Tim Prabowo Pindah Markas ke Solo, Target Cegah Jokowi Menang Banyak

Presiden Jokowi meresmikan tol Solo-Ngawi di wilayah Sragen, Rabu (28/11 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
11 Desember 2018 23:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Wacana Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memindahkan markas ke Solo membuat kubu partai oposisi di Kota Bengawan kian pede. Setidaknya, mereka menargetkan bisa mengurangi selisih perolehan suara dengan Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Solo.

Ketua DPC Gerindra Kota Solo, Ardianto Kuswinarno, saat ditemui Solopos.com di Laweyan mengatakan telah mendengar wacana posko kemenangan Prabowo-Sandi di Solo. Diberitakan Solopos.com sebelumnya, pos di Solo akan dipimpin Ketua BPN Djoko Santoso.

“Kalau untuk lokasi posko kami tidak memiliki wewenang, penentuan lokasi ditentukan oleh Dewan Pimpinan Pusat Gerindra yang telah memiliki tim-tim ahli seperti purnawirawan yang tergabung di Partai Gerindra yang tentunya ahli dalam teritorial,” ujarnya.

Ardianto mengaku telah mendengar wacana itu sejak Djoko Santoso mengadakan acara Pejuang Purnawirawan Indonesia Raya (PPIR) di Kota beberapa waktu lalu. Namun, anggota Komisi IV DPRD Kota Solo tersebut belum dapat memastikan pertemuan lebih lanjut terkait realisasi posko tersebut.

“Jawa Tengah sebagai barometer, Prabowo Subianto menginginkan Gerindra dapat semakin kuat, maju dan dapat memenangkan pertarungan 2019 di Jawa Tengah khususnya. Di Solo tidak terlalu pasang target tinggi, kalau kalah pun tipis, harapannya,” ujarnya.

Sementara itu, calon legislatif DPR Dapil V Jawa Tengah Gerindra, Eko Sriyanto Galgendu, mengatakan rencana itu merupakan konsep strategis. Nantinya, tidak ada lagi posko kemenangan di Jakarta melainkan di Solo. Menurutnya, Solo strategis untuk mengamankan suara di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selain itu, katanya, Jokowi yang berasal dari Kota Bengawan menjadi sebuah nilai politik dan sosial kepercayaan masyarakat tersendiri. Solo menjadi parameter kemenangan Prabowo-Sandi, sekaligus barometer kekuatan dan kelemahan Jokowi.

Dia mengklaim berdasarkan pemetaan, Jokowi hanya memiliki suara kurang dari 70 persen di Solo. Padahal pada Pilpres 2014, suara Jokowi mencapai 90 persen.

“Kalau pun menang Jokowi tidak akan banyak, namun juga dimungkinkan Prabowo menang di Solo. Kampanye Jokowi di Solo saat ini lebih menyuarakan wong Solo nyoblos wong Solo, namun tidak menyampaikan program. Hal itu menunjukan tim Jokowi tidak percaya diri atas program yang akan menjadikan nilai tambah di Solo, yang diambil empati kedaerahan yang saya lihat seperti itu,” ujarnya.