Begini Risiko Zonasi untuk Sekolah Favorit

Ilustrasi siswa SD. (Dok)
20 November 2018 18:57 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Sistem zonasi dinilai belum pasti menciptakan sekolah favorit baru. Sebaliknya, sistem ini dinilai justru berisiko.

"Sistem zonasi belum tentu efektif menciptakan sekolah-sekolah favorit baru karena pemerintah pusat hanya memberlakukan sistem zonasi tanpa memberikan input jelas sokongannya seperti apa," kata pemerhati pendidikan Robertus Budi Setiono di Jakarta, Senin (19/11/2018), seperti dilansir Antara.

Anggota Dewan Pakar Pendidikan Jakarta Timur itu menambahkan sekuat apa pun daerah dalam memberlakukan zonasi, tanpa dukungan dari pemerintah pusat maka yang diinginkan sulit tercapai. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus mempersiapkannya dengan matang.

"Tidak dalam melihat kemampuan pasar, sistem zonasi akan jadi bumerang. Sekolah favorit dan bagus akan turun kualitasnya. Sedangkan sekolah yang kualitasnya di bawah tidak meningkat."

Menurutnya, sistem zonasi memang bagus untuk pemerataan pendidikan. Namun, penerapannya harus dipikirkan agar jangan sampai mengagetkan pasar.

"Untuk menciptakan sekolah favorit baru butuh kesiapan baik [pemerintah] pusat maupun daerah. Kemendikbud harus jelas sokongannya seperti apa. Kalau enggak, daerah akan setengah hati," ucap dia.

Budi juga memberi contoh sekolah-sekolah negeri dan swasta di Jakarta Timur. Sekolah negeri dihujani berbagai fasilitas. Bahkan sarana-prasarana yang masih bagus diganti dengan baru hanya demi memenuhi penyerapan anggaran. Sebaliknya di sekolah swasta dibiarkan setengah hidup dan mati.

"Harusnya swasta seperti itu perlu mendapatkan perhatian pemerintah juga. Hal seperti ini harus diselesaikan juga," jelas dia.

Kemendikbud sejak 2017 menerapkan zonasi yang bertujuan memeratakan kualitas pendidikan dan juga distribusi guru. Penataan guru berdasarkan berapa jumlah ketersediaan guru di setiap zonasi.