Nh. Dini Telah Penuhi Janji

Bandung Mawardi - Dokumen Solopos
09 Desember 2018 13:56 WIB Bandung Mawardi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (6/12/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, penulis buku Berumah di Buku (2018) dan kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada saat kita berduka dengan kematian Nh. Dini, 4 Desember 2018,  kenangan yang masih terlacak mungkin memberi percik-percik kekaguman tak berkesudahan.

Dini telah memberi gelimang cerita di kesusastraan Indonesia. Ia mulai tampil saat masih gadis dan tekun menulis sampai tua. Kita mulai saja dengan membuka kliping, membuka lembar-lembar majalah yang pernah memuat cerita gubahan Dini.

Di situ pembaca biasa mendapat keterangan tentang penulis ini meski ringkas. Pada masa 1950-an, umat sastra Indonesia dikejutkan dengan kemunculan pengarang asal Semarang. Ia bernama Dini, kelahiran 29 Februari 1936.

Gadis yang memiliki hasrat bercerita dan memberi persembahan kepada pembaca. Suguhan cerita pendek mulai bermunculan di majalah-majalah sebelum Dini dikenali publik sebagai novelis. Di majalah Kisah edisi Maret 1955, Dini ditampilkan redaksi dengan data penulis ringkas dilengkapi foto.

Kita bisa menemukan keterangan di sana: Dini ketjuali penulis dan penjair, djuga peladjar dan pandu jang selalu teguh menepati djanji-djanjinja. Ia memang membuat janji bersastra sampai mati. Janji itu dipenuhi meski diakhiri peristiwa kecelakaan di jalan tol.

Di mata para pengarang dan kritikus sastra, Dini terlalu cepat matang pada situasi sastra masa 1950-an. Tiga cerita pendek terbit di Kisah pada saat Dini masih berpredikat murid kelas II di suatu SMA sastra di Semarang.

Keinginan besar menempuh jalan sastra tak berujung, bermula dari gairah membaca dan pemberian buku-buku dari bapaknya. Pada saat remaja, Dini pun sudah menguatkan niat bersastra. Di majalah Kisah, kita bisa membaca keterangan agak mencengangkan

Dini mempunjai blouse jang disulami dengan tandatangan pengarang-pengarang dan sebuah lagi bersulamkan tandatangan pelukis-pelukis. Benda itu menandai Dini bakal menjadi pengarang besar di Indonesia. Umat sastra Indonesia pun membuktika tanpa ragu.   

Pengakuan bersastra Dini bisa disimak di tulisan berjudul Naluri yang Mendasari Penciptaan. Tulisan bertahun 1981 mengumumkan detik-detik awal Dini memilih hidup di jagat cerita dan pilihan-pilihan dalam menulis di jagat kesusastraan Indonesia.

Tekun

Ia bermula menulis cerita dengan sumber pelajaran berupa buku berjudul Surat dari Raja gubahan Rabindranath Tagore. Di rumah, Dini mendapat bimbingan keluarga tapi tak lengkap. Ketekunan menulis dimulai sejak bersekolah di SMP.

Pada masa 1950-an, Dini sebagai murid SMA semakin tekun bersastra. Kemampuan mulai berubah dan naik taraf ke tema-tema serius. Dini mengenang,”Cerpen-cerpen saya sudah sejak beberapa waktu berubah tema. Dulu selalu berasal dari kemurungan hati sendiri, perihal keluarga, peristiwa lain tetapi tidak lepas dari kekeluargaan. Saya mulai merasa ketenangan yang lebih akrab dalam diri saya. Jadi saya banyak memperhatikan orang lain.”

Pada masa girang menulis cerita sewaktu SMA, sekian cerita pendek dimuat di majalah-majalah penting yang terbit di Jakarta dan Jogja. Dini tampil sebagai pencerita memikat dan teperhatikan mata para kritikus sastra. Sejak masa 1950-an, cerita pendek demi cerita pendek dan novel demi novel terbit dengan pujian dari pembaca.

Sekian buku dianggap memicu pembesaran sastra-feminis di Indonesia. Dini semakin tenar. Di jagat sastra Indonesia, ia adalah penulis yang berani menampilkan sikap keperempuanan dan sadar berada di hadapan segala pembakuan.

Dini menjelaskan,”Saya adalah pengarang. Saya adalah pengamat dan pemikir. Saya bukan pihak yang berwenang atau berkuasa mengubah keadaan... Tugas saya sebagai pengarang adalah menulis. Menulis yang selalu menyentuh hati saya, yang terpandang oleh mata saya dan dianggap oleh hati saya sebagai sesuatu yang dipilihnya.”

Pandangan kepengarangan itu mewujud dalam terbitan puluhan buku, Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Sekayu (1981).

Buku lainnya adalah Kuncup Berseri (1982), Tuleries (1982), Segi dan Garis (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Tirai Menurun (1993), Kemayoran (2000), Jepun Negerinya Hiroko (2002), Monumen (2002), Dari Parangakik ke Kampuche (2003), dan Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya (2018).    

Lantang

Ketekunan menulis dari 1950-an sampai 2018 memastikan ada pemenuhan janji-janji dalam bersastra. Kita pantas memberi pujian berbarengan dengan kemunculan para pengarang perempuan tangguh setelah Dini jadi perempuan pengarang bersuara paling lantang dalam arus kesusastraan modern di Indonesia.

Sri Rahaju Prihatmi dalam buku berjudul Pengarang-Pengarang Wanita Indonesia (1977) menganggap buku Dua Dunia mengawali persepsi pembaca pada kecenderungan estetika dan kebahasaan Dini. Di situ, Dini dianggap menggunakan bahasa ”meletup-letus dan agak demonstratif sesuai dengan usia waktu itu.”

Dini sadar atas penilaian pada bahasa. Ia pun mengaku memang masih grusa-grusu dalam berbahasa untuk penulisan cerita-cerita. Novel paling dikenang pembaca tentu Pada Sebuah Kapal. Novel itu terus dicetak ulang, mendapat ulasan kritis selama puluhan tahun.

Pada 2018, novel Pada Sebuah Kapal masih dicetak ulang untuk mengingatkan jejak novel gubahan perempuan yang pernah mengguncang sastra Indonesia pada masa 1970-an sampai sekarang. Novel bermaksud protes, bukan cerita berlagak mendidik, bernasihat, atau mengumbar ajaran.

Dini adalah nama besar dan berpengaruh. Ia tak cuma mewariskan cerita pendek dan novel. Cerita kenangan pun diberikan berdalih agar pembaca mengetahui segala hal berkaitan biografi, kota, keluarga, dan naluri bersastra.

Buku-buku cerita berisi kenangan Dini diterbitkan oleh Pustaka Jaya, sebelum beralih ke penerbit Gramedia. Cerita bermula dari rumah di Semarang. Dini mengaku sebagai penghuni yang datang terakhir dalam membeti arti rumah dan keluarga. Di Majalah Kisah, Dini pernah berkisah merasa “rumah bukan surga” gara-gara segala ketentuan dan suasana sering tak keruan.

Peristiwa di Rumah

Pada saat masih bocah, Dini mengingat peristiwa makan bersama keluarga di rumah pada  malam hari. Ingatan tercantum di buku berjudul Sebuah Lorong di Kotaku: Pada waktu makan, seperti biasa kamu tidak banyak berbicara. Kata ibuku, makanan harus dinikmati dengan diam. Kalau orang terlalu cerewet pada waktu makan, itu berarti tidak menghormati makanan yang ada di depannya. Padahal, makanan adalah kurnia Tuhan.

Peristiwa-peristiwa di rumah kadang menjadi penentu bagi Dini mencari “pembebasan” dengan membaca buku-buku dan menulis cerita-cerita mengandung protes. Di buku berjudul Kuncup Berseri, pembaca mulai mengerti titik permulaan Dini bersastra.

Buku itu memuat kenangan saat SMA. Buku pun dipersembahkan bagi ”Sekolah Menengah Atas 3A3 Semarang 1956”. Pada saat masih SMA, Dini mengadakan pergaulan seni di kalangan seni rupa dan sastra di pelbagai kota: Semarang, Solo, Jogja, dan Jakarta.

Dini mengenang saat-saat mengunjungi Jakarta dan bertemu para seniman,” Dalam jangka waktu itu pula aku bertemu dengan beberapa seniman ibu kota. Cerita pendekku yang pertama sudah dimuat di Majalah Kisah beberapa waktu sebelumnya. Sebagian kecil orang-orang kebudayaan telah mengetahui siapa aku. Lebih-lebih kaum mudanya.”

Kita bisa mengambil kenangan dari masa 1950-an untuk memastikan kita memang mengetahui dan mengenali Dini serta membaca buku-buku garapan Dini yang telah turut membentuk ”sejarah” dalam kesusastraan Indonesia abad XX dan XXI.

Kenangan-kenangan dituliskan agar tak punah. Pada buku-buku cerita kenangan, sekian pembaca dan penerbit sering menuduh itu novel. Penerbit Pustaka Jaya ingin mencantumkan keterangan di buku sebagai novel atau roman.

Dini menentang dengan argumentasi itu memang bukan novel tapi cerita kenangan. Dini memberitahukan jenis tulisan itu meniru dari tradisi penulisan di Barat dengan sebutan souvenirs. Kemauan menulis seri cerita kenangan mulai terasa bagi kita saat ingin menghormati dan mengenang Dini.