Masa Bercadar Serang Sedekah Laut, Spanduk Penolakan Syirik Terpasang di Bantul

Spanduk yang terpasang di kawasan Pantai Baru, Srandakan, Bantul. (Suara.com/Istimewa)
16 Oktober 2018 07:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, BANTUL -- Spanduk berisi penolakan kegiatan syirik berbalut budaya terpasang di kawasan Pantai Baru, Srandakan, Bantuk, DI Yogyakarta. Spanduk penolakan itu terpasang pascapenyerangan uba rame Sedekah Laut yang dilakukan massa bercadar, Jumat (13/10/2018).

Aksi perusakan itu mengakibatkan acara Sedekah Laut yang sedianya digelar Sabtu (14/10/2018) dibatalkan. Massa bercadar merusak uba rampe acara Sedekah Laut di Pantai Baru, Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul, Yogyakarta.

Hingga Minggu (16/10/2018) polisi telah menangkap 9 orang yang diduga terlibat penyerangan. Sebagaimana dikutip dari Suara.com, Senin (15/10/2018), spanduk yang terpasang bertuliskan melarang sedekah laku karena dituduh syirik.

Spanduk itu bertuliskan "Kami menolak bentuk kesyirikan berbentuk budaya. Sedekah Laut atau selainnya!".

Petugas Kepolisian Polres Bantul Dalija mengatakan peristiwa Jumat pukul 23.30 WIB hanya berlangsung sekitar lima belas menit. Ia melanjutkan, saat kejadiaan massa ada yang mengggunakan cadar ada yang tidak, beberapa diantaranya ada yang membawa senjata tajam.

"Dilihat dari pengrusakanya ada yang bawa senjata tajam," terangnya.

Dalija mengatakan ada sekitar 70 orang yang datang. Setelah merusak fasilitas para pelaku memasang spanduk bertuliskan "Kami Menolak Semua Kesyirikan Berbalut Budaya Sedekah Laut atau Selainnya," yang dibuat oleh Aliansi PETA yang kemudian ada tulisan Tauhid First

"Pasang spanduk tiga biji, pas kejadian ada yang pasang spanduk ada yang hancurkan sekitar 70 orang," ungkap Dalija.

Rusak Penjor
Dalam penyerangan itu, massa bercadar juga merusak penjor (hiasan gapura tenda) dan mengambil banner Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro.

Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro merupakan suami dari Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi (Pembayun) putri pertama Sultan Hamangkubuwono X. KPH Wironegoro merupakan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (HSNI DIY)

Suyanto, 40, mengatakan spanduk yang bertuliskan selamat datang Gusti Wironegoro itu telah diambil saat proses penyerangan.

"Iya diambil. Yang ambil ya mereka wong itu diganti spanduk mereka," ujar Suyanto selaku Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Bantul.

Ia juga menyatakan proses penyerangan terlalu cepat sehingga tidak diketahui para pelaku pengrusakan tersebut. Ketika dirinya datang para pelaku sudah kabur dari Pantai Baru.

Yanto juga mengatakan saat proses penyerangan terjadi banner betuliskan menolak syirik atas nama budaya terpampang di sudut-sudut pantai. "Habis penyerangan langsung pasang spanduk soal kesirikan," ujar Suyanto.

Lebih lanjut Yanto menambahkan sehari setelah kejadian Gusti Kanjeng Wironegoro langsung datang menemuinya kemudian menyatakan turut prihatin atas kejadian penyerangan tersebut.

"Langsung datang siangnya, habis itu menyatakan turut prihatin dab sedih atas insiden tersebut," ujar Suyanto menirukan ucapan Gusti Kanjeng Wironegoro

Sampai kini lokasi penyerangan tidak mendapat pengamanan khusus. "Nggak ada pengaman khusus gak mungkin mereka balik lagi. Pengamanan nggak ada dtingkatkan," ujar Dalija saat melakukan pemantauan di Pantai Baty.

Sumber : Suara.com