Dituding Hendak Kabur, 106 Orang Rohingya Ditahan

Petugas imigrasi Myanmar menahan orang-orang Rohingya yang menumpangi perahu di perairan dekat Yangon, Myanmar, Jumat (16/11 - 2018). (Reuters/Myat Thu Kyaw)
17 November 2018 05:00 WIB Ginanjar Saputra Internasional Share :

Solopos.com, YANGON — Otoritas imigrasi Myanmar menahan 106 orang etnis Rohingya yang menumpangi kapal di lepas pantai Yangon, Myanmar, Jumat (16/11/2018). Penahanan 106 orang Rohingya itu dilakukan setelah munculnya kekhawatiran gelombang baru pengungsi Rohingya yang kabur dari Rakhine, Myanmar melalui jalur laut.

Perahu yang membawa 106 orang itu dihentikan di pagi hari sekitar 30 km selatan Yangon. Salah satu pejabat imigrasi di Myanmar, Kyaw Htay, curiga 106 orang Rohingya itu akan kabur dari Myanmar seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Ada kemungkinan bahwa mereka berasal dari Rakhine. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mungkin mereka Bengali dari Rakhine," kata Kyaw Htay kepada Reuters.

Banyak orang di Myanmar menyebut Rohingya sebagai Bengali, menyiratkan bahwa mereka adalah imigran gelap dari Bangladesh. Reuters menyebut Myanmar tidak menganggap Rohingya sebagai kelompok etnis pribumi.

Sementara itu, seorang anggota parlemen Partai Liga Nasional Demokrasi (NLD) wilayah Kyauktan, Myanmar, Aye Mya Mya Myo, melalui akun Facebooknya, mengunggah foto yang menunjukkan perahu reyot yang penuh sesak dengan wanita mengenakan jilbab, pria, dan anak-anak. Pada beberapa gambar, petugas polisi memeriksa orang-orang dari perahu.

Aye mengatakan ada 50 pria, 31 wanita, dan 25 anak-anak di perahu. Perahu tersebut memang menyerupai perahu Rohingya yang biasanya digunakan untuk melarikan diri dari Rakhine, tempat di mana mereka ditindas.

Pekan lalu, sejumlah pejabat dan pekerja kemanusiaan setempat mengungkapkan kepada Reuters bahwa puluhan warga Rohingya di Myanmar dan Bangladesh berupaya kabur ke wilayah Malaysia dengan kapal setelah musim penghujan berakhir pada awal Oktober.

Sedangkan para pengamat memperingatkan akan lebih banyak warga Rohingya memilih perjalanan lebih singkat dan murah dengan melewati pantai Teluk Benggala menuju Yangon karena rute penyelundupan ke Thailand telah terbongkar, cenderung berbahaya, dan mahal.

Kebanyakan warga Rohingya memang memilih untuk kabur via laut antara bulan November hingga Maret saat lautan tenang. Selama beberapa tahun terakhir, perjalanan berbahaya menuju Thailand dan Malaysia dengan kapal yang kelebihan muatan, telah memicu banyak korban tewas.

Menurut data PBB yang dikutip Reuters, lebih dari 700.000 orang Rohingya telah melarikan diri dari serangan militer di Rakhine, Myanmar pada 2017 lalu. Pihak Rohingya mengatakan tentara dan umat Buddha setempat membantai keluarga, membakar ratusan permukiman, dan melakukan pemerkosaan. Para penyelidik yang diamanatkan PBB telah menuduh tentara Myanmar melakukan pembantaian etnis.

Sementara itu, pihak Myanmar menyangkal hampir semua tuduhan tersebut dan mengatakan pasukan keamanannya tengah memerangi teroris. Serangan gerilyawan Rohingya yang menyebut diri mereka Arakan Rohingya Salvation Army dianggap sebagai pemicu penindasan tersebut.