Presiden Venezuela Enggan Hadiri Sidang PBB Takut Dibunuh

Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Reuters/Marco Bello)
20 September 2018 02:00 WIB Ginanjar Saputra Internasional Share :

Solopos.com, CARACAS — Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, enggan menghadiri Sidang Tahunan Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat (AS), yang digelar selama sepekan, 18 September 2018 hingga 25 September 2018. Ia beralasan takut dibunuh oleh musuh-musuh politiknya jika pergi ke New York.

Dilaporkan Reuters, Rabu (19/9/2018), orang nomor wahid di negara yang sedang didera krisis ekonomi tersebut mengaku sebenarnya ingin menghadiri Sidang Tahunan Majelis Umum PBB. "Kalian tahu mereka ingin membunuh saya. Saya ingin pergi ke New York, namun saya harus menjaga keamanan diri sendiri," ungkapnya saat konferensi pers.

Sayangnya, Maduro tak mengungkapkan secara terperinci sosok musuh politik yang ia bilang akan membunuhnya. Yang pasti, Maduro menegaskan tak ingin keselamatannya terancam jika menghadiri Sidang Tahunan Majelis Umum PBB.

Sang presiden Venezuela juga mengatakan ada mantan perwira militer Venezuela yang berskongkol untuk menggulingkan pemerintahnya. Ia juga menuding mantan perwira Venezuela itu mendapatkan bantuan dari Amerika Serikat untuk mengudeta pemerintahannya.

Maduro sebenarnya bukan hanya kali ini tak mendatangi Sidang Tahunan Majelis Umum PBB. Pemimpin Venzuela itu, menurut Reuters, bahkan tak pernah hadir di Sidang Tahunan Majelis Umum PBB sejak 2015.

Di samping itu, kekhawatiran Maduro tentang keselamatannya memang wajar mengingat pada Agustus lalu, dua pesawat tak berawak meledak di Caracas, dekat tempat Maduro saat berpidato. Kejadian itu melukai tujuh tentara dan menyebabkan penangkapan lebih dari selusin tersangka, termasuk beberapa pejabat militer. Maduro menganggapnya sebagai upaya pembunuhan.

The New York Times melaporkan para pejabat AS telah bertemu dengan perwira militer Venezuela yang memberontak, 8 September lalu. Hal itu membuat Maduro menuding pemerintahan AS pimpinan Donald Trump tengah mengumpulkan tenaga untuk mengudetanya.

Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional AS menganggap tindakan para pejabat AS yang bertemu dengan perwira militer Venezuela tersebut sebagai langkah AS untuk mengembalikan demokrasi yang damai dan teratur di Venezuela.