Berharap pada Generasi Z

Suwarmin - Dokumen Solopos
13 Desember 2018 15:49 WIB Suwarmin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (10/12/2018). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Zaman berubah, manusia pun sama. Lupakan sejenak generasi milenial, generasi yang belakangan sering kali disebut-sebut sebagai sekelompok generasi yang istimewa.

Ini generasi yang oleh beberapa pihak disebut paling berpendidikan, lebih memahami teknologi, lebih memahami banyak isu, dan lebih berjiwa entrepreneur.

Warga generasi milenial yang lahir setelah 1980 hingga pertengahan 1990-an saat ini sebagian telah mapan, sebagian mulai mendaki puncak karier, dan sebagian masih mencari jati diri.

Pada dasarnya mereka dianggap masih mengingat sejumlah nilai lama, masih merasakan sisa-sisa generasi X, masih mempunyai rasa inferior atas budaya Barat, dan sebagainya.

Generasi Z, generasi yang lahir setelah 1995 hingga 2014, atau ahli lain menyebut lahir setelah pertengahan 1990-an hingga 2010-an, mempunyai peradaban tersendiri. Sebagaimana setiap jejak generasi sebelumnya, generasi Z menyimpan keunikan tersendiri.

Mereka generasi yang sejak lahir dikuasai teknologi, bahkan jejak hidup mereka, mulai lahir hingga tahap-tahap pertumbuhan mereka, terdokumentasikan dengan rapi di platform digital.

Dari seluruh generasi yang ada dan masih hidup saat ini, hanya generasi Z yang hidupnya bak artis. Segalanya serbaterekam, terdata, terpublikasikan, terbagikan kepada warga dunia lainnya.

Menurut catatan Tirto.id, jumlah generasi Z ini pada 2010 mencapai 68 juta jiwa. Tahun ini jelas jauh lebih banyak lagi. Jumlah yang fantastis. Mereka lebih dari sekadar milenial.

Platform Digital

Generasi milenial disebut sebagai generasi yang paling berpendidikan, lebih memahami teknologi, lebih memahami banyak isu, dan lebih berjiwa entrepreneur; generasi Z melewati semua itu.

Generasi Z berada di lautan pendidikan, kubangan teknologi, bauran budaya, dan post-enterpreneur. Mereka bisa belajar teknik arsitektur di kampus sembari mempelajari bagaimana membuat film di Youtube.

Mereka bisa ”bersentuhan” dengan pesohor mana pun, di Korea hingga Hollywood, melalui laman media sosial. Mereka bisa menangkap inspirasi wirausaha dari sudut dunia lain, yang tidak terbayangkan oleh generasi sebelumnya, lalu mendaur ulang inspirasi itu, memberi nilai tambah, lalu menjual melalui platform digital.

Mungkin orang tua mereka pun bingung dari mana anaknya belajar. Itulah generasi Z. Menurut sejumlah ahli demografi, generasi Z cenderung lebih kaya wawasan, menghargai keberagaman, ingin menjadi agen perubahan, berorientasi pada target, dan senang berbagi.

Ini berbeda dengan kaum milenial atau generasi Y (kelahiran 1977-1995) yang cenderung egois. Ada pula yang mengatakan generasi Z tidak mewarisi karakter inferior Melayu di hadapan bangsa Eropa.

Anak-anak generasi Z Indonesia merasa tidak minder bertemu orang asing. Mereka merasa setara, merasa sama-sama warga dunia yang flat, disatukan oleh interface dunia digital yang sama.

Politik dan Ekonomi

Bagi para politikus, apalagi mereka yang tengah bertarung pada pemilihan umum tahun depan, generasi Z sangat layak diperhitungkan. Alvara Research Center membuat prediksi wajah Indonesia pada 2020 yang akan ditandai dengan tiga fakta kunci.

Tiga fakta kunci itu adalah dominasi masyarakat urban, kelas menengah, dan penduduk usia muda. Alvara juga mengkaji ciri-ciri generasi serba-Internet ini, yakni kecanduan Internet, mudah berpaling ke lain hati, dompet tipis, kerja cepat dan cerdas, bisa apa saja, liburan kapan saja dan di mana saja, cuek dengan politik, dan suka berbagi.

Jumlah warga generasi Z besar, bisa menjadi penentu siapa pemegang tampuk kekuasaan tahun depan: penantang atau petahana? Selisih perolehan suara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto pada pemilihan presiden 2014 kurang dari Sembilan juta jiwa.

Masalahnya, tidak mudah menaklukkan hati generasi Z karena generasi ini dianggap kurang loyal, cuek dengan politik, dan tidak mudah dipengaruhi. Kondisi mereka yang mudah mencari informasi pembanding membuat mereka mudah menilai mana karakter yang genuine atau asli dan mana yang artifisial alias dibuat-buat.

Dua jalur politik yang saling berkelindan belakangan ini di Indonesia, yakni politik identitas dan politik post-truth (paska-kebenaran), bisa saja masih mengena ke sebagian generasi Z, namun sebagian lain belum tentu terpapar arus ini.

Dua tahun lalu, Oxford Dictionary menyebut post-truth sebagai kata paling populer, yang didefinisikan sebagai situasi ketika keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik daripada fakta-fakta objektif.

Kabar-kabar suram, kabar bohong, informasi yang tidak semua salah atau tidak semua benar sengaja dianyam dan ditiup-tiupkan untuk dikhayalkan sebagai fakta yang sejati. Para pengidapnya hanya akan mencari informasi pembenar, bukan mencari informasi yang benar.

Hal ini masih terjadi sampai saat ini, tetapi entah apa yang ada di benak para generasi Z yang misterius ini. Di sektor ekonomi, menurut survey Nielsen, generasi Z memengaruhi pasar karena mereka adalah pembeli mayoritas produk elektronik, yakni 62%.

Mereka generasi aneh yang rela membayar mahal untuk belanja pengalaman. Teknologi digital dan panggilan online presence membuat pusaran bisnis di sektor ini terus menggurita.

Gaya Berbeda

Generasi Z tidak serupa dengan generasi milenial. Karakter mereka sebagai kelompok pasar tidak boleh disamaratakan. Perusahaan yang mampu menangkap keinginan mereka berpeluang besar bertahan pada tahun-tahun mendatang.

Tahun-tahun yang misterius dan sulit ditebak bagi dunia industri, baik industri barang maupun jasa. Bagaimana pun juga, generasi Z (dan sebagian milenial) harus didekati dengan gaya berbeda.

Para pemasar poduk politik, produk barang atau jasa, harus cerdik mengelola narasi untuk menggapai generasi Z ini. Tanpa pendekatan serius dan massif pasti kalah bersaing dengan pihak lain. Tidak ada market driven atau driven market untuk kelompok ini, yang ada adalah create market untuk setiap sisi keunikan mereka.

Ketika orang mempunyai pilihan jelas terhadap figur politik tertentu, ketika orang mulai mantap memilih tempat liburan tertentu, atau ketika konsumen mulai yakin dengan kualitas produk tertentu, Internet bisa mengubah keputusan ini secara dramatis melalui preferensi digital yang disodorkan di depan mata.

Di Google, orang menyebut ini sebagai momen pembuatan keputusan digital atau zero moment of truth (ZMOT). Harap maklum, di bidang ekonomi generasi ini tidak bisa diiming-imingi dengan gelimang brosur mewah.

Di bidang politik, generasi ini juga enggan menerima sodoran segepok uang serangan fajar. Kalau toh mereka terima, mereka berkeyakinan itu tidak akan membeli suara mereka.

Satu hal yang menarik, rata-rata generasi Z ini sangat toleran dan ramah terhadap perbedaan karena mereka beajar dari terpaan segala macam informasi yang berseliweran di gadget mereka.

Karakter orang-orang pilihan di generasi Z ini sangat melegakan hati. Dalam satu momen dialog, ada pemuda yang dengan gagah mengatakan kepada saya kelak saat generasi mereka berkuasa di negeri ini, korupsi tak akan ada lagi.

Entahlah, dia terlalu optimistis atau bodoh. Mari berharap generasi Z membawa kita ke panggung dunia sebagai bangsa modern, toleran, setara dengan bangsa lain, maju, dan bernurani.