Pengarang (yang) Pemikir

Fajar S. Pramono - Istimewa
10 Desember 2018 16:16 WIB Fajar S. Pramono Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (7/12/2018). Esai ini karya Fajar S. Pramono, peminat tema-tema sosial dan alumnus Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah fajarsp119@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Ketika membaca esai sastra di Majalah Basis Nomor 09-10, Tahun ke-65, 2016, saya tak terlampau peduli ketika Bandung Mawardi membedakan istilah ”pemikir ampuh” dan istilah ”pengarang ampuh”.

Pada artikel itu Bandung menggelari Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang meninggalkan Majalah Pandji Poestaka dan mendirikan Majalah Poedjangga Baroe dengan sebutan ”pemikir ampuh” dan hanya menyebut para penggawa Pandji Poestaka sepeninggal STA dengan istilah ”pengarang ampuh”.

Strata diksi ”pemikir” ternyata memang lebih tinggi daripada level diksi ”pengarang”. Mari melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI). Pemikir diartikan sebagai ”orang cerdik pandai yang pemikirannya dapat dimanfaatkan orang lain; filsuf”.

Pengarang ”hanya” diartikan sebatas  ”(1) orang yang mengarang cerita, buku, dan sebagainya; penulis”, dan (2) pencipta; penggubah (lagu, nyanyian, musik, dan sebagainya)”. Pada saat itu (1933) STA memang menyatakan tidak puas dengan kebijakan redaksi Pandji Poestaka tempat ia menjadi penjaga gawangnya.

STA punya mimpi bisa lebih banyak menyemai bibit sastra di dalam sebuah kebun majalah. Melalui Poedjangga Baroe, hasrat itu terpuaskan. Ia membuktikan bahwa berbagai genre penulisan sastra bisa berkembang biak di majalah, tak hanya di mulut dan di buku, atau dalam istilah Bandung: tak hanya ”bercap buku”.

Kerja keras STA pada akhirnya menjadikan Poedjangga Baroe sebagai salah satu majalah sastra terpenting dan populer saat itu. Kunci keberhasilan STA pada akhirnya kita tahu: ia memiliki kepintaran strategis untuk mewujudkan gambaran mimpinya dalam kenyataan dan tidak hanya sekadar memiliki keinginan tanpa konsep di dalam angan.

Harus Berpikir

Ingatan akan pembacaan saya atas esai sastra Bandung Mawardi itu mencuat ketika beberapa waktu lalu ada dagelan yang tak lucu dengan pelaku tunggal (setidaknya sampai saat ini) Ratna Sarumpaet. Saat ini, dagelan tak lucu itu telah menyeret Ratna Sarumpaet ke ranah hukum yang menjadikan dirinya tersangka.

Dalam nuansa kegelian yang memaksa segera saja saya menyimpulkan bahwa dalam kasus kebohongan yang hampir menggoyang keindahan demokrasi dan kerukunan bangsa kita itu, Ratna Sarumpaet hanya mampu menempatkan diri pada level ”pengarang” cerita. Dia belum bisa–bahkan masih jauh–dari tingkatan ”pemikir”.

Kalau ia mampu berpikir jernih, seharusnya ia tahu bahwa, pertama, kebohongan yang sifatnya menasional dan menjadi santapan publik akan dengan mudah diketahui kebenaran atau kesalahannya. Kecanggihan teknologi informasi saat ini memungkinkan banyak pihak bisa melakukan verifikasi, olah data, dan perbandingan data dari sumber mana pun untuk membuktikan keautentikan kisah yang disampaikan.

Kedua, ia lupa pepatah bijak yang selalu mengingatkan bahwa kebohongan harus ditutup dengan kebohongan-kebohongan berikutnya ketika ekses dari kebohongan pertama semakin membesar dan meluas.

Ketiga, bahwa dampak kebohongan yang arahnya menuju ranah politis ini bisa membahayakan keutuhan negeri ini yang dari hari ke hari terus kita bangun dengan susah payah.

Tampak nyata, Ratna Sarumpaet benar-benar tidak menambahkan unsur berpikir ketika ia mengarang cerita penganiayaan atas dirinya itu. Semua aspek logika, baik itu logika kronologis atas waktu, logika sebab-akibat atas peristiwa, logika medis atas kemunculan luka, dan logika indikatif atas sebuah motif, diabaikan secara sangat gegabah.

Tak perlu berbilang pekan atau bulan, kasus kebohongan yang berbahaya itu segera terkuak. Di situlah benar-benar terlihat perbedaan antara pemikir dan pengarang. Pemikir akan jeli berhitung atas segala dampak yang bisa timbul dari apa yang disampaikan, sementara pengarang (cerita) sah-sah saja jika hanya bertujuan membuat kisah fiksi penghibur hati.

Gaya “mengarang tanpa berpikir” demikian ini hari-hari ini terus bermunculkan dengan konteks yang bisa jadi ”lebih halus” dibandingkan kisah Ratna Sarumpaet itu. ”Mengarang tanpa berpikir” dalam dunia politik praktis memang jamak.

Sesungguhnya yang kita butuhkan di segala sisi kehidupan kita saat ini adalah pengarang yang pemikir. Tentu saja dalam konteks kebaikan karena terminologi ”pengarang yang pemikir” akan bisa berubah menjadi jauh lebih berbahaya ketika kemampuan itu digunakan untuk tujuan kejahatan.

Ketika dimanfaatkan untuk laku jahat, ”pengarang yang pemikir” justru bisa menciptakan kejahatan yang supersistematis, menyulap sebuah ketidakbenaran menjadi sebuah kebenaran, dan memutar balik fakta atas kejadian yang sesungguhnya tanpa orang sadar bahwa itu semua adalah sebuah kejahatan yang terencana. Mengerikan.

Lebaysitas” Dukungan

Kasus Ratna Sarumpaet yang menafikan proses berpikir ketika ia mengarang cerita bisa jadi didasari oleh kebenciannya yang sangat atas seseorang, dan sebaliknya: fanatisme buta terhadap seseorang yang lain. Dalam politik, ia hanya berpikir bahwa apa pun harus bisa jadi senjata menjatuhkan lawan sekaligus mendongkrak popularitas orang atau kelompok yang didukung.

Saya menyebut hal demikian ini sebagai dukungan yang berlebihan. Dukungan yang lebay. Sebagaimana segala sesuatu yang ”terlalu”, akibatnya justru kontradiktif bagi keterpenuhan tujuan atau visi dam misi gerakan.

Contoh sederhananya seperti ini: kita semua harus punya ambisi, tapi jangan ambisius. Kita semua harus punya obsesi, tapi akan berbahaya ketika kita berubah menjadi obsesif. Mengapa? Orang yang ambisius mengejar sesuatu dan obsesif menjadi sesuatu akan cenderung berani melanggar etika.

Ia juga dengan seenaknya mengangkangi aturan terpola, mengabaikan kepentingan sesama, menabrak norma, dan bahkan meninggalkan ajaran bijak agama yang dia yakini. Persis seperti kata God Bless dalam lagu Suara Kita : demi ambisi, demi kuasa, demi harta.

Lebaysitas”–mudah-mudahan Ivan Lanin sang pakar istilah dan penulis buku Xenoglosofilia (2018) itu tidak marah dengan istilah ini– menyiratkan ketidakseimbangan antara emosi dan pikiran. Persis seperti yang terjadi pada penderita skizofrenia.

Bedanya, penderita skizofrenia benar-benar memiliki kelemahan pengendalian atas emosi dan pikiran untuk segala hal dalam hidup, ”skizofrenia politik” yang diidap Ratna Sarumpaet—dan para ”pengarang tanpa berpikir” yang belakang ini masih bermunculan--sangat bersifat personal dan kasuistis.

Ia hanya dan hanya muncul ketika ia berbicara dan atau berpikir tentang bagaimana mengalahkan si anu dan memenangkan si itu dalam kontestasi politik hari ini. Itulah makanya, ia tak lagi berpikir secara pintar dan bijak, padahal pada warsa-warsa sebelumnya kita mengenal Ratna Sarumpaet sebagai perempuan pejuang hak asasi.

Dulu kita mengenal dia sebagai perempuan pejuang kesetaraan dan keadilan  dan konsisten dalam sikap itu kendati konsekuensi politik serta hukum bisa mengancam eksistensi dan kebebasan hidupnya di dalam negara. Lalu, apa yang bisa kita ambil dari kegaduhan sesaat ini?

Mungkin kata dua orang muda populis saat ini bisa kita rujuk. Najwa Shihab berkata,”Telah berlalu show politik permainan citra, sebab rakyat sudah terlatih memisah dusta dari kata.”

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bicara,”Politik itu mulia. Cara untuk memperjuangkan nilai. Politik praktis umumnya memang bising berintrik. Butuh nalar jernih dan sabar dalam menavigasinya.” Demikian. 

 

 

 

 

Kolom 58 minutes ago

Ekonomi Berkeadilan