yang menjajakan minuman dan makanan. Lebih dari itu, menurut Umar Kayam, warung hik merupakan salah satu institusi penting yang menyangga kehidupan Kota Solo.

Dari hidangan hik saja, kita dapat membaca perubahan masyarakat beserta lingkungannya yang juga ikut-ikutan berubah. Hik itu bisa kita sebut juga sebagai miniature perubahan sosial masyarakat eserta lingkungannya. Jika ada sesuatu yang berubah di hik, pasti di masyarakat juga sedang terjadi perubahan.

Perubahan yang terjadi pada wedangan/hik tidak bisa lepas dari perubahan yang terjadi di masyarakat. Wedangan/hik juga turut mengalami perkembangan dan perubahan mengikuti perubahan yang terjadi di masyarakat.

Dewasa ini wedangan mengalami proses transformasi. Transformasi model warung wedangan ini menjadi lebih modern karena saat ini banyak bermunculan warung wedangan ala kafe yang lebih representatif.

Beberapa di antaranya warung wedangan modern itu dirancang dengan tema-tema khusus, seperti tema tempo dulu, tema kekinian, suasana romantis, suasana pesta kebun, dan lain-lain. Penataan tempat untuk menyantap hidangan yang dijajakan juga berbeda bila dibandingkan dengan warung hik.

Di warung hik tempat untuk menyantap hidangan berada di gerobak dan lesehan beralaskan tikar. Di warung wedangan modern terdapat susunan kursi dan meja sebagai tempat menyantap hidangan yang dijajakan.

Selain itu di beberapa warung wedangan modern dilengkapi dengan fasilitas akses Internet wireless fidelity atau wifi dan live music. Ini untuk memuaskan konsumen dan membuat kaum muda zaman sekarang yang identik dengan modernitas atau yang populer dengan istilah kekinian untuk datang ke warung wedangan yang lebih modern ini.

Teknologi

Bentuk-bentuk perubahan yang terjadi pada wedangan merupakan salah satu bentuk perubahan sosiai. Menurut William F. Ogburn, perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan, baik material maupun immaterial, yang menekankan ada pengaruh besar dari unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-nsur immaterial.

Pemanfaatan teknologi dalam wedangan, seperti penambahan fasilitas wifi, live music, dan penambahan variasi menu makan serta penataan ruang, akan memengaruhi pola tindakan masyarakat pengunjung wedangan.

Penambahan fasilitas-fasilitas yang di dalamnya terkandung unsur perkembangan teknologi bertujuan meningkatkan nilai jual dan daya saing wedangan pada era modern saat ini.

Dampak dari perubahan sosial yang terjadi di wedangan melalui penambahan fasilitas, perubahan desain, dan penambahan menu makanan akan melunturkan entitas dari wedangan itu sendiri. Dalam kultur masyarakat Solo, wedangan merupakan salah satu perwujudan dari ruang publik.

Tujuan orang datang ke warung wedangan itu bukan hanya untuk makan dan minum. Selain untuk makan dan minum, orang datang ke warung wedangan untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain, namun hal ini mulai sulit kita temukan di wedangan modern.

Fenomena tersebut terjadi karena salah satunya ada fasilitas wifi. Fasilitas tersebut cenderung membuat pengunjung lebih sibuk dengan gadget mereka daripada berinteraksi dengan orang-orang di sekitar mereka.

Selain wifi, jika kita cermati, penataan ruang, meja, dan kursi juga berpengaruh terhadap pola interaksi masyarakat pengunjung wedangan. Di warung hik/wedangan pengunjung berbaur terpusat di gerobak yang sekaligus menjadi meja makan atau berbaur dalam satu tikar lesehan.

Hal demikian tidak terjadi di wedangan modern. Penataan ruang, meja,  dan kursi membuat pengunjung kurang bisa berbaur dengan pengunjung lain, Pengunjung wedangan modern lebih fokus pada orang-orang yang duduk bersama dalam satu susunan meja dan kursi yang biasanya merupakan teman atau kerabat dekat.

Penataan ruang, meja, dan kursi yang sedemikian rupa ternyata memengaruhi pola interaksi di wedangan modern. Ruang publik wedangan tidak ditemukan di warung wedangan modern. Di wedangan modern justru mengemuka ruang-ruang privat yang muncul dalam ruang publik.

Perilaku Individu

Di titik inilah perbedaan warung hik/wedangan dan wedangan modern terlihat jelas. Keragaman bentuk dan fungsi wedangan modern tidak hanya dilihat berdasarkan jenis makanan atau minuman yang ditawarkan, tetapi individu yang ada di sana beserta kegiatan yang terjadi di dalamnya ikut memengaruhi proses konsumsi.

Pemahaman area konsumsi (sites of consumption) sebagai pembentuk konsumerisme cara hidup, dalam hal ini budaya nongkrong di wedangan modern, tak pelak memunculkan dimensi spasial konsumerisme sebagai gaya hidup.

Sebagai area konsumsi, wedangan sejatinya yang selama ini identik dengan tempat meminum wedang, bercengkerama sembari ditemani sega kucing atau hidangan ringan seperti gorengan, sundukan¸ dan lain-lain pada perkembangannya tidak hanya sebatas kegiatan itu saja.

Persoalan makan dan minum di wedangan tidak hanya untuk melepaskan lapar dan dahaga, melainkan terjadi berbagai motif dan dinamika yang dimiliki seseorang ketika mengunjungi wedangan modern yang memengaruhi ragam perilaku konsumen terhadap ruang wedangan modern itu sendiri.

Wedangan modern saat ini sarat dimaknai sebagai ruang yang tidak hanya sebatas pada penyediaan makanan dan minuman sebagai simbol keberadaan sebuah ruang, namun wedangan modern telah menjadi satu penanda momentum tempat kebudayaan baru mulai terbentuk (Palupi, 2016:134).

Pada titik ini wedangan secara jelas menunjukkan perubahan di masyarakat kita. Munculnya wedangan modern di tengah-tengah hegemoni wedangan tradisional bukan hanya menunjukkan adanya perubahan tingkat perekonomian.

Lebih jauh dari itu, munculnya konsep wedangan modern menunjukkan ada proses perubahan di masyarakat kita, dari yang bercirikan tradisional, yang terlihat dari wedangan/hik, menuju masyarakat modern, yang dapat dilihat dari eksistensi wedangan modern beserta konsumennya.