Krisis Kemanusiaan di Yaman Terburuk Selama 100 Tahun Terakhir

Reruntuhan bangunan akibat perang di Yaman (Reuters)
17 November 2018 00:00 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, HODEIDAH – Perang berkepanjangan di Yaman membuat kehidupan rakyat sengsara. Krisis kemanusiaan tersebut sangat memprihatinkan dan menuai simpati sejumlah pihak. Bahkan, krisis itu disebut sebagai bencana kemanusiaan terburuk di dunia selama 100 tahun terakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP), David Beasley, setelah berkunjung ke Yaman. Menurutnya, krisis kemanusiaan di Yaman sudah sangat memprihatinkan dan harus segera ditangani.

Dikutip dari BBC, Jumat (16/11/2018), pernyataan David Beasley didasari laporan WFP tentang jumlah warga Yaman yang kelaparan. Jumlahnya diperkirakan mencapai 12-14 juta jiwa atau hampir 50 persen dari total penduduk Yaman. Menurut David Beasley, tidak ada jalan lain mengatasi krisis tersebut kecuali dengan mengakhiri perang.

"Situasinya gawat dan bantuan kemanusiaan tidak akan pernah cukup untuk mengatasi semua masalah ini. Kondisi ekonomi yang memburuk tidak akan mampu menyediakan lapangan pekerjaan. Jumlah uang tunai terbatas. Dan persediaan pangan semakin menipis," demikian pernyataan dari David Beasley.

Dikutip dari Reuters, koalisi pimpinan Arab Saudi telah menghentikan penyerangan terhadap pemberontak Houthi di Pelabuhan Hodeidah, Yaman. Hal ini dilakukan di tengah kuatnya tekanan dunia internasional untuk gencaran senjatan senjata di Yaman.

Sejumlah sekutu Arab Saudi dari negara Barat, termasuk Amerika Serikat, mendesak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan perundingan damai untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di Yaman. Utusan PBB, Martin Griffiths, sedang berusaha menyelamatkan pembicaraan damai di antara pihak-pihak yang berseteru di Yaman yang sebelumnya sempat gagal dilakukan pada September 2018 lalu.