Bom Bunuh Diri Ancam Kaum Minoritas di Afghanistan

Kaum Sikh membawa peti mati korban bom bunuh diri (Reuters/Parwiz)
04 Juli 2018 05:10 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, KABUL – Serangan bom bunuh diri terjadi di Kota Jalalabad, timur Afghanistan, Minggu (1/7/2018). Ledakan itu menewaskan sekitar 19 orang yang sebagian besar merupakan penganut kepercayaan minoritas di Afghanistan, kaum Sikh.

Dikutip dari New York Times, Selasa (3/7/2018), menurut keterangan polisi, para korban adalah rombongan yang hendak menemui Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani. Saat serangan bom bunuh diri terjadi, Presiden Ashraf Ghani tengah mengunjungi Provinsi Nangarhar.

Dikutip dari BBC, salah satu korban meninggal dunia, Awtar Singh Khalsa, merupakan kandidat satu-satunya dari Sikh yang akan berpartisipasi dalam pemilihan umum parlemen Afghanistan pada Oktober 2018.

Ledakan itu terjadi beberapa jam setelah Presiden Ashraf Ghani meresmikan rumah sakit baru di Jalalabad, Afghanistan. Juru bicara pemerintah setempat mengatakan ledakan itu menyebabkan sejumlah bangunan rusak.

Kepala Kepolisian Nangarhar, Ghulam Sanayi Stanekzai, mengatakan, ledakan itu disebabkan oleh seorang pengebom bunuh diri. Pengebom tersebut menargetkan kendaraan yang membawa rombongan orang Sikh untuk bertemu Presiden.

Sampai saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut. Namun, kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melalui pernyataan yang dilansir Amaq mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri tersebut. Namun, mereka tidak memberikan bukti apapun yang membenarkan klaim tersebut.

Sebagai informasi, kaum Sikh merupakan minoritas di Afghanistan. Mereka yang menganut agama Hindu mendapatkan jatah satu kursi di parlemen Afghanistan. Namun, kini jumlah kaum Sikh semakin menurun seiring dengan meningkatnya penganiayaan dan ancaman. Sebagian dari mereka memilih pindah ke India untuk menjalani kehidupan yang damai.