Jelalatan

Joko Setiyono - Istimewa
11 Desember 2018 13:49 WIB Joko Setiyono Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (8/12/2018). Esai ini karya Joko Setiyono, pustakawan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah jjokko@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Jelalatan mengindikasikan peningkatan kinerja indra penglihatan: mata. Pemahaman ini selaras Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menuliskan lema ”jelalat” adalah kata kerja yang berarti lihat ke mana-mana.

Sementara kata ”jelalatan” diartikan sama dengan melihat ke mana-mana dengan liar (KBBI, 2017: 689). Kini fenomena jelalatan makin mengejala di sekitar kita. Pemicu utama adalah teknologi kamera digital.

Sebagai ekstensi indra penglihatan kamera digital berkembang semakin canggih dan harganya kian terjangkau; makin mudah dan sederhana pemakaiannya. Kamera digital bisa ditanamkan ke berbagai benda dan peralatan.

Ada drone yang dapat disuruh menjelajah tempat-tempat yang diinginkan. Ada closed circuit television (CCTV) sebagai pengawas yang siap siaga nonsetop. Ada beragam kamera tersembunyi yang bisa menyaru wujud apa saja.

Yang paling akrab bagi manusia masa kini adalah telepon seluler berkamera. Orang nyaris tak pernah lepas dari telepon seluler, menyanding kamera digital ke mana pun yang membuat kian leluasa jelalatan.

Ke mana pun pergi telepon seluler menjadi tentengan wajib yang tak bisa ditinggalkan, membuat orang leluasa jepret sana jepret sini mengabadikan setiap peristiwa yang ditemui. Orang semakin rajin memotret apa saja, muncullah kegemaran baru yaitu selfie (swafoto) serta nge-vlog.

Beragam kreativitas dituangkan. Foto-foto dan video-video dihasilkan setiap hari, setiap jam, setiap menit. Tidak terbayangkan berapa volume yang terakumulasi. Berlimpah kekayaan pengetahuan yang kemudian dapat diabadikan dari perilaku jelalatan dengan kamera digital ini.

Beruntung, kemajuan teknologi penyimpanan data semakin meningkat, bahkan bisa disebut revolusioner. Mampu mengiringi derasnya keativitas dan produktivitas jelalatan ini. Betapa tidak, lahirnya format penyimpanan digital membuat media berformat analog kian luntur daya tawarnya dan tampak semakin kuno.

Format penyimpanan digital memberikan keringkasan fisik dan memaksimalkan kapasitas, mulai dari compact disk (CD), flashdisk, kartu memori, hardisk, server, sampai cloud stored. Foto dan video memperoleh alamat penyimpanan baru seperti Instagram, Flicker, Facebook, Youtube, dan sebagainya.

Belanja kuota internet dan belanja kartu memori menggeser belanja kertas, buku tulis, dan pena. Buku-buku tulis nyaris tak tersentuh lagi. Pena mulai jarang dijamah.

Pena vs Kamera

Pena versus kamera mewakili deskripsi padat fenomena tersebut. Kamera digital seolah-olah sedang bertarung sengit dengan pena, pensil, bolpoin, dan aneka peralatan menulis lainnya.

Kedua jenis peralatan yang berbeda tersebut berlomba menawarkan solusi untuk mengabadikan informasi dan pengetahuan. Orang mulai malas membuat deskripsi tertulis dan mulai suka memotret atau merekam sebagai dokumen.

Orang akan dilamun kegalauan untuk sekadar meraih pena atau telepon seluler berkamera ketika hendak menyimpan informasi atau pengetahuan yang baru saja ditemui. Terlepas dari mana yang kemudian dimenangkan, kini orang semakin sering mempertukarkan keduanya, kamera dan pena.

Aktivitas memotret meningkat secara signifikan dibandingkan dengan sebelum ada telepon seluler berkamera. Munculnya kegemaran berswafoto dan membawa-bawa tongkat narsis (tongsis) menjadi indeks yang tak terbantahkan.

Orang kian terbiasa dengan laku jelalatan, lihat sana-sini lantas mengaktifkan kamera digital di sembarang waktu dan tempat. Tampaknya orang-orang cenderung menyukai aktivitas jeprat-jepret memainkan kamera digital daripada orat-oret menulis dengan pena.

Kenyataan ini didorong lebih lanjut oleh media pertukaran informasi atau pesan berupa media sosial dan situs dalam jaringan untuk berbagi video. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, dan sebagainya menawarkan fasilitas pertukaran informasi secara multimedia.

Orang bebas dan mudah bertukar informasi teks, gambar, meme, foto, video, serta campuran dari semua jenis informasi tersebut. Orang sering kali meminta dan memberikan foto dan video sebagai penguat pesan informasi, bahkan ada anekdot no pic=hoax.

Kemudahan menghasilkan informasi visual yang instan dibanding informasi tekstual mulai menjauhkan manusia dari pena. Manusia semakin mesra dengan kamera digital untuk mengikat pengetahuan-pengetahuan.

Kamera digital menjadi senjata baru untuk memburu dan menyimpan pengetahuan. Kamera digital digunakan untuk menjelajah seluruh bumi sampai sekujur tubuh manusia sendiri.

Secara nyata Google Map telah menggeser gulungan-gulungan kertas peta dunia. Lorong-lorong jalan telah tersapu jelalat kamera perekam digital. Demikian pula kamera (endoskopi) telah menjelajah lorong-lorong tubuh manusia.

Kamera CCTV menjadi pemantau paling setia suatu kawasan nonsetop sepanjang waktu. Begitu banyak hal yang telah diabadikan oleh kamera-kamera digital ini, dari yang bersifat investigatif, dokumentatif, edukatif, sampai rekreatif.

Kamera digital yang mulai dikenalkan pada era 1980-an kini menjadi telah peralatan pribadi. Perangkat ini memperluas jangkauan indra penglihatan/mata, memperkuat daya jelalat mata. Orang menjadi leluasa setiap saat memotret atau merekam objek yang dianggap penting, menarik, atau unik.

Frekuensi memotret dan merekam meningkat. Hampir setiap hari dikerjakan. Memotret dan merekam kini menjadi lebih mudah dan murah sehingga jelalat ”mata digital” ini menghasilkan ber-byte-byte catatan pengetahuan. Catatan pengetahuan berformat digital yang digandrungi generasi milenial.

Demokratisasi

Tak mengherankan bila lembaran-lembaran kertas semakin sepi dari huruf dan angka. Fenomena tersebut diperhebat situs-situs dalam jaringan untuk berbagi video serta beragam media sosial. Terjadi demokratisasi yang luar biasa dari segi publisher.

Setiap individu bisa menjadi publisher, membagi pengetahuan dengan memanfaatkan situs-situs tersebut. Menjadi youtuber atau vloger adalah hobi yang kian populer. Situs Youtube dibanjiri video yang beragam kontennya.

Ada konten dokumentatif, kreatif imajinatif, edukatif, sampai rekreatif. Ada konten kuliner. Ada konten kosmetik. Konten dunia  flora fauna sampai dunia gemerlap panggung selebritas. Ada konten kehidupan liar di hutan belantara sampai kehidupan privat. Ada sketsa komedi sampai rekaman tragedi bencana alam.

Siapa publisher dan siapa penonton di ruang global situs berbagi video Youtube tercatat. Youtube tidak sendirian. Ada situs berbagi video lainnya, Blib, Metacafe, Veoh, Dailymotion, Yahoo!Screen, Hulu, dan sebagainya. Ada kabar Youtube saat ini meraih 20% lalu lintas akses Internet global.

Tidak mengherankan bila situs Youtube menjadi semacam kelas online, tempat orang belajar tentang banyak hal. Kapasitas informasi dan pengetahuan yang tersimpan di dalamnya begitu luar biasa, baik dari segi jenis maupun jumlahnya.

Orang bisa belajar tentang apa saja karena diimbangi dengan sisi sebaliknya, yaitu orang bisa menyimpan pengetahuan dan informasi apa saja sekaligus berbagai di Youtube. Acara TV Hitam-Putih pada 27 Agustus 2018  bertajuk Bukan Sekadar Seni menampilkan Ivan Bestari, seniman limbah kaca.

Ia menjawab pertanyaan pembaca acara Deddy Corbuzier ihwal dari mana ia belajar keahlian tersebut. ”Saya belajar dengan Murano dari Italia, Corning New York, by Youtube tapi, nonton di Youtube,” kata Ivan.

Jawaban senada juga diungkapkan bintang tamu Syahril, seorang editor foto. Ia melakukan cara yang sama dengan Ivan untuk meningkatkan keahlian, yaitu belajar dari Youtube. Tampak nyata kini jelalatan mulai menjadi cara baru untuk belajar serta menghibur diri.

Streaming video adalah strategi belajar atau memburu pengetahuan bagi orang era milenial. Dengan mengonsumsi berbagai sajian video di situs-situs tertentu membantu orang meningkatkan keahlian dan kompetensi.

Di aneka situs berbagi video tersimpan khazanah video tutorial. Ada pula video yang disajikan dengan semangat do it yourselft (DIY). Semangat DIY adalah memicu orang melakukan sesuatu secara mandiri.

Viral

Bila video tersebut menyedot banyak perhatian publik dalam waktu singkat jadilah viral, menu video yang renyah dan murah untuk jelalatan. Beruntung kalau yang menjadi viral adalah peristiwa seperti aksi spontanitas Joni memanjat tiang bendera untuk membenahi tali yang lepas saat upacara peringkatan ke-73 emerdekaan Republik Indonesia di daerah Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Video viral seperti ini menyegarkan ingatan publik di negeri ini tentang spirit nasionalisme. Kontent video-video yang menjadi viral mengajak publik bersama-sama dan dalam waktu yang berdekatan mendiskusikan suatu topik tertentu.

Pada akhirnya tanpa disadari menambah pengetahuan publik. Video yang menjadi viral potensial mengerek popularitas dan kapitalitas publisher. Sayangnya, kemudahan membuat video serta potensi menjadi viral ini terkadang membuat orang kalap dan sekadar memburu keuntungan kapital semata.

Mudah kita temukan video-video bertanda pagar (tagar) tertentu yang menjadi tren anak-anak dan remaja. Di depan kamera para remaja itu memerankan adegan yang kadang kala kebablasan, menjadi ironi dari jelalatan. Menerabas batas-batas norma moral, adab, kesusilaan fondasi kehidupan bersama.

Jelalatan menandai gejala disrupsi dalam strategi mendapatkan dan mengikat pengetahuan. Dengan berbantuan kamera digital mata manusia menjadi lebih jauh, luas, dan dalam mengembara menjelajahi penampakan-penampakan baru.

Kamera digital menghasilkan foto dan video dokumentasi pengetahuan berbasis visual dan grafis. Menggeser deskripsi-deskripsi tekstual hasil kolaborasi kerja pena dan kertas. Memproduksi dan mendistribusikan foto dan video semakin mudah dilakukan oleh setiap individu.

Pada titik ini orang harus mampu menahan diri dari banalitas. Memproduksi adegan-adegan yang bersifat sensasional belaka. Mengejar popularitas, memburu viewer, follower, like, share, dan comment. Menumpulkan akal dan melabrak moral.

Mari menjaga dan membangun alamat terkonsentrasinya khazanah media pengetahuan yang melintasi batas ruang dan waktu ini dengan rekam jejak peristiwa berbasis nalar kritis.

Situs berbagi video dalam jaringan dan Internet pada umumnya telah menjadi jalan tol baru bagi mobilitas dan sirkulasi pengetahuan.